VISI.NEWS – Pedesaan di sisi barat lereng Gunung Lawu yang rawan bencana tanah longsor, khususnya Desa Kemuning dan Desa Ngargoyoso, wilayah Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, mendapatkan bantuan seperangkat alat deteksi dini atau Early Warning System (EWS) dari tim mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik kebencanaan Universitas Sebelas Maret (UNS), Solo.
Tim mahasiswa tersebut merupakan bagian dari peserta KKN Covid-19 yang digelar UNS selama masa pandemi, sekaligus sebagai upaya sosialisasi protokol kesehatan dan pencegahan penularan Covid-19 bagi masyarakat di wilayah lokasi KKN.
Selain memasang perangkat EWS sederhana yang ditempatkan di Desa Kemuning dan Desa Ngargoyoso, tim mahasiswa KKN kebencanaan UNS juga memasang rambu-rambu tanda jalur evakuasi di sejumlah titik. Rambu-rambu tersebut dipasang di tempat-tempat strategis sepanjang jalan di kedua desa, khususnya di Dusun Melikan dan Dusun Sumbersari.
Selama ini, Dusun Melikan dan Dusun Sumbersari yang banyak terdapat lereng curam merupakan wilayah paling rawan longsor. Penempatan EWS dan rambu-rambu di kedua dusun tersebut karena setiap musim penghujan dengan curah hujan tinggi di wilayah itu sering terjadi bencana tanah longsor.
Dr. Pipit Wijayanti, M.Sc, pembimbing tim mahasiswa KKN kebencanaan, menjelaskan kepada VISI.NEWS, Senin (5/10), para mahasiswa UNS juga membekali masyarakat mengenai bahaya tanah longsor serta pengetahuan tentang kebencanaan.
Dia juga melakukan Forum Group Discussion (FGD) yang melibatkan perwakilan warga desa dan kepala dusun, membahas perihal kontingensi dalam pengurangan risiko bencana.
“Materi yang dibahas meliputi skenario kejadian bencana, skenario dampak bencana, kebijakan penanggulangan dampak dan strategi mitigasi, serta pembentukan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB),” katanya.
FPRB sendiri, sambung Dr. Pipit, merupakan sebuah forum yang khusus dibentuk sebagai upaya pengurangan risiko bencana di daerah rawan bencana. Forum tersebut secara struktural terdiri dari koordinator dan anggota yang siap menjalankan komando setiap saat terjadi bencana.
Menurut Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) mahasiswa peserta KKN UNS itu, tim KKN UNS lebih berperan sebagai fasilitator diskusi antar masyarakat yang menyegarkan kembali ingatan masyarakat mengenai pengetahuan dan pembelajaran kebencanaan.
Karena, sebelumnya masyarakat telah memiliki pengetahuan khususnya kontingensi dan FPRB yang dilakukan pihak lain sebelum kedatangan tim KKN UNS.
“Kegiatan ini penting untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana tanah longsor karena lokasi KKN merupakan daerah dengan risiko longsor yang sangat tinggi. Kita berharap dengan kegiatan ini masyarakat dapat kembali mengingat tindakan mitigasi yang diperlukan apabila terjadi bencana longsor. Terlebih kini sudah hampir memasuki musim penghujan,” tutur Dr. Pipit menandaskan. @tok