Search
Close this search box.

Kota Petro Dolar Majalaya Tinggal Kenangan

Dua orang pengusaha tekstil Majalaya hanya bisa berfose di antara mesin-mesin tekstil yang tak dioperasikan oleh operatornya./visi.news/hana mikail.

Bagikan :

VISI.NEWS – Para pelaku usaha tenun tekstil Majalaya Kabupaten Bandung, Jawa Barat, sangat merasakan imbas merebaknya virus corona (Covid-19). Usaha yang sudah menjadi bagian dari mata pencaharian warga Majalaya itu, kini tak lagi terdengar “ngagejrug”-nya bunyi tustel, mesin teksil manual. Bahkan, sebagian dari mereka mati suri, tak berproduksi lagi.

“Mestinya kemaren itu masanya panen bagi para perajin tekstil Majalaya. Tapi gara-gara corona kita semua terkena imbasnya,” kata H Deden perajin tenun tekstil Majalaya di ruang produksinya pada VISI.NEWS, Selasa (30/6).

Menurut H Deden perajin tenun tekstil Majalaya harus gigit jari karena tak bisa berbuat banyak akibat wabah virus corona. Hingga para perajin pun kelabakan tidak bisa memberikan THR kepada para pekerjanya.

“Kita semua sangat merasakan imbas dari merebaknya virus corona ini. Dan sekarang ini sulit bisa bangkit lagi berproduksi,” ungkap H Asep sesama perajin tenun tekstil Majalaya lainnya.

Bagaimana tidak, semua lapak, baik itu Tanahabang dan juga pasar-pasar termasuk di Majalaya tutup selama tiga bulan. Akhirnya para pengusaha tekstil tidak bisa memasarkan hasil produksinya dan usaha mereka pun tidak berjalan normal.

Divisi Kerja Sama Komunitas Tekstil Majalaya, H Achmad Jamaludin mengakui usaha tekstil tenun Majalaya saat ini sedang lesu. Banyak di antara mereka tidak bisa membayar gaji karyawannya. Bahkan ada yang sampai tidak bisa bayar listrik dan nyaris dilakukan pemutusan oleh pihak PLN.

“Kami sangat membutuhkan sentuhan dari pemerintah agar tekstil Majalaya bisa bergairah lagi. Jangan sampai tekstil Majalaya dibiarkan mati suri seperti sekarang,” katanya.

Di Majalaya sendiri saat ini ada lebih dari 300 pelaku usaha tenun tekstil dengan rata-rata satu perajin mempekerjakan 100 orang. Tidak hanya memproduksi kain sarung, tetapi juga membuat kain lainya yang menjadi kebutuhan masyarakat.

Baca Juga :  Update! Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp16.000 per Gram

Para perajin tekstil tersebar di empat kecamatan, yakni Kecamatan Ibun, Majalaya, Paseh, dan Kecamatan Solokanjeruk. Mereka membuat berbagai kebutuhan masyarakat dari mulai popok hingga kain sarung.

“Kalau pemerintah pro rakyat harusnya bisa membantu menyelamatkan nasib usaha tekstil. Karena industri rakyat ini melibatkan ribuan masyarakat,” katanya.

Kota Petro Dolar

Jika melihat sejarah, kota kecil yang kerap diserang banjir saat musim penghujan, akibat luapan sungai Citarum, Majalaya adalah kota yang dijuluki Kota Dolar hingga saat itu wakil Presiden Bung Hatta mengunjingi wilayah yang berada di Bandung Selatan ini.

Gelar atau sebutan Kota Dolar disandangnya sejak masa peralihan orde lama ke orde baru. Dimana pemerintah saat itu membuat kebijakan adanya kewajiban pengusaha besar untuk menjalin kemitraan dengan perajin tekstil Majalaya.

Saat itu setiap perajin tekstil mendapatkan pesanan sebanyak 1 juta meter tiap bulan dan kontrak nya dibuat tiap 6 bulan sekali. Kondisi ini berjalan selama 20 tahun.

“Kami saat itu mendapat pesanan membuat kain untuk kantung terigu. Dalam satu bulan itu ada pesanan sampai 1 juta meter dan kontraknya selama 6 bulan sekali. Program ini membangkitkan ekonomi di Majalaya saat itu,” kata H Achmad yang akrab disebut H Aloy.

Sejak adanya program kemitraan tersebut ekonomi tekstil Majalaya bergeliat. Hingga predikat Kota Dolar disandang dengan sendirinya. Namun, setelah terjadi revolusi kekuasaan, kondisi itu tak berlanjut dan kini lumpuh

“Kami semua rindu akan program pemerintah yang pro rakyat seperti yang dilakukan tempo dulu. Manfaatnya sangat besar dirasakan oleh para perajin. Dan semoga di masa pemerintahan sekarang ada keberpihakan pemerintah pada industri tekstil rakyat Majalaya ini,” ucapnya.

Para perajin kini butuh sentuhan pemerintah, baik pemkab, provinsi, maupun pusat untuk mengembalikan ke kondisi semula. Bukan hanya di bidang permodalan, tetapi juga sentuhan kebijakan dalam hal pemasaran.

Baca Juga :  AION UT Rajai Pasar EV, Hatchback Ini Laris Manis!

“Perajin menginginkan pasar grosir khusus untuk menampung hasil tekstil Majalaya layaknya pasar Tanah Abang, Jakarta. Jika ini dibangun, jelas tekstil Majalaya akan bangkit,” ucap H. Aloy.

Dijelaskannya, revitalisasi mesin juga wajib dilakukan karena kondisi mesin yang digunakan perajin masih mesin lama.

Untuk di pabrik milik H Aloy saja, dari 120 mesin yang ada, 30 persennya masih mesin lama dan harus direvitalisasi. Perlu diketahui pula, para perajin tekstil Majalaya sudah sangat mahir dalam membuat ragam motif kain tekstil.

“Disuruh buat kain apa saja kami siap dan mampu. Hanya tinggal menunggu pesanan. Seperti kain tekstil untuk seragam hansip, dan pemerintah membutuhkannya, kami layani,” katanya.

Ditambahkan, jika saja pemerintah memesan kain tekstil untuk seragam hansip se-Indonesia, ini artinya akan memberi peluang besar dan vitamin luar biasa bagi para perajin tekstil Majalaya.

Bukan hanya itu, tambah H. Aloy bersemangat, bisa saja pemerintah memesan kain ihram bagi jemaah haji Indonesia. Ini akan sangat luar biasa dampak yang dirasakan bagi pelaku usaha tekstil di Majalaya.

“Intinya kami sangat menunggu sentuhan dari pemerintah. Keberpihakan pemerintah kepada pelaku usaha tekstil sangat dinantikan. Ini penting agar usaha tekstil Majalaya bisa bergairah kembali,” katanya.

Langkah strategis lain yang bisa dilakukan pemerintah dengan membuat perlakuan khusus bagi Majalaya dengan menetapkan Majalaya sebagai Kawasan Ekonomi Khusus Tekstil Rakyat Majalaya.

Jika ini dilakukan maka julukan Majalaya sebagai Kota Petro Dolar dan Kota Tekstil bisa kembali terjadi dan industri tekstil Majalaya, kembali bangkit. Hingga tingkat kesejahtraan masyarakat Majalaya bisa bergeliat kembali. @hana mikail

Baca Berita Menarik Lainnya :