VISI.NEWS | BANDUNG – Islamabad dilanda salah satu hari paling kelam dalam lebih dari satu dekade terakhir ketika serangan bom bunuh diri menghantam sebuah masjid Syiah di pinggiran ibu kota Pakistan, Jumat (6/2). Serangan terjadi di tengah status siaga tinggi kota yang saat itu tengah bersiap menyambut kunjungan kenegaraan Presiden Uzbekistan, Shavkat Mirziyoyev.
Pelaku dilaporkan menembaki area gerbang sebelum akhirnya meledakkan diri di dalam kompleks Masjid Khadija Tul Kubra Imambargah saat ibadah baru saja dimulai. Sedikitnya 31 orang tewas dan lebih dari 160 lainnya luka-luka. Kelompok Islamic State (ISIS) mengklaim bertanggung jawab melalui pernyataan di media sosial mereka, meski klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Deputi Komisioner Islamabad, Irfan Memon, mengonfirmasi jumlah korban dalam pernyataan resmi.
“Sebanyak 31 orang telah kehilangan nyawa. Jumlah korban luka yang dibawa ke rumah sakit meningkat menjadi 169 orang,” ujarnya.
Kesaksian para penyintas menggambarkan kepanikan yang terjadi hanya dalam hitungan detik. Sarfraz Shah, 46 tahun, yang datang beribadah bersama adiknya, menceritakan momen sebelum ledakan.
“Saya mendengar tembakan dan masih mencoba memahami apa yang terjadi ketika tiba-tiba ada ledakan besar,” katanya di Rumah Sakit Pakistan Institute of Medical Sciences.
“Orang-orang terpental ke berbagai arah. Ada asap. Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
Dengan suara bergetar ia menambahkan, “Saya tidak menemukan adik saya di mana pun, tapi di rumah sakit saya tahu dia termasuk yang meninggal.”
Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Asif, menyatakan pelaku meledakkan diri di barisan belakang jamaah. Dalam pernyataannya, ia juga menuduh adanya keterlibatan asing tanpa menyertakan bukti. Tuduhan itu langsung dibantah India. Kementerian Luar Negeri India menyebut pernyataan tersebut tidak berdasar.
“Sangat disayangkan bahwa alih-alih secara serius menangani masalah dalam tatanan sosialnya sendiri, Pakistan memilih menipu dirinya dengan menyalahkan pihak lain atas persoalan dalam negerinya,” bunyi pernyataan resmi New Delhi.
Seorang petugas polisi, Shahid Malik, yang membantu proses evakuasi korban, menggambarkan situasi di lokasi sebagai pengalaman terburuk dalam kariernya.
“Saya sudah melihat banyak tempat kejadian perkara. Tapi ini mengerikan, sangat mengerikan,” ujarnya.
Ia memperkirakan ada sekitar 600 hingga 700 orang berada di dalam kompleks masjid saat ledakan terjadi.
Serangan ini menjadi sorotan karena terjadi di Islamabad, kota yang biasanya memiliki pengamanan ketat dan relatif jarang mengalami serangan besar. Data pemantau konflik menunjukkan ini adalah bom bunuh diri paling mematikan di ibu kota Pakistan dalam lebih dari sepuluh tahun.
Komunitas Syiah di Pakistan, yang merupakan minoritas di negara berpenduduk sekitar 241 juta jiwa tersebut, memang kerap menjadi sasaran kekerasan sektarian di masa lalu. Pemerintah Pakistan juga tengah menghadapi peningkatan aktivitas militan di berbagai wilayah, terutama dekat perbatasan Afghanistan. Pemerintah Afghanistan turut mengecam serangan tersebut dan kembali membantah tuduhan bahwa wilayahnya menjadi tempat berlindung kelompok militan.
Tragedi di Islamabad terjadi dalam sepekan yang sudah diwarnai kekerasan di wilayah lain Pakistan, memperlihatkan tantangan keamanan yang semakin kompleks bagi pemerintah. Di tengah duka nasional dan ketegangan politik regional yang kembali memanas, serangan ini menjadi pengingat pahit bahwa ibu kota pun tak sepenuhnya kebal dari gelombang teror yang melanda kawasan. @kanaya