VISI.NEWS – Masyarakat Yogyakarta dan Solo, maupun daerah sekitarnya yang berlangganan kereta api lokal Prambanan Ekspres atau disebut Prameks, di awal tahun 2021 ini memasuki babak dengan layanan kereta rel listrik (KRL) yang dioperasikan PT KCI.
Direktur Operasi dan Pemasaran PT KCI, Wawan Ariyatno, menjelaskan kepada wartawan yang mengikuti perjalanan uji coba KRI dari Solo Balapan ke Yogyakarta, pengembangan elektrifikasi kereta api atau KRL relasi Yogyakarta –Solo untuk menggantikan kereta rel disel (KRD) olPrameks, merupakan komitmen KAI dalam menyediakan sarana perkeretaapian yang efektif, efisien,
dan terjangkau masyarakat.
“Rangkaian KRL produksi PT INKA yang digunakan di jalur Solo-Yogyakarta, lebih bagus dibanding rangkaian KA Prameks. Ruangannya dengan tempat duduk lebih empuk, AC lebih dingin dan kecepatan juga lebih tinggi dibanding Prameks. Waktu tempuh antara Solo – Yogyakarta sejauh 60 kilometer, KRL memang lebih lambat karena singgah di 11 stasiun. Sedangkan Prameks hanya 5 stasiun,” ujar Wawan, Jumat (22/1/2021).
Pengoperasian KRL Yogyakarta – Solo, menurut Wawan, karena selama beroperasinya KRD Prameks sampai sebelum pandemi Covid 19 okupansi penumpang yang terus mengalami peningkatan sehingga dilakukan perpanjangan jalur sampai Stasiun Kutoarjo.
Bahkan, mengutip hasil studi kelayakan sebelum dioperasikannya KRL, di koridor Yogyakarta – Solo dengan penduduk hampir 10 juta jiwa, diprediksi pada 2021 ini berpotensi terjadi pertumbuhan penumpang
kereta api sebanyak 5.921.890 orang. Jumlah itu akan terus meningkat sampai mencapai 29.320.769 orang pada tahun 2035.
“KRL diharapkan juga akan mendukung konektivitas transportasi di KSPN
Borobudur dan mendorong kegiatan pemulihan ekonomi kawasan yang terdampak pandemi Covid-19. Secara teknis, pembangunan jalur KRL koridor Yogyakarta – Solo termasuk mudah karena sudah menggunakan jalur rel ganda,” jelasnya.
KRL antara Yogyakarta dan Solo tersebut, katanya, merupakan yang pertama yang dikelola PT KCI di luar koridor Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi (Jabodetabek).
Namun, berbeda dengan Prameks yang melayani jalur Solo – Kutoarjo, KRL hanya melayani Solo – Yogyakarta dan penumpang dari Yogyakarta ke Kutoarjo masih dilayani KA Prameks.
Sementara ini, menurut Wawan Ariyatno, PT KCI menyiapkan 8 trainset dan yang dioperasikan selama masa uji coba sampai beroperasi penuh Februari mendatang sebanyak 6 trainset.
Kapasitas penumpang tiap kereta, pada situasi normal bisa mencapai 200 orang termasuk berdiri. Akan tetapi, selama pandemi jumlah maksimal penumpang per kereta dibatasi 74 orang.
Penggantian operasional Prameks dengan KRL, menurut direktur operasi dan pemasaran PT KCI itu, juga diikuti dengan perubahan sistem tiketing dengan penggunaan kartu tap yang yang harus digunakan penumpang saat masuk dan keluar stasiun.
Selama masa uji coba, masih banyak penumpang yang mencoba KRL Yogyakarta – Solo pulang-pergi tanpa melakukan tap masuk dan keluar stasiun. Akibatnya, saat penumpang keluar stasiun di akhir perjalanan mengalami masalah, karena kartu hanya ditap sekali saat masuk.
“Perubahan sistem penggunaan tiket adalah dengan kartu tap untuk in dan out. Kalau penumpang hanya tap in tanpa out pasti mengalami masalah. Bagi penumpang KRL Yogyakarta – Solo masih perlu edukasi untuk perubahan-perubahan sistem semacam itu,” sambungnya.
Tarif tiket KRL Yogyakarta – Solo juga masih diberlakukan sama dengan Prameks, sebesar Rp 8.000 per penumpang dengan subsidi PSO.
Sedangkan tempat perhentian yang saat ini di 11 stasiun, atau meningkat 6 stasiun dibanding Prameks akan dievaluasi kemungkinan penambahan jika dalam perkembangannya ada permintaan, seperti di kawasan permukiman, kawasan industri dan sebagainya. @tok