VISI.NEWS | CIPARAY – Peredaran narkoba di Kabupaten Bandung diduga semakin menjamur dan sangat mudah di temui. Barang haram ini diperjualbelikan tanpa batas. Tak jarang, anak berusia belasan tahun yang tengah duduk di bangku SMP dan SMA pun turut menggemukan penghasilan para pedagang dan bandarnya.
Keberadaan para pengedar narkoba ini seakan tidak takut jika berurusan dengan Aparat Penegak Hukum (APH). Karena mereka sangat paham bagaimana usahanya tetap eksis meski sekali-kali diobrak abrik petugas.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Ciparay, H. Aceng Nuraeni yang juga merupakan salah satu tokoh agama merasa prihatin saat mengetahui bahwa peredaran narkoba begitu tinggi.
“Kami (ulama) sejauh ini sudah membahas dengan pemerintah (umaro), sudah ada gebrakan, namun terus terang saat ini posisinya dilema harus dimulai dari mana kalau begini, kita tidak bisa berjalan masing-masing, harus bekerja sama dengan semua pihak,” kata dia, baru-baru ini.
“Ulama tidak punya kapasitas lebih jauh kalau berjalan sendiri, harus ada kerjasamanya dengan umaro, jadi kalau dua komponen ini berbarengan melaksanakan tugas dan fungsinya, saya kira akan dapat solusinya,” tambahnya.
Lebih lanjut, dirinya menyebutkan bahwa MUI mempunyai lembaga sayap Gerakan Nasional Anti Narkoba (GNAN) Namun, lagi-lagi tupoksinya hanya sekedar penyuluhan dan edukasi.
“Gebrakan ini memang ada, masalah penindakan tugasnya ya dikembalikan kepada pihak terkait, pergerakan kita menyadarkan para remaja juga anak-anak muda untuk segera mungkin tidak terjerumus lebih jauh, melalui cara ulama yang terbatas hanya bisa di mimbar-mimbar saja,” katanya.
Aceng berharap, persoalan ini jangan dijadikan saling melempar tanggung jawab. Pihaknya juga menekankan semua komponen harus ikut serta menjawab tantangan yang sedemikian cukup sulit. “gak perlu silih tuding, kita harus gerak bersama,” cetusnya.
Musuh Peradaban
Dirinya menyampaikan bahwa, dalam bisnis gelap ini memang ada yang cari keuntungan, dan sampai menghalalkan segala cara. Seperti, aturan yang tadinya dilarang bisa dirubah menjadi diperbolehkan, aturan ilegal bisa menjadi legal. Pertempuran kebenaran dan kebatilan akan terus ada.
“Narkoba adalah musuh peradaban, sejarah mencatat, Tiongkok pernah diserang oleh Inggris dengan narkoba bukan dengan senjata. Dampaknya kan sangat buruk, Jadi narkoba bisa lebih berbahaya dari pada minuman keras,” pungkasnya. @gvr