SOLUSI sendiri merupakan kemitraan antara pemerintah Indonesia (BAPPENAS) dan pemerintah Jerman (BMUV) melalui Inisiatif Iklim Internasional (IKI) yang diimplementasikan secara bersama oleh konsorsium untuk menangani degradasi lahan dan bentang laut di Indonesia, dengan meningkatkan ketahanan ekosistem serta mata pencaharian yang dapat beradaptasi terhadap perubahan iklim.
“Melalui aksi ini, kami ingin menunjukkan bahwa pemulihan ekosistem mangrove bukan hanya soal menanam pohon, tetapi tentang mengembalikan fungsi ekologis dan sosial kawasan pesisir,” ujar Andi Anwar, Direktur Eksekutif Yayasan Bonebula.
Nirwan Dessibali Direktur Eksekutif YKL Indonesia, menambahkan, “Kami percaya kekuatan aksi lokal. Enam desa ini telah melalui tahapan panjang, studi pustaka, pemetaan partisipatif, hingga pengesahan rencana rehabilitasi yang clear and clean. Ini bukan hanya soal teknik, tapi juga membangun rasa kepemilikan masyarakat terhadap kawasan mangrove mereka.”
Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada rehabilitasi, tetapi juga pada tahapan penting seperti monitoring, evaluasi, dan perawatan selama dua tahun ke depan. Data pertumbuhan akan dikumpulkan secara berkala untuk memastikan keberhasilan rehabilitasi dan menjadi dasar pembelajaran untuk wilayah lain.
Nirwan berharap melalui kegiatan ini, masyarakat Donggala diharapkan semakin sadar pentingnya hutan mangrove sebagai benteng alami dari abrasi dan perubahan iklim, sekaligus sebagai penyokong utama ekonomi pesisir yang berkelanjutan.
Firda, ketua kelompok masyarakat SALAMA (Sahabat Laut dan Mangrove) mengatakan, dapat banyak pembelajaran dari proses kegiatan aksi rehabilitasi ini. Dimana masyarakat dilibatkan sejak awal dalam penyusunan desain hingga penetapan lokasi.
“Sekarang kami mengetahui cara menanam mangrove yang baik. Bukan hanya sekedar menanam, perlu tau lokasinya apakah sesuai dan apa yang perlu dilakukan sehingga tanaman tumbuh dengan baik,” ujar Firda.