Komisi VIII DPR RI Minta Menag “JaMu”

Editor Anggota Komisi VIII DPR RI Endang Maria Astuti. /visi.news/ist
Silahkan bagikan

VISI.NEWS | JAKARTA – Pernyataan Menteri Agama RI Yaqut Cholil Qoumas bahwa “Kementerian Agama RI adalah hadiah untuk Nahdatul Ulama (NU) “ terus menuai kontroversi. Pernyataan itu dinilai meresahkan sehingga Menteri Agama diminta untuk menjaga mulut alias (JaMu).

“Pernyataan seperti itu bukan hanya meresahkan tetapi juga mengkotak-kotakkan umat, padahal Menteri Agama seharusnya adalah mengayomi seluruh umat beragama di Indonesia,” kata anggota Komisi VIII DPR RI Endang Maria Astuti, dalam siaran pers di Jakarta, Sabtu (30/10/21).

Menurut Endang, Menag Gus Yaqut seharusnya sadar bahwa posisinya sekarang adalah sebagai Menteri Agama RI, bukan sekadar Ketua GP Ansor—sayap organisasi NU—yang dipimpinnya. Dengan demikian ucapan Gus Yaqut harus mencerminkan kapasitasnya sebagai Menteri Agama.

Oleh sebab itulah, Anggota Fraksi Partai Golkar DPR RI ini meminta Menag Gus Yaqut untuk menjaga mulutnya dengan tidak mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang dapat menyinggung pihak lain dan berpotensi mengoyak ukhuwah Islamiyah dan wathoniyah umat yang saat ini membutuhkan solidaritas dan gotong royong yang tinggi dalam menghadapi pandemic Covid-19.

“Kalau beliau bukan Menteri Agama, atau misalnya beliau sebagai Ketua GP Anshor saja, mungkin pernyataan itu bisa kita pahami. Tapi kalau beliau sebagai Menteri Agama dan mengeluarkan pernyataan seperti itu, yang jelas hanya akan memperkeruh suasana dan kegaduhan umat,” ujar Legislator Senayan dari Dapil Jateng IV (Sragen, Karanganyar dan Wonogiri) ini.

Srikandi Beringin ini tidak mempersoalkan apakah pernyataan itu benar bahwa Kementerian Agama RI adalah hadiah bagi NU ataupun tidak. “Karena bagi saya, benar saja hal seperti itu tidak perlu diungkapkan demi menjaga harmonisasi antar-umat Islam, apalagi yang sifatnya debatable,” katanya.

Endang yang juga Pengurus KPPG ini berpendapat, sebagai seorang Menteri Agama sudah sepatutnya Gus Yaqut mempertimbangkan masak-masak setiap kalimat yang diucapkannya. Itu karena apa yang diucapkan oleh seorang Menteri Agama akan berdampak kepada umat.

Baca Juga :  Forkopimda Kabupaten Bandung Laksanakan Apel Gelar Pasukan Operasi Ketupat Lodaya 2024

Artinya, mantan Anggota DPRD Jateng ini menambahkan, sekiranya ucapan yang akan diucapkan akan berdampak buruk bagi kemaslahatan umat maka sebaiknya diurungkan. Sebaliknya, jika ucapan Menag itu akan memberikan kesejukan kepada umat sudah tentu harus disampaikan.
“Jadi Menteri Agama itu harus bisa menjaga mulut atau JaMu. Kalau sekiranya tidak penting atau bahkan memperkeruh suasana keagamaan atau bahkan menjadikan umat terpecah belah sebaiknya tidak usahlah diucapkan,” katanya seraya menegaskan bahwa Menag Gus Yaqut sering membuat pernyataan yang kontraproduktif.

Dia pun menyitir program prioritas Kementerian Agama RI adalah moderasi umat beragama. Dengan demikian program ini harus sejalan dengan ucapan Menteri Agama bahwa beragama itu harus moderat, tidak ekstrem kiri atau kanan dan juga tidak ekstrem ke organisasi Islam tertentu. “Kalau sudah bisa berada di tengah itu baru moderat,” tandas Endang Maria Astuti.@mh

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Bupati Lepas Ekspor Kopi Sunda Hejo ke Negara Perancis

Sab Okt 30 , 2021
Silahkan bagikan Dadang, ’Kabupaten Bandung Layak Jadi Pusat Kopi di Indonesia’ VISI.NEWS | SOREANG – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung bersama Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Jawa Barat melepas ekspor 19,5 ton Kopi Sunda Hejo dari Koperasi Klasik Beans ke Prancis. Pelepasan tersebut dipimpin langsung Bupati Bandung Dadang Supriatna di […]