VISI.NEWS | TOKYO – Ketegangan diplomatik antara Jepang dan China terkait Taiwan telah mengakibatkan dampak yang cukup signifikan bagi pasar saham Jepang pada Selasa, 18 November 2025. Saham-saham di bursa Tokyo mengalami penurunan tajam, dengan sektor pariwisata dan ritel mencatatkan penurunan lebih dari tiga persen. Beberapa analis memperkirakan bahwa sekitar 500.000 tiket penerbangan dari China ke Jepang telah dibatalkan sejak China mengeluarkan peringatan kepada warganya untuk menghindari perjalanan ke Jepang.
Ketegangan ini memperlihatkan betapa eratnya hubungan ekonomi antara kedua negara. China merupakan sumber wisatawan terbesar bagi Jepang, dengan hampir 7,5 juta pengunjung asal China tercatat mengunjungi Jepang pada sembilan bulan pertama 2025. Namun, meskipun hubungan ekonomi ini saling bergantung, ketegangan politik mengenai Taiwan telah memperburuk situasi ini, mempengaruhi sektor pariwisata, perdagangan, dan hubungan antarnegara.
Dalam upaya meredakan ketegangan, pemerintah Jepang dan China terus berkomunikasi melalui saluran diplomatik. Menteri Luar Negeri Jepang, Masaaki Kanai, berkunjung ke China pada 17 November 2025 untuk berusaha meredakan perselisihan ini. Kanai diperkirakan akan mengadakan pembicaraan dengan pejabat China di Beijing untuk mencari jalan keluar dari ketegangan ini, meskipun dampak negatifnya sudah terasa di sektor ekonomi.
Industri hiburan Jepang juga terdampak oleh ketegangan ini. Beberapa film Jepang yang dijadwalkan tayang di China, seperti film animasi Crayon Shin-chan the Movie: Super Hot! The Spicy Kasukabe Dancers dan Cells at Work!, dilaporkan ditunda penayangannya. Penundaan ini diumumkan oleh China Film News, yang berada di bawah pengawasan Administrasi Film China, dengan alasan bahwa komentar provokatif dari Jepang terhadap Taiwan dapat mempengaruhi persepsi penonton China terhadap film-film Jepang.
Tindakan pembatalan tiket dan penundaan film ini merupakan respons langsung terhadap komentar Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, yang mengusulkan bahwa Jepang mungkin akan campur tangan secara militer jika terjadi serangan terhadap Taiwan. Komentar ini memicu kemarahan Beijing, yang melihatnya sebagai ancaman terhadap kedaulatan China atas Taiwan.
Sebagai tanggapan terhadap ketegangan ini, Kedutaan Besar Jepang di Beijing mengeluarkan peringatan kepada warganya yang tinggal atau berkunjung ke China. Peringatan tersebut meminta mereka untuk lebih berhati-hati terhadap lingkungan sekitar, menghindari kerumunan besar, dan menghindari tempat-tempat yang sering dikunjungi oleh orang Jepang. “Hindari tempat-tempat yang berisiko teridentifikasi sebagai tempat yang sering digunakan oleh orang Jepang,” tulis peringatan itu.
Selain itu, Kedutaan Jepang juga mengingatkan warganya untuk berhati-hati dalam berinteraksi dengan warga lokal dan selalu menghormati kebiasaan setempat. Mereka juga disarankan untuk segera meninggalkan tempat jika merasa ada situasi yang mencurigakan. Peringatan ini bertujuan untuk menjaga keselamatan warganya di tengah ketegangan yang sedang berlangsung.
Ketegangan ini berawal dari komentar Takaichi yang mengusulkan bahwa Jepang mungkin akan campur tangan secara militer jika Taiwan diserang. Menurut Takaichi, situasi yang melibatkan penggunaan kapal perang atau kekuatan militer terhadap Taiwan dapat dianggap sebagai ancaman terhadap kelangsungan hidup Jepang. Komentar ini memicu reaksi keras dari Beijing, yang kemudian memanggil duta besar Jepang untuk mengungkapkan ketidaksetujuannya.
Takaichi, yang baru menjabat sebagai Perdana Menteri Jepang pada Oktober 2025, sebelumnya dikenal sebagai kritikus keras terhadap China, terutama terkait dengan pembangunan militer China di kawasan Asia-Pasifik. Pada 7 November 2025, dalam pidatonya di parlemen, Takaichi menekankan pentingnya bagi Jepang untuk menjaga ketahanan nasionalnya jika Taiwan terancam. Reaksi keras dari China ini semakin memperburuk hubungan bilateral yang sudah tegang.
@uli