VISI.NEWS | BANDUNG – Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI) baru-baru ini memperkenalkan program pelatihan kepemudaan dengan pendekatan yang sangat berbeda dari biasanya, yaitu Program Prakarsa Muda. Program yang dilaksanakan pada 15–19 Desember 2025 di Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung, ini memiliki tujuan untuk membentuk wirausaha sosial yang mampu memberikan dampak langsung bagi masyarakat dalam waktu singkat, hanya dalam lima hari. Berbeda dengan pelatihan konvensional yang lebih banyak berfokus pada ceramah di dalam kelas, Prakarsa Muda mengusung konsep *live-in* di pedesaan, di mana para peserta tidak hanya belajar, tetapi juga langsung bekerja bersama masyarakat desa untuk memahami masalah sosial yang terjadi dan mencari solusi praktis.
Program ini diselenggarakan oleh Yayasan Pendidikan Alfani bekerja sama dengan Bidang Kepemudaan DreamseedID, yang bertujuan untuk menantang anak muda agar dapat menciptakan produk sosial yang bermanfaat dan berkelanjutan. Sebanyak 42 peserta terpilih dari total 750 pendaftar dari seluruh Indonesia mengikuti program ini. Para peserta berasal dari berbagai latar belakang pendidikan, mulai dari pelajar, mahasiswa, fresh graduate, hingga lulusan magister. Mereka dipilih karena memiliki potensi untuk berkontribusi dalam menciptakan solusi sosial yang inovatif.
Selama lima hari pelatihan intensif, peserta dibagi menjadi empat peran strategis: Inisiator, Kreator, Teknokrat, dan Rangers. Pembagian peran ini dimaksudkan untuk menciptakan kolaborasi antar peserta dalam membangun ekosistem wirausaha sosial yang efektif dan sesuai dengan kebutuhan nyata di lapangan. Setiap kelompok bertugas merancang, mengembangkan, dan mengimplementasikan produk sosial yang akan langsung diterapkan di masyarakat. Salah satu aspek yang membedakan Prakarsa Muda adalah keterlibatan langsung peserta dalam menyelesaikan masalah sosial dengan pendekatan yang berbasis pada pengamatan langsung di desa.
Yang menarik dari program ini adalah partisipasi peserta yang datang dari berbagai daerah di luar Bandung Raya. Tercatat, 10 peserta datang dari kota-kota yang jauh seperti Bekasi, Jakarta, Situbondo, Bangka Belitung, dan Yogyakarta. Hal ini menunjukkan betapa besar minat dan daya tarik Program Prakarsa Muda yang tidak hanya terbatas pada wilayah lokal, tetapi juga menyasar peserta dari berbagai penjuru Indonesia yang tertarik untuk mengasah kemampuan sosial mereka dan berkontribusi langsung dalam masyarakat.


Ketua Pelaksana Program Prakarsa Muda, Refki Rizki Alfani, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk menjawab kebutuhan anak muda yang ingin belajar dengan cara yang lebih kontekstual dan relevan dengan kondisi sosial saat ini. “Kami ingin menciptakan ruang bagi anak muda untuk belajar bukan hanya teori, tetapi juga bagaimana cara mereka bisa memberikan dampak langsung pada masyarakat. Dengan bekerja langsung di lapangan, peserta dapat belajar dari pengalaman nyata, bukan hanya dari buku atau ceramah,” ungkap Refki, Jumat (26/12/2025).
Refki menambahkan bahwa tujuan utama dari Prakarsa Muda bukan hanya untuk membangkitkan empati terhadap masalah sosial, tetapi juga untuk melatih peserta agar mampu merancang produk sosial yang dapat bertahan lama dan berdampak positif. “Peserta tidak hanya kami ajak untuk mengabdi, mereka juga ditantang untuk menghasilkan produk sosial yang bisa diproduksi dan diimplementasikan di masyarakat. Dalam lima hari, mereka harus berpikir kreatif, merancang solusi, memproduksi, dan langsung menerapkannya,” tambahnya.
Selama pelatihan, peserta menjalani serangkaian sesi yang mencakup berbagai topik, mulai dari pengenalan tentang wirausaha sosial, eksperimen sosial, analisis masalah dan solusi sosial, pengembangan Minimal Viable Product (MVP) sosial, hingga implementasi langsung di lapangan. Dari proses ini, para peserta berhasil mengembangkan 10 produk sosial, baik dalam bentuk prototipe maupun produk yang siap diimplementasikan. Produk-produk tersebut meliputi berbagai macam inovasi sosial, seperti media pembelajaran anak, boardgame edukatif, teknologi pertanian sederhana, branding desa wisata, branding produk UMKM, dan video dokumenter promosi produk lokal. Semua produk ini dikembangkan berdasarkan kebutuhan nyata yang ditemukan melalui observasi lapangan di desa.
Salah satu peserta, Mayra, siswi SMAN 1 Sidoarjo, mengaku tertarik mengikuti Program Prakarsa Muda karena konsep pelatihan yang berbeda dan berbasis pada praktik langsung. “Konsepnya benar-benar unik. Bisa bertemu orang-orang hebat dari berbagai daerah dan langsung diterjunkan ke masyarakat untuk menyelesaikan masalah sosial bersama mereka, itu adalah pengalaman yang luar biasa,” ungkap Mayra. Ia menilai bahwa metode pembelajaran berbasis praktik membuat materi yang diajarkan menjadi lebih bermakna. “Kami tidak hanya belajar teori, tetapi terlibat langsung dari awal hingga implementasi produk. Ini adalah pengalaman yang sangat berharga bagi saya,” tambahnya.
Bella, seorang peserta yang merupakan lulusan Magister Pengajaran Fisika ITB, juga merasakan dampak positif dari program ini. “Pelatihan ini sangat relevan dengan tujuan saya sebagai pengajar sains. Biasanya ilmu sains hanya berhenti di ruang kelas, tetapi di Prakarsa Muda saya diajak untuk berpikir bagaimana sains bisa dikemas menjadi produk yang bermanfaat bagi masyarakat, terutama dalam dunia pendidikan,” ujar Bella. Ia berharap pengalaman ini bisa membantu dirinya untuk mengembangkan produk pembelajaran sains yang lebih aplikatif di masa depan.
Dengan dukungan penuh dari Kemenpora RI dan kerjasama antara Yayasan Pendidikan Alfani dan DreamseedID, Program Prakarsa Muda tidak hanya berhasil mencetak pemuda yang peduli terhadap isu sosial, tetapi juga melahirkan wirausaha sosial muda yang siap memberikan solusi berkelanjutan. Program ini membuktikan bahwa pelatihan kepemudaan tidak harus terpaku pada teori dan ceramah di ruang kelas, tetapi bisa dirancang secara lebih aplikatif, relevan, dan berorientasi pada dampak nyata bagi masyarakat. Ke depan, diharapkan lebih banyak generasi muda yang terinspirasi untuk terjun langsung ke lapangan, menyelesaikan masalah sosial, dan menciptakan solusi yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat.
@uli