Khutbah Jumat: Jangan Terlena oleh Pesona Kehidupan Dunia

Ilustrasi Kakbah./net./ist.
Jangan Lupa Bagikan

Oleh F. Syarifuddin C.

ALLAH SWT berfirman dalam Alquran yang artinya kurang lebih:

“Wahai manusia yang mengingkari kebangkitan, apa yang membuatmu tertipu terhadap Tuhan Yang Maha Pemurah, pemilik kebaikan melimpah, yang berhak ditaati dan disyukuri? Bukankah Dia yang telah menciptakanmu dan membaguskan penciptaanmu lalu Dia menyempurnakannya. Dan menyusun tubuhmu untuk menunaikan tugas -tugasmu? Dia Maha Kuasa untuk menciptakan kalian dalam bentuk apa pun yang Dia kehendaki.”
(QS Al Infithar: 6 – 8)

Saking kerasannya hidup di alam dunia karena banyak pesonanya, entah itu harta benda, pangkat dan jabatan, aneka macam makanan yang serbaenak, dan sebagainya, itu semua terkadang bahkan kerap menghalangi kita untuk beribadah atau berbakti kepada Allah SWT.

Kalau cuma ingin mencicipi kiranya tak mengapa, namun kebanyakan manusia terhadap berbagai macam kenikmatan hidup di dunia itu kerap menyalahgunakannya karena ajakan hawa nafsu negatif.

Bayangkan saja, tak sedikit orang bahkan mungkin kita sendiri yang kemaruk kepada harta benda tanpa batas. Sialnya, itu semua digunakan untuk “bekal” berbuat maksiat.

Di media sosial kini tengah ramai dibicarakan seorang artis yang diduga terlibat dalam prostitusi online. Sang artis kata berita ditarif hingga Rp 20 juta. Bayangkan, uang segitu gedenya dipakai maksiat. Begitulah memang hawa nafsu dunia.

Demikian pula jabatan dijadikan kesombongan, kata peribahasa Sunda “adigung adiguna luhur kuta gedé dunya”. Selebinya menyakiti hati rakyat kecil yang tidak tahu apa-apa, misalnya dengan menyalahgunakan wewenang, jabatan, atau dengan sengaja korupsi.

Sebetulnya segala macam kenimatan yang telah tersedia di alam dunia ini memang untuk semua makhluk lebih-lebih manusia karena memang membutuhkannya dan karena itulah disediakan oleh Allah. Terutama untuk makhluk yang namanya manusia. Kenyataannya pun begitu.

Contoh yang dekat padi, kan itu diajangkan untuk manusia yaitu isinya yang kita kenal dengan sebutan beras lalu ditanak jadi nasi. Nah nasinya itu bagian manusia, bukan beras mentah apalagi antah atau dedaknya. Dedak bagian ayam, kuda, ikan dan hewan lainnya. Tampak jelas bagaimana Allah telah mengistimewakan manusia.

Mengapa demikian? Karena manusia mah mendapat perintah istimewa pula yaitu berbakti, beribadah, kepadaNya. Jadi, diberi kenikmatan yang begitu banyak berikut kelezatannya di alam dunia ini untuk bekal beribadah. Akan tetapi dalam kenyataannya segala kenikmatan dunia itu malah digunakan untuk maksiat. Untuk orang seperti itu Allah berfirman dalam Alquran surat Al Infithar ayat 6 -8 di atas.

Pada ayat tersebut Allah bertanya kepada manusia yang kerap menyalahgunakan kenikmatan yang mestinya untuk bekal beribadah, namun dalam kenyataannya digunakan untuk bekal bermaksiat. Pertanyaan itu tak lain adalah peringatan.

Bukankah manusia sudah jelas mendapat perintah untuk beibadah, dibekali rezekinya meski harus berikhtiar. Selain itu diberi kesehatan entah sehat lahir entah sehat batin, tetapi mengapa malah digunakan untuk mengikuti ajakan hawa nafsu negatif seperti maksiat?

Jangan-jangan corona yang menjadi pandemi sekarang ini termasuk negara kita tercinta sebagai peringatan agar kita jangan melupakan diri bahwa sesungguhnya hidup kita di dunia ini tak sekadar untuk menikmati kesenangan dunia, melainkan ada perintah untuk beriadah yang praktiknya melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya. @fen

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Usum Reses (5)

Jum Jul 17 , 2020
Jangan Lupa BagikanRékacipta Féndy Sy Citrawarga   “NYA atuh kari jadi artis wé, Bi.” “Enya meureunan Ujin, kudu jadi artis ngarah payu ka duapuluh juta mah.” “Artis gé artis kumaha nu payu sakitu Bi.” “Na artis kumaha kitu Ujin?” “Artis nu bandrosna seungit…..” “Hahaaa…..” “Numutkeun Abah?” “Naon téa Jin?” “Sumuhun […]