Jangan Menyusahkan yang Sudah Meninggal

Silahkan bagikan

Oleh Idat Mustari

SATU ketika  Nabi Isa As menasihati murid-muridnya. saat malaikat penjaga surga ketika berjalan-jalan mengontrol taman surga bertemu dengan dua orang yang tengah bercanda. Suasana menjadi ceria saat malaikat datang dan ikut bergabung.

Di tengah suasana ceria itu, penduduk surga teringat akan anak cucunya yang masih hidup, kemudian dia meminta tolong kepada malaikat, “Hai sahabat kami malaikat yang baik, tolonglah kami dibukakan jendela surga ini barang sejenak karena kami ingin melihat keadaan anak cucu kami yang masih tinggal di bumi”. Begitu pinta mereka. “Baiklah,” kata malaikatmalaikat, “Silahkan kalian berdua berdiri dekat jendela surga untuk kami bukakan sejenak”.

Demikianlah, setelah dua penghuni surga tersebut melihat dunia tidak lebih dari 5 menit, tiba-tiba suasana ceria yang penuh canda tiba-tiba salah seorang dari mereka menjadi sedih dan menangis pilu, sementara yang lainnya tampak ceria. Lalu malaikat bertanya padanya, “Hai kawan, ceritakanlah apa yang terjadi dengan keluargamu, aku sudah menuruti permintaanmu untuk membukakan jendela surga, mestinya engkau gembira setelah melihat keadaan keluarga yang engkau tinggalkan, tapi nyatanya engkau malah kelihatan sangat bersedih. Apa yang kau lihat dan apa yang bisa aku bantu untuk meringankan penderitaanmu ?”.

Lalu orang tersebut menuturkan kepedihannya. Katanya, ketika dia mengintip dunia dari jendela surga ternyata anak-anaknya tengah berebut warisan yang dia tinggalkan. Tidak hanya berebut, bahkan gara-gara warisan itu mereka saling bermusuhan, saling menggugat di pengadilan, dan pada bersumpah untuk tidak saling mengenal (memutuskan silaturahmi).

Dalam sebuah riwayat dijelaskan mengenai kesedihan orang tua karena perbuatan dosa yang dilakukan sang anak. Hal tersebut sebagaimana tertulis dalam Al-Wadul Haq yang dikutip oleh Dr. Umar Abdul Kafi.

Baca Juga :  BK Award untuk Memotivasi dan Tingkatkan Kinerja Anggota Dewan Jabar

Ketika itu Rawabah bin Abdullah berkata: “Setiap kali melakukan kebaikan, aku melihat ayahku tersenyum di dalam mimpiku”.

Ayahnya lantas berkata:
“Semoga Allah Ta’ala memuliakanmu dengan kebaikan. Engkau telah memuliakan aku di antara para penghuni kubur”.

Beberapa saat kemudian Rawabah absen dalam kebaikan dan justru lebih banyak melakukan perbuatan dosa. Rawabah pun melihat kondisi ayahnya dalam keadaan yang berbeda. “Aku melihat ayahku menggigit jari-jemarinya”.

Sang ayah lalu bertutur yang berbeda : “Engkau telah membuatku sedih, anakku. Jangan kau ulangi lagi, karena aku tidak berani bertemu dengan para penghuni kubur lainnya (lantaran rasa malu)”.

Ternyata nu hirup nyusahkeun nu maot, yakni ketika anak-anak dari yang meninggal (orangtua) itu berebut warisan,  bertengkar, dan melakukan perbuatan maksiat tanpa enggan bertobat.

Semoga saja kita ditakdirkan jadi anak-anak yang soleh, yang tidak menyusahkan yang meninggal.

(Penulis, pemerhati masalah sosial dan agama)

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

BPBD Kab. Pangandaran Uji Aktifasi Sirine Tsunami

Jum Agu 27 , 2021
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pangandaran telah melaksanakan Uji Aktifasi Sirine Tsunami dan penggunaan aplikasi SIRITA. Sedikitnya 4 sirine warning tsunami telah di pasang, yaitu di Kantor Balawista Pantai Pangandaran, Kantor Telkom Pangandaran, Kantor Kecamatan Pangandaran, serta di Bojongsalawe Parigi. Namun ada beberapa sirine yang tidak […]