VISI.NEWS | BANDUNG – Program Magang Nasional Batch I yang digagas Kementerian Ketenagakerjaan segera memasuki fase akhir. Seluruh peserta, operator perusahaan, dan mentor diminta menuntaskan tahapan penutup program yang menjadi penentu pencairan uang saku sekaligus penerbitan sertifikat resmi. Batch 1A dijadwalkan berakhir pada hari ini, Minggu (19/4/2026), sementara Batch 1B menyusul pada 23 April 2026 setelah menjalani program selama enam bulan di dunia industri.
Tahap akhir ini tidak sekadar formalitas administratif. Pemerintah menegaskan bahwa proses penutupan menjadi kunci validasi seluruh aktivitas peserta selama magang, mulai dari presensi, laporan, hingga evaluasi kinerja. Tanpa penyelesaian tahapan ini, peserta berpotensi tidak mendapatkan haknya secara penuh.
Direktur Jenderal Pembinaan Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (Binalavotas), Darmawansyah, menegaskan bahwa pengalaman enam bulan di industri harus menjadi modal nyata bagi peserta untuk bersaing di dunia kerja. Ia menyebut, program ini dirancang bukan hanya memberi pengalaman teknis, tetapi juga membentuk karakter kerja yang adaptif dan profesional.
“Peserta kini lebih siap kerja. Pengalaman ini menjadi bekal penting untuk meningkatkan daya saing di pasar kerja,” ujar Darmawansyah dalam kegiatan final briefing yang digelar secara virtual.
Ia juga mengapresiasi peran perusahaan mitra, mentor, serta pengelola program yang telah mendukung keberlangsungan program magang ini. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah dan industri menjadi kunci keberhasilan dalam mencetak tenaga kerja yang kompeten dan siap pakai.
Selain memperkuat kemampuan teknis atau hard skills, program ini juga dinilai berhasil meningkatkan soft skills peserta. Kemampuan komunikasi, kerja sama tim, hingga adaptasi di lingkungan kerja menjadi nilai tambah yang sangat dibutuhkan di era industri modern.
Karena itu, peserta diimbau untuk tidak menyia-nyiakan pengalaman tersebut. Dokumentasi kegiatan selama magang harus disusun dengan baik dalam bentuk CV atau portofolio agar dapat menjadi nilai jual saat melamar pekerjaan.
Sementara itu, Kepala Barenbang Ketenagakerjaan, Anwar Sanusi, menjelaskan bahwa terdapat sejumlah kewajiban yang harus diselesaikan peserta. Di antaranya adalah melakukan presensi terakhir, menyusun laporan bulanan, serta mengisi kuesioner. Ketiga hal ini menjadi syarat utama pencairan uang saku.
Ia menegaskan bahwa kelengkapan administrasi akan menentukan kelancaran proses penutupan program. “Tahapan ini harus diselesaikan secara tertib agar hak peserta dapat diproses tanpa hambatan,” ujarnya.
Tidak hanya peserta, operator perusahaan juga memiliki tanggung jawab penting. Pada periode 19–22 April 2026, operator wajib menyiapkan sertifikat melalui platform MagangHub, termasuk melengkapi data peserta, logo perusahaan, hingga tanda tangan elektronik dari pihak direksi.
Selain itu, operator juga harus mengisi laporan sertifikasi kompetensi serta laporan penempatan kerja atau rekrutmen jika ada. Seluruh proses ini menjadi bagian dari dokumentasi resmi yang akan tercatat dalam sistem.
Peran mentor juga tidak kalah penting. Mereka diwajibkan menyetujui presensi dan laporan harian peserta, memberikan penilaian bulanan dan akhir, serta mengisi kuesioner evaluasi. Setelah seluruh tahapan tersebut rampung, mentor dapat mengajukan pencairan uang saku peserta.
Penutupan resmi Program Magang Nasional Batch I dijadwalkan berlangsung pada 24 April 2026. Momen ini sekaligus menjadi penanda berakhirnya satu siklus pembinaan tenaga kerja berbasis industri yang melibatkan ribuan peserta di seluruh Indonesia.
Sebagai langkah lanjutan, pemerintah juga tengah menyiapkan program pelatihan daring dan sertifikasi kompetensi. Inisiatif ini bertujuan memperkuat kesiapan peserta sebelum mengikuti uji kompetensi, sehingga peluang mereka untuk terserap di dunia kerja semakin besar.
Dengan berakhirnya program ini, peserta diharapkan tidak hanya membawa sertifikat, tetapi juga pengalaman nyata dan keterampilan yang relevan. Pemerintah menegaskan, keberhasilan program magang tidak diukur dari selesainya masa pelatihan, tetapi dari sejauh mana peserta mampu bertransformasi menjadi tenaga kerja yang siap bersaing.
@uli