Oleh Drajat
- Guru
- Doktor Ilmu Pendidikan
- Wasekjen Komnasdik
- Hipnoterapis Transformasi Indonesia
- Mindshaper Nusantara
- APKS PGRI Prov. Jabar
ADA satu kalimat yang sering kita dengar, bahkan hampir menjadi mantra dalam diskursus kebangsaan: maju mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh pendidikannya. Kalimat itu benar. Terlalu benar. Namun justru karena terlalu sering diucapkan, ia perlahan kehilangan daya gugat.
Kita mengulangnya, tetapi tidak benar-benar menjadikannya arah. Kita meyakininya, tetapi tidak sungguh-sungguh menindaklanjutinya. Akibatnya, pendidikan tetap berjalan tetapi tidak benar-benar bergerak. Dan jika kita ingin jujur, gejala itu paling nyata terlihat di sekolah.
Sekolah seharusnya menjadi ruang tumbuh. Tempat di mana ide berkembang, kreativitas lahir, dan karakter dibentuk. Namun dalam banyak kasus, sekolah justru berubah menjadi ruang rutinitas. Jam masuk, mengajar, pulang. Administrasi selesai, laporan dikirim, kegiatan dianggap selesai. Tidak ada yang benar-benar salah. Tetapi juga tidak ada yang benar-benar hidup. Pembelajaran berjalan, tetapi tidak menggugah. Kegiatan ada, tetapi tidak bermakna. Dan di sinilah kita perlu bertanya: apakah ini yang kita sebut pendidikan?
Pemimpin Pendidikan yang Kehilangan Arah
Jika ditarik lebih dalam, persoalan ini tidak bisa dilepaskan dari kepemimpinan di sekolah. Kepala sekolah seharusnya menjadi motor penggerak. Ia bukan sekadar pengelola administrasi, tetapi pemimpin pembelajaran. Ia menentukan arah, membangun budaya, dan menciptakan iklim yang memungkinkan guru berkembang. Namun kenyataannya, tidak sedikit kepala sekolah yang justru terjebak dalam peran formalitas. Jabatan dijalankan, tetapi visi tidak terasa. Program ada, tetapi tidak berdampak. Mereka sibuk menjaga loyalitas ke atas, tetapi lupa membangun kekuatan ke dalam. Semua menunggu arahan. Semua menunggu instruksi. Tidak ada keberanian untuk bergerak. Di titik ini, sekolah tidak lagi menjadi pusat inovasi, tetapi sekadar perpanjangan tangan birokrasi.
Fenomena ini mengingatkan pada satu metafora sederhana: menjadi ekor harimau. Terlihat besar, karena bagian dari sesuatu yang besar. Namun tidak memiliki kendali. Hanya mengikuti arah, tanpa menentukan tujuan. Banyak pemimpin pendidikan yang tanpa sadar berada di posisi ini. Mereka merasa aman karena berada dalam struktur, tetapi kehilangan keberanian untuk berpikir mandiri. Apa pun yang datang dari atas diterima. Apa pun yang diperintahkan dijalankan. Tanpa pertanyaan. Tanpa penyesuaian. Tanpa kreativitas. Akibatnya, sekolah menjadi stagnan. Tidak salah, tetapi juga tidak berkembang.
Yang lebih memprihatinkan, kondisi ini berdampak langsung pada guru. Di banyak sekolah, guru sebenarnya memiliki potensi besar: ide kreatif, metode pembelajaran inovatif, dan semangat untuk berkembang. Namun potensi itu sering kali tidak mendapatkan ruang. Ada guru yang ingin mencoba pendekatan baru, tetapi dianggap “tidak sesuai kebiasaan.” Ada guru yang ingin membuat program kreatif, tetapi ditahan dengan alasan “belum ada arahan.” Pada akhirnya, guru memilih aman. Mengajar secukupnya. Menjalankan tugas seadanya. Bukan karena tidak mampu, tetapi karena tidak diberi kesempatan. Di sinilah ironi itu terasa sangat dalam: mutiara ada, tetapi disimpan.
Tidak sedikit sekolah yang terjebak dalam pola one man one show. Segala sesuatu berpusat pada satu orang kepala sekolah. Semua keputusan diambil sendiri. Semua program ditentukan sendiri. Semua arah ditentukan sendiri. Guru hanya pelaksana.
Model seperti ini mungkin terlihat efektif dalam jangka pendek, tetapi dalam jangka panjang sangat berbahaya. Karena sekolah bukan panggung individu. Ia adalah ekosistem. Dan ketika ekosistem itu tidak diberi ruang untuk tumbuh, maka yang terjadi adalah: minim inovasi, rendah kolaborasi, dan hilangnya rasa memiliki. Sekolah berjalan, tetapi tidak berkembang.
Ketika kepemimpinan kehilangan visi, dan guru kehilangan ruang, maka yang terjadi adalah satu hal: sekolah tanpa arah. Tidak ada tujuan yang jelas. Tidak ada identitas yang kuat. Tidak ada semangat yang menggerakkan. Yang penting berjalan. Yang penting tidak bermasalah. Yang penting aman. Namun pendidikan tidak pernah dibangun dari rasa aman. Ia dibangun dari keberanian.
Kita sering berbicara tentang Generasi Emas 2045. Sebuah visi besar yang membanggakan. Namun visi tidak cukup. Ia membutuhkan sistem yang mendukung. Jika sekolah-sekolah kita hari ini: tidak kreatif, tidak inovatif, dan tidak memberikan ruang bagi guru maka sulit berharap hasil yang berbeda. Alih-alih generasi emas, yang muncul justru generasi cemas: cemas menghadapi perubahan, cemas mengambil keputusan, dan cemas keluar dari zona nyaman. Karena sejak awal, mereka tidak dibiasakan berpikir mandiri.
Perubahan harus dimulai dari kepemimpinan. Kepala sekolah perlu kembali pada esensi: bukan sekadar mengelola, tetapi memimpin, bukan sekadar menjalankan, tetapi menggerakkan. Memberi ruang kepada guru. Mendorong kreativitas. Membangun budaya kolaboratif. Sekolah harus menjadi tempat yang hidup. Tempat di mana ide tidak dibatasi, tetapi difasilitasi.
Di sisi lain, guru juga perlu mengambil peran. Meskipun sistem belum ideal, guru tetap memiliki ruang di kelasnya. Di sanalah: kreativitas bisa dimulai, inovasi bisa dicoba, dan perubahan bisa dirintis. Tidak perlu menunggu sistem sempurna untuk mulai bergerak. Karena perubahan besar sering dimulai dari langkah kecil.
Pada akhirnya, setiap sekolah dihadapkan pada pilihan: Menjadi sekolah yang sekadar berjalan, atau sekolah yang benar-benar bergerak. Menjadi bagian dari sistem tanpa arah,
atau menjadi ruang yang memberi arah. Pendidikan tidak akan pernah maju jika hanya dijalankan. Ia harus dipimpin. Dan kepemimpinan itu tidak hanya tentang jabatan, tetapi tentang keberanian. Keberanian untuk berpikir. Keberanian untuk berbeda. Keberanian untuk memberi ruang. Karena jika sekolah terus berjalan tanpa arah, maka yang hilang bukan hanya kualitas pendidikan, tetapi masa depan generasi. Dan itu adalah harga yang terlalu mahal untuk dibayar.**