Manasik Haji akan Digelar dengan Pola Baru

Ilustrasi Kakbah./ist./net.
Jangan Lupa Bagikan

VISI.NEWS – Kementerian Agama (Kemenag) melalui Direktorat Bina Haji Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) menyiapkan pola baru manasik haji. Pola ini dilakukan agar pembinaan haji tetap berjalan optimal dengan menerapkan adaptasi kebiasaan baru. 

“Seperti kita ketahui, pandemi Covid-19 ini belum tahu kapan akan berakhir. Dalam kondisi seperti ini, Kemenag berkomitmen tetap memberikan pelayanan, pembinaan, dan perlindungan kepada jemaah haji,” ujar Kasubdit Bimbingan Jmaah Haji Kemenag, Arsyad Hidayat, Jumat (25/9), seperti dilansir Republika.co.id. 

Arsyad menuturkan, adaptasi kebiasaan baru program manasik haji akan dilakukan dengan pola Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Arsyad yang hadir sebagai narasumber dalam program Inovasi Layanan Transformasi Digital Komunikasi Informasi dan Edukasi Haji ini menyebut, ada tiga model PJJ yang disiapkan Kemenag. 

Tiga metode yang digunakan, yakni PJJ secara offline atau luar jaringan, daring, serta kombinasi keduanya. Pola PJJ luring dilakukan dengan melibatkan media Lembaga Penyiaran Publik (LPP), bukan internet.

“Pembelajaran manasik haji dalam model ini akan dilakukan melalui media televisi atau radio. Misalnya, nanti melalui RRI atau TVRI yang merupakan lembaga penyiaran publik,” kata dia.

Sebelumnya, calon jemaah haji akan diberi modul yang berisi materi manasik haji untuk dipelajari di rumah. Kemudian, mereka diminta mengikuti siaran pembelajaran manasik melalui radio atau televisi untuk mengisi pertanyaan yang terdapat dalam modul tersebut.

Pada hari yang yang ditentukan, hasil pekerjaan rumah jemaah akan diperiksa oleh pembimbing manasik. Untuk melakukan pola manasik ini, Kanwil dan Kankemenag Kota perlu melakukan kerja sama dengan LPP lokal sehingga memudahkan koordinasi pelaksanaan manasik di tingkat daerah. 

Pola manasik kedua yang disiapkan, yakni PJJ secara online atau daring (dalam jaringan). Dalam pola ini mengandalkan komunikasi dan interaksi bimbingan manasik dengan menggunakan teknologi berbasis internet.

“Model manasik ini telah dilakukan dengan menyampaikan materi melalui platform media sosial. Mulai dari Youtube, Twitter, Whatsapp, Telegram, Instagram hingga Zoom,” ujar Arsyad. 

Saat ini, ia mengatakan, telah berlangsung berbagai Kulwap Kuliah Whatsapp (Kulwap) tentang manasik haji. Metode kulwap ini banyak digunakan paska pandemi Covid-19, sebagai metode belajar yang dianggap mudah diterapkan dan hemat karena tidak memerlukan paket data yang besar.

Ketiga, Kemenag akan menerapkan PJJ kombinasi (blended learning). Dalam pembelajaran ini, Kemenag mengintegrasikan pembelajaran tatap muka dan menggunakan sumber belajar daring.

Dalam setiap pola yang diterapkan, Arsyad berharap para pembimbing manasik menyiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Segala aspek pendukung dan evaluasi diperlukan untuk perbaikan selanjutnya.

Ia juga mengingatkan, setiap manasik yang dilakukan tetap harus memperhatikan kondisi daerah setempat dan menerapkan protokol kesehatan.

“Jangan pernah berhenti berinovasi. Karena inovasi dapat memberikan manfaat, memotivasi, dan menginspirasi,” kata dia. @fen 

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Covid-19 Menyadarkan Manusia untuk Ikhtiar dan Tawakkal

Jum Sep 25 , 2020
Jangan Lupa BagikanVISI.NEWS – Wakil Sekretarsi Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH.Muhammad Faiz, Lc., MA menganalogikan munculnya pandemi layaknya seorang tamu, yang harus disambut dan perlu disikapi dengan baik. “Pandemi ini adalah tamu yang datang ke rumah kita. Pasti ada hajatnya, jika kita menyegerakan menjawab keperluan itu, maka […]