Search
Close this search box.

Dibalik Sumpah Pemuda Ada Tiga Hal yang Menjadi Pedoman Dasar

Abur Mustikawanto, Kepala Cadistikwil XII Kota/Kabupaten Tasikmalaya. /visi.news/budi s ombik

Bagikan :

VISI.NEWS | TASIKMALAYA – Memperingati Sumpah Pemuda ada tiga hal yang menjadi pedoman dasar yang harus ditegaskan dalam setiap jiwa, yakni tanah air Indonesia, bangsa Indonesia, dan bahasa Indonesia. Dalam situasi saat ini, pandemi Covid-19 sebagai pemuda ditantang untuk membangkitkan kreativitasnya. “Dan itu adalah hal yang utama dan terpenting dalam perayaan kali ini,” kata Dr. Abur Mustikawanto, M.Ed., Kepala Cadisdikwil XII Kota/Kabupaten Tasikmalaya dalam laman pribadi WhatsApp yang dikirim 28 Oktober 2021 pukul 09.41 WIB.

Ungkapan itu dilontarkan terkait peringatan Sumpah Pemuda tahun 2021. “Mereka harus melahirkan suatu karya yang berguna bagi kemanusiaan. Melalui model usaha ekonomi kreatif berbasis startup atau kegiatan lainnya,” imbuhnya.

Disebutkan, fungsi strategis pemuda milenial saat ini adalah bagaimana mengambil mentalitas kritis, kreatif dan berani sebagaimana yang ditunjukkan pemuda Indonesia yang menghelat Sumpah Pemuda saat itu.

“Rasa nasionalisme para pemuda memperjuangkan kemerdekaan saat itu, penting untuk digarisbawahi. Inilah yang semestinya diteladani oleh pemuda saat ini,” jelasnya. Disebutkan, sejarah lahirnya Sumpah Pemuda sangat penting untuk diketahui.

“Karena apa. Dari situlah banyak pelajaran yang dapat disimpulkan makna dan arti,”tandasnya.

ba78ba4e 3545 46b9 b0fe 973f08899112
Dr. H Yonandi Kepala Sekolah SMAN 10 Kota Tasikmalaya. /visi.news/ist

Ditempat terpisah, Kepala Sekolah SMAN 10 Kota Tasikmalaya, Dr.H. Yonandi mengatakan, ini adalah hari yang luar biasa. Yaitu tepat di 93 tahun Indonesia memperingati Sumpah Pemuda.

“Kita tahu. Ini adalah momentum sangat luar biasa. Kenapa. Karena sedang dikumandangkannya era industri 4.0 dan dilanda pandemi Covid -19 yang belum berkesudahan,” tuturnya.

Dikatakannya, banyak melahirkan kebijakan pemerintah yang luar biasa dahsyatnya serta berpengaruh, baik pendidikan, perekonomian dan bidang lainnya. “Namun ironisnya adalah, ketika tekhnologi belum canggih saat itu, para pemuda pemudi dari berbagai kalang mencari cara dengan membentuk organisasi,” imbuh Yonandi.

Baca Juga :  Kemnaker–Transjakarta Teken MoU, Buka Akses Kerja di Sektor Transportasi

Tujannya adalah, tambahnya, untuk menyatukan keragaman suku budaya dari berbagai daerah. “Tapi sekarang terasa ada upaya memecah belah persatuan secara perlahan,” tandasnya.

Padahal logikanya dengan tekhnologi akan semakin mudah informasi demi persatuan. Namun apa yang terjadi dan dirasakan, kata Yonandi, banyak informasi hoax, banyak memutarbalikan fakta. “Bahkan menggunakan medsos disalah artikan untuk memfitnah sana sini,” cetusnya.

Kondisi ini sangat ironis, dimana negeri ini memiliki idiologi Pancasila. “Disini saya sebagai Kepala Sekolah, prinsifnya bahwa ketika Sumpah Pemuda dengan tiga poinya yaitu tanah air, bahasa, berbangsa satu yang utama adalah penguatan karakter dan peningkatan skill,” katanya.

Dua hal itulah bagi pihak Seputas (Seputar Sekolah SMAN 10) di dunia pendidikan ketika menguak Sumpah Pemuda poinnya adalah bagaimana menguatkan karakter dan meningkatkan kemampuan, skill.

“Kita tidak boleh tutup mata, kenapa saya bilang menguatkan karakter. Karena tujuan pendidikan itu ujung ujungnya menciptakan genarasi yang akhlakul karimah,” tandasnya.

Otomatis dalam proses pendidikan tidak hanya pelajaran, pendidikan yang utama di sekolah adalah penguatan pribadi atau karakter. “Apalagi saat ini Pak Mentri berharap bahwa muncul generasi atau pelajar Pancasila,” kata Yonandi.

Disebutkan, pada prisifnya adalah mereka yang memiliki karekter akan menghasilkan pemimpin yang jujur, yang tidak selalu membuat kebijakan memfitnah banyak orang, radikal dan radikal.

“Banyak orang sedikit ini, radikal atau punya kepentingan ini itu, radikal. Sebaliknya pemerintah pun jangan-jangan terkenal dengan kebijakan yang selalu membuat kebijakan radikal,” tuturnya.

Ini artinya apa, cetusnya lagi, inskonsistensi atau tidak konsisten kebijakan yang kadang tidak berpihak. “Banyak hal perlu diperbaiki di negri ini. Maka generasi muda sekaranglah berkaca dengan kondisi saat ini. Kedepan harus lahir generasi yang luar biasa,”jelas Yonandi.

Baca Juga :  Profil Letjen Robi Herbawan, Kepala Bais TNI yang Baru

Ditambahkan, kami di sekolah mencetak dua hal yaitu siap hidup di era usia 25 tahun. Dan siap hidup di 25 tahun yang akan datang untuk memimpin di negri ini. Sehingga lahir pemimpin jujur yang tidak korup, yang cinta dengan tanah airnya.

“Bahwa orang pribumi, warga asli negeri ini, lahir di tanah ini dan di negri ini harus menjadi sosok luar biasa, pemimpin yang mampu memakmurkan negrinya,” pungkasnya.@bik

Baca Berita Menarik Lainnya :