Search
Close this search box.

Khutbah Jumat: Peranan Akhlak Dalam Kehidupan Seorang Muslim

Ilustrasi masjid./net/ist.

Bagikan :

KATA akhlak berasal dari bahasa Arab “khuluq”, jamaknya “akhlâq” yang berarti tabiat atau budi pekerti.

Prof. Ahmad Amin, dikutip Hamzah Yaqub, mendefinisikan akhlak adalah “suatu ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh setengah manusia kepada lainnya menyatakan tujuan yang harus dituju oleh manusia dalam perbuatan mereka dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang harus diperbuat.

”Sedangkan yang dimaksud dengan ilmu akhlak ilmu yang menentukan batas antara baik dan buruk, antara yang terpuji dan yang tercela, tentang perkataan atau perbuatan manusia lahir dan batin. Senada dengan pengertian ini ulama lain menjelaskan bahwa ilmu akhlak adalah “ilmu pengetahuan yang memberikan pengertian tentang baik dan buruk, ilmu yang mengajarkan pegaulan manusia dan menyatakan tujuan mereka yang terakhir dari seluruh usaha dan pekerjaan mereka.”

Kata akhlak di dalam Alquran disebutkan pada surat Alqalam (68): 4, sedangkan di dalam hadis diriwayatkan Imam Ahmad.

Tolok ukur dalam berakhlak

Alquran menetapkan bahwa akhlak itu tidak terlepas dari akidah dan syariah. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Hal ini dapat dilihat dari surat Albaqarah (2): 177, yang berarti:

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan memerdekakan hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”

Baca Juga :  Ferry Curtis Meliterasi dengan Hipnosis Musik Balada

Ayat Alquran tersebut menjelaskan bahwa iman kepada Allah SWT adalah dasar dari kebajikan. Kenyataan ini tidak akan pernah terbukti, kecuali jika iman tersebut telah meresap di dalam jiwa dan ke seluruh pembuluh nadi yang disertai dengan sikap khusyuk, tenang, taat, patuh, dan hatinya tidak akan meledak-ledak lantaran mendapatkan kenikmatan, dan tidak putus asa ketika ditimpa musibah.

Orang yang benar-benar beriman kepada Allah SWT hanya mau tunduk dan taat kepada Allah SWT dan syariat-syariat-Nya.

Selanjutnya iman kepada hari akhir mengingatkan manusia bahwa ternyata terdapat alam lain yang gaib, kelak di akhirat yang akan dihuni. Oleh sebab itu, hendaklah usahanya itu jangan hanya dipusatkan untuk memenuhi kepentingan jasmani atau cita-cita meraih kelezatan duniawi atau memuaskan hawa nafsu.

Demikian juga iman kepada para malaikat adalah titik tolak iman kepada wahyu, kenabian, dan hari akhir. Siapa pun yang menolak keimanan terhadap malaikat, berarti mengingkari seluruhnya.

Hal ini disebabkan di antara para malaikat itu ada yang bertugas sebagai penyampai wahyu kepada para Nabi.

Sedangkan iman kepada kitab-kitab samawi yang dibawa oleh para nabi mendorong seseorang untuk mengamalkan kandungan kitab yang berupa perintah maupun larangan. Sebab, orang yang yakin bahwa sesuatu itu benar, maka hatinya akan terdorong untuk mengamalkannya. Dan jika ia yakin bahwa sesuatu itu akan membahayakan dirinya, tentu akan menjauhinya dan tidak mengamalkannya. Sedangkan Iman kepada para nabi, akan mendorong untuk mengikuti ajarannya.

Ayat Alquran tersebut, kemudian menentukan tentang syariah, yakni memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan memerdekakan hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat.

Baca Juga :  Jadwal SIM Keliling Kota Cimahi Hari Ini, Sabtu 18 April 2026

Kemudian ayat ini mengatur tentang akhlak, yatu orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan.

Islam mengatur tolok ukur berakhlak adalah berdasarkan ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu, apa yang dipandang baik oleh Allah dan Rasul-Nya, pasti baik dalam esensinya. Begitu pula sebaliknya, tidak mungkin Dia menilai kepalsuan sebagai kelakuan baik, karena kepalsuan esensinya pasti buruk. Selain itu Allah selalu memperagakan kebaikan, bahkan Dia memiliki sifat yang terpuji, seperti Alquran surat Thaha (20): 8 menjelaskan:

“(Dialah) Allah, tiada Tuhan selain Dia, Dia mempunyai sifat-sifat yang terpuji (al-Asmȃˋ al-Husnȃ).”

Demikian juga sebuah hadis yang diriwayatkan oleh imam Ahmad meriwayatkan Aisyah ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah saw., beliau menjawab: “Akhlak Nabi saw. adalah Alquran.”

Semua sifat Allah SWT disebutkan dalam Alquran yang jumlahnya disebutkan di dalam hadis. Sifat-sifat Allah ini merupakan satu kesatuan. Dia Esa di dalam zat, sifat, dan perbuatan-Nya. Oleh karena itu, tidak wajar jika sifat-sifat itu dinilai saling bertentangan. Maksudnya semua sifat memiliki tempatnya masing-masing. Ada tempat untuk keperkasaan dan keangkuhan Allah, ada tempat untuk kasih sayang dan kelemahlembutan-Nya.

Ketika seorang muslim meneladani sifat al-Kibriyâ (Keangkuhan Allah), ia harus ingat bahwa sifat itu tidak akan disandang oleh Allah SWT, kecuali dalam konteks ancaman terhadap para pembangkang atau terhadap orang yang merasa dirinya superior. Ketika Rasulullah saw. melihat seseorang yang berjalan dengan angkuh di medan perang, beliau bersabda:

“Itu adalah cara berjalan yang dibenci Allah, kecuali dalam kondisi semacam ini.”

Seseorang yang berusaha meneladani sifat al-Kibriyâ tidak akan meneladaninya kecuali terhadap manusia-manusia yang angkuh. Berkaitan dengan hal ini ada riwayat yang menyebutkan: “Bersikap angkuh terhadap orang-orang yang angkuh adalah sedekah.”

Baca Juga :  Humaira dan IPNU IPPNU Ajak Gen Z Tak Apatis Soal Politik dan Lingkungan

Ketika seorang muslim berusaha meneladani kekuatan dan kebesaran Ilahi, harus diingat bahwa sebagai makhluk ia terdiri dari jasad dan ruh sehingga keduanya harus sama-sama kuat. Kekuatan dan kebesaran ini harus diarahkan untuk membantu yang lemah, dan tidak boleh digunakan untuk mendukung kejahatan atau kesewenang-wenangan. Karena ketika Alquran mengulang-ulang kebesaran Allah, Alquran juga menegaskan bahwa:

“Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang yang angkuh lagi membanggakan diri.” (QS Luqman (31): 18). @fen/sumber: unisba.ac.id/dr. h. tata fathurrohman, sh., mh (ketua lsi & dosen fakultas hukum)

Baca Berita Menarik Lainnya :