KPU Kab. Bandung Seharusnya Lebih Peka Kebutuhan Fasilitas untuk Debat Publik

Para pendukung ke tiga paslon saat menyaksikan debat calon di depan TV berukuran 40 inci./visi.news/yusup supriatna
Jangan Lupa Bagikan
  • “Kedepan KPU harus membenahi kondisi yang terjadi saat ini. Anggaran besar, ko fasilitasnya seperti ini,” ucapnya.

VISI.NEWS – Sejumlah pendukung dari ketiga pasangan Calon Bupati Bandung dan Wakil Bupati Bandung, kecewa dengan fasilitas pendukung yang disiapkan oleh KPU Kabupaten Bandung untuk bisa disaksikan bersama di luar gedung utama.

Pasalnya, KPU Kabupaten Bandung hanya menyiapkan satu buah unit televisi berkisar 40 inchi agar para pendukung yang tidak bisa masuk ke dalam bisa tetap menyaksikan jalannya debat publik yang diselenggarakan di Kopo Square, Margahayu, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Sabtu (31/10/2020) Sore.

Pantauan VISI.NEWS di lapangan, satu buah unit televisi tersebut dipasang di areal kantin Kopo Square. Suara dari televisi pun tak terdengar dengan jelas. Kondisi serupa juga mengenai sarana dan prasarana yang disediakan. Dibanding suara TV, lebih jelas suara Mesin Blender yang terdengar di salah satu warung.

Kondisi tersebut juga,  apalagi jika saat para pendukung mulai berteriak-teriak memberikan semangat kepada paslon yang didukungnya.

Agar mendapatkan suara yang baik, para pendukung ketiga paslon bupati dan wakil bupati Bandung harus maju mendekati televisi dan sampai Duduk di bawah.

Pupun Purnama (59), salah seorang pendukung paslon nomor urut 1 NU (Hj. Kurnia Agustina Naser dan H. Usman Ssyogi) Pasti Sabilulungan mengaku sangat kecewa dengan KPU Kabupaten Bandung yang terlihat kurang maksimal dalam mempersiapkan debat publik.

“Nampak KPU tidak profesional yah. Masa fasilitas buat para pendukung yang tidak bisa masuk ke dalam seperti ini. hanya televisi yang suaranya juga kurang kedengeran,” kata Pupun kepada VISI.NEWS di lokasi.

Menurut Pupun, seharusnya KPU Kabupaten Bandung lebih peka terhadap fasilitas apa yang seharusnya dibutuhkan saat pelaksanaan debat publik tersebut. Sehingga, para pendukung yang ikut hadir di lokasi dan tidak bisa masuk ke dalam tetap terfasilitasi dengan baik.

“Minimal mah big screen dengan sound yang lebih besar. Jadi suara dan visualnya bisa dinikmati bersama-sama. Terus enggak perlu deket-deket sama tv,” jelasnya.

Tidak Profesional

Hal senada disampaikan Ahmad Pranyoto (43), pendukung Dahsyat No 2 (Yena Iskandar Masoem dan Atep). Kata dia, pelaksanaan debat publik dengan fasilitas seadanya bagi para pendukung mencerminkan jika kinerja KPU Kabupaten Bandung tidak profesional.

“Anggaran-anggaran untuk kegiatan seperti ini kan sudah ada. Kinerja tidak maksimal. KPU sangat tidak profesional. Perlu diaudit ini mah. PR juga ini untuk KPU pusat mengevaluasi kinerja KPU di daerah,” keluhnya.

Hal serupa disampaikan H. Taufik Hidayat pendukung paslon Bedas No 3. (Dadang Supriatna dan Sahrul Gunawan). Pihaknya jelas sangat kecewa dengan fasilitas yang sangat minimum tersebut bedanya apa dengan menonton tayangan televisi di rumah. Debat publik calon kepala daerah yang harusnya terlihat hingar bingarnya malah justru mirip dengan debat pemilihan kepala desa.

“Kedepan KPU harus membenahi kondisi yang terjadi saat ini. Anggaran besar, ko fasilitasnya seperti ini,” ucapnya.

Anggaran Besar, Sarana Minim

Menanggapi hal tersebut, Apih Jaja Dipraja Pemerhati Pilkada Bandung mengatakan kedepan KPU harus membenahi sarana dan prasarana harus diberikan kepada semua elemen.

Kata Dia, dalam debat ini, KPU seharusnya memberikan yang terbaik kepada para pendukung calon. Tidak hanya itu juga  KPU juga harus memberikan sarana yang memadai kepada beberapa pemantau dan peliput.

“Selain para pendukung, LSM dan media dan unsur lainnya juga harus diberikan sarana yang memadai. Ini kan untuk kepentingan publik,” tegasnya.

Apih menambahkan, debat ini ada anggaran dan menggunakan dana dari APBD. “Masa anggaran yang besar tersebut, masa sarana dan prasarananya seminim ini,” keluhnya.

Kondisi yang terjadi lanjut Apih, KPU harus bertanggung jawab dalam hal ini dan kedepan harus memberikan solusi yang terjadi saat ini.

“Pilkada ini harus gembira dan sukses. Apa lagi saat pandemi covid 19 saat ini. Jelas ini pelayanan kurang maksimal. Kita lihat para pendukung ada yang berdiri dan ada yang duduk diteras,” pungkasnya.

Ketua KPU Kabupaten Bandung Agus Baroya ketika akan dikonfirmasikan mengenai hal tersebut sudah buru-buru meninggalkan lokasi dan ketika dikonfirmasi melalui Whatsappnya belum ada jawaban.@yus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Uang Palsu Beredar di Cileunyi, Korbannya Para Pedagang Rokok dan Kopi

Sab Okt 31 , 2020
Jangan Lupa BagikanVISI.NEWS – Seorang pedagang rokok di seputaran terminal bayangan Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, mengaku jadi korban peredaran uang palsu dari salah satu pembeli. Musibah tersebut terjadi kepada Egy (31) warga Cileunyi,  beberapa hari lalu. Egy mengatakan, kejadiannya malam hari. Dimana pelaku membeli sebungkus rokok dengan memberikan uang […]