VISI.NEWS | PAPUA — Tragedi penembakan pesawat milik Smart Air di Bandara Koroway Batu kembali mengguncang dunia penerbangan nasional. Di balik duka atas gugurnya dua awak pesawat, Ikatan Pilot Indonesia (IPI) menegaskan bahwa peristiwa ini menjadi alarm keras bagi negara untuk memperkuat perlindungan terhadap insan penerbangan yang bertugas di wilayah rawan.
Dewan Kehormatan Penerbang IPI, Kapten Rama Noya, menyatakan keamanan penerbangan di Papua bukan sekadar isu teknis, melainkan menyangkut tanggung jawab negara dalam menjaga objek vital nasional. Ia meminta pemerintah bersama Komite Nasional Keamanan Penerbangan (KNKP) memastikan jaminan keselamatan bagi pilot dan awak pesawat yang melayani rute-rute terpencil.
“Kami mengimbau semua pihak, baik TNI/Polri maupun masyarakat adat Papua, untuk bersama-sama menjaga keselamatan pilot yang telah memberikan pelayanan kepada masyarakat,” kata Rama dalam keterangannya di Tangerang, Kamis (12/2).
Menurutnya, tragedi yang menewaskan Kapten Enggon dan kopilot Kapten Baskoro merupakan peristiwa fatal yang tidak boleh terulang. Ia menegaskan bahwa penerbangan perintis memiliki peran vital dalam menopang kehidupan masyarakat Papua, mulai dari distribusi logistik, bahan pangan, hingga akses layanan kesehatan.
“Kami meminta penanganan yang lebih serius karena kejadian ini sangat fatal dan kami tidak ingin hal seperti ini terjadi lagi,” ujarnya.
IPI, lanjut Rama, telah lama mendorong pembenahan sistem keamanan penerbangan di Papua. Pada 2022, organisasi tersebut menggelar seminar keamanan penerbangan di Jayapura yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan dan menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis. Namun, ia menilai implementasinya masih belum optimal.
“Kami pilot sipil memberikan pelayanan. Karena itu kami minta keamanannya dijaga. Sebagian rekomendasi kami sudah dipenuhi pemerintah, tetapi masih ada kekurangan,” tegasnya.
Insiden terjadi saat pesawat Smart Air yang mengangkut 13 penumpang ditembaki ketika mendarat sekitar pukul 11.00 WIT di Bandara Koroway Batu, Papua Selatan. Aparat keamanan langsung melakukan pengamanan lokasi serta olah tempat kejadian perkara.
Kepala Operasi Satgas Damai Cartenz, Faizal Rahmadani, menyampaikan proses evakuasi kru dilakukan setelah situasi dinyatakan aman. “Evakuasi kru dijadwalkan dilakukan Kamis (12/2), didahului pengamanan dan olah tempat kejadian perkara oleh tim satgas,” ujarnya.
Peristiwa ini kembali menegaskan rapuhnya keamanan penerbangan di wilayah konflik. Di tengah kebutuhan mendesak akan konektivitas udara di daerah terpencil, para pilot kini berharap negara benar-benar hadir memberikan kepastian perlindungan, agar tugas kemanusiaan yang mereka emban tidak lagi dibayangi ancaman senjata. @kanaya