Search
Close this search box.

iPhone Lebih Mahal Akibat Tarif Trump, Saham Apple Jatuh 20%

Apple store di Bangkok./visi.news/pinterest.

Bagikan :

VISI.NEWS | AMERIKA SERIKAT – Apple saat ini tengah menghadapi tekanan besar akibat kebijakan tarif impor baru dari Presiden AS Donald Trump, yang memberikan pukulan telak bagi raksasa teknologi ini. Kondisi ini makin rumit karena Apple juga mengalami penurunan penjualan di pasar smartphone terbesar dunia, yaitu China.

Sepanjang tahun 2024, penjualan iPhone turun sebesar 12,6% dibanding tahun sebelumnya. Di saat Apple tengah mencari strategi baru untuk meningkatkan penjualan, kebijakan tarif Trump justru menambah beban.

Menurut analisis dari UBS, penerapan tarif impor ini dapat menyebabkan harga iPhone 16 Pro Max naik hingga US$ 350 (sekitar Rp 5,84 juta) di Amerika Serikat. Dengan demikian, harga ponsel tersebut bisa mencapai sekitar Rp 26 juta, naik dari harga sebelumnya yang berada di kisaran Rp 20 juta.

Jika produksi iPhone dialihkan ke India, harga varian Pro-nya pun tetap akan naik sekitar US$ 120. Secara global, JPMorgan memperkirakan Apple akan menyesuaikan harga produknya dengan kenaikan sekitar 6%.

Akibat pengumuman tarif tersebut, saham Apple anjlok hingga 20% hanya dalam waktu tiga hari, menyebabkan hilangnya kapitalisasi pasar sebesar US$ 640 miliar.

“Berdasarkan pemantauan kami di level perusahaan, banyak ketidakpastian soal kenaikan biaya produksi bakal ditanggung bersama dengan pemasok, sejauh apa bisa diteruskan ke konsumen, dan jangka waktu tarif,” ujar Sundeep Gantori dari UBS.

Sebagian besar produksi Apple memang masih berpusat di China, yang kini dikenakan tarif sebesar 54% oleh Trump. Negara lain seperti India, Vietnam, dan Thailand juga terkena imbas dengan tarif tinggi.

UBS menyebut bahwa ketidakpastian soal bagaimana pembagian biaya antara Apple dan pemasok, serta kemampuan untuk meneruskan kenaikan harga ke konsumen, menjadi persoalan utama saat ini. @ffr

Baca Berita Menarik Lainnya :