VISI.NEWS | KAB. BANDUNG – Upaya membangun kesadaran politik generasi muda terus didorong melalui pendekatan yang lebih inklusif dan relevan. Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Humaira Zahrotun Noor, berkolaborasi dengan Pimpinan Cabang (PC) IPNU dan IPPNU Kabupaten Bandung menggelar kegiatan ‘Ngobrol Demokrasi Bersama Humaira (Halal Bihalal IPNU IPPNU)’, di Sa’ad Coffe, Kabupaten Bandung, Jumat (17/4/2026).
Kegiatan ini diikuti oleh kader IPNU-IPPNU dan pelajar dari berbagai wilayah, dengan mengusung tema ‘Politik Ramah Gen Z: Merajut Ruang Aman di Tengah Krisis Ekologis.’ Forum dikemas dalam bentuk dialog terbuka antara narasumber dan peserta, guna mendorong keterlibatan aktif generasi muda dalam isu demokrasi dan lingkungan.
Dalam dialog tersebut, Humaira menegaskan bahwa generasi muda perlu mengambil peran dalam kehidupan demokrasi, terutama dalam merespons krisis ekologis yang kian dirasakan.
“Generasi muda tidak bisa hanya menjadi penonton. Kita harus mulai mengambil peran, minimal dengan memahami isu dan berani menyuarakan hal-hal yang penting. Politik bisa menjadi ruang kontribusi yang sehat jika dijalankan dengan kesadaran,” ujar Humaira.
Ia juga menekankan pentingnya menghadirkan ruang demokrasi yang aman dan inklusif bagi Gen Z, agar partisipasi dapat tumbuh tanpa tekanan maupun polarisasi.
Ketua PC IPNU Kabupaten Bandung, Lutfi Maulana Muhamad, menyebut kegiatan ini sebagai upaya menghadirkan ruang dialog yang lebih dekat dengan pelajar.
“Kita ingin politik tidak lagi terasa jauh atau menakutkan. Lewat forum seperti ini, kita buktikan bahwa politik bisa dibicarakan dengan santai, terbuka, tapi tetap berbobot. Karena kebijakan publik, termasuk soal lingkungan, itu bagian dari politik yang berdampak langsung ke kita,” ungkap Lutfi.
Menurutnya, IPNU memiliki tanggung jawab untuk mendorong kader agar tidak apatis, melainkan mulai membangun kesadaran kritis terhadap isu-isu strategis.
Sementara itu, Ketua PC IPPNU Kabupaten Bandung, Anisa Nurhasanah, S.Pd, menegaskan pentingnya keterlibatan pelajar, termasuk perempuan, dalam ruang dialog publik.
“Pelajar, termasuk perempuan, harus berani hadir dan terlibat. Kita tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga bagian dari solusi. Isu lingkungan dan sosial adalah tanggung jawab bersama,” tutur Annisa.
Kegiatan berlangsung dinamis dengan antusiasme tinggi peserta dalam sesi diskusi dan tanya jawab. Berbagai isu mengemuka, mulai dari kesadaran politik pelajar hingga tantangan nyata krisis lingkungan yang dihadapi generasi muda saat ini.
Melalui kolaborasi ini, diharapkan lahir generasi pelajar yang lebih kritis, partisipatif, serta memiliki kepedulian terhadap isu demokrasi dan keberlanjutan lingkungan, sekaligus menjadikan dialog sebagai budaya dalam merespons tantangan zaman.