VISI.NEWS | BANDUNG – Non-Fungible Tokens (NFT) kembali menjadi perbincangan hangat setelah ada laporan dari DappGambl yang bertajuk “Dead NFTs: The Evolving Landscape of the NFT Market.”
Dalam studi tersebut menyatakan bahwa kepopuleran NFT telah jatuh setelah menemukan 69.795 dari 73.257 koleksi NFT saat ini tidak memiliki nilai.
Di samping itu, pekan ini juga ramai dengan volatilitas Bitcoin (BTC) yang sempat melonjak tinggi harganya, namun tak lama tiba-tiba juga turun sekitar 5%. Peristiwa ini sedikit membuat para pelaku pasar skeptis dengan adanya momen ‘Uptober’ atau istilah kenaikan di bulan Oktober yang secara historis selalu terjadi dalam empat tahun terakhir.
Berkaitan dengan kabar tersebut, dari Tokocrypto menyajikan rangkuman berita di industri aset kripto dan ekosistemnya.
1. Masa Depan NFT: Apakah Era Kejayaannya Telah Berakhir?
Dalam beberapa tahun terakhir, NFT (Non-Fungible Tokens) telah menjadi salah satu topik paling hangat dalam dunia teknologi dan seni. Dari karya seni digital hingga barang koleksi, NFT telah memberikan keunikan dan otentikasi pada aset digital, memberi peluang bagi
seniman dan kreator untuk mendapatkan pengakuan dan penghasilan yang layak.
Namun, seperti halnya setiap tren teknologi, ada kalanya puncak popularitasnya menyurut dan memunculkan pertanyaan: Apakah era kejayaan NFT telah berakhir?
Menurut laporan platform kripto dappGambl berjudul “Dead NFTs: The Changing Landscape of the NFT Market,” dari sekitar 73.257 koleksi NFT yang diidentifikasi, hampir 69.795 di antaranya memiliki kapitalisasi pasar nol Ethereum (ETH). Artinya, sekitar 95% dari pemilik koleksi NFT ini
melakukan investasi yang tidak memiliki nilai. Data ini juga mengindikasikan bahwa lebih dari 23 juta individu memiliki aset NFT yang tidak memiliki nilai.
Mengamati fenomena terbaru ini, CEO Tokocrypto, Yudhono Rawis, menjelaskan sama
seperti pasar lainnya, NFT tidak lepas dari dinamika pasang surut. Fase awal penerimaan
teknologi atau tren baru biasanya disertai dengan antusiasme yang tinggi, yang sering kali diikuti oleh penyesuaian dan koreksi pasar.
Meskipun telah ada penurunan aktivitas dalam beberapa bulan terakhir, hal ini tidak necessarily menandakan akhir dari NFT, melainkan fase transisi.
“Pasar NFT mengalami fluktuasi alami. Seperti halnya pasar lain, pasar NFT juga dapat mengalami siklus naik dan turun yang dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti tren, permintaan, penawaran, sentimen, dan spekulasi. Beberapa NFT mungkin mengalami lonjakan harga
sementara karena hype atau publisitas, tetapi kemudian menurun karena kurangnya minat atau dukungan jangka panjang,” kata Yudho.
Lebih lanjut, Yudho memiliki pandangan yang optimistis terhadap masa depan NFT. Meskipun NFT mungkin sedang mengalami fase penyesuaian, banyak indikator menunjukkan bahwa ini bukanlah akhir dari era kejayaannya. Dengan terus berinovasi dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar, NFT berpotensi untuk kembali berkembang dan memainkan peran penting dalam ekosistem digital masa depan.
“NFT bukanlah sekedar tren sesaat. Kami melihat potensi pertumbuhannya sebagai revolusi industri kreatif dan digital. Ada banyak inovasi yang masih bisa dijelajahi. Seperti halnya teknologi lainnya, ada waktunya pasang dan surut, tetapi keyakinan kami adalah bahwa NFT
akan bangkit kembali dengan cara yang lebih matang dan inovatif,” jelasnya
Tren dan Edukasi
Penjelasan Yudho, NFT lebih dari sekedar tren dan merupakan revolusi dalam cara memahami hak milik digital. NFT memberikan kemampuan untuk mengotentikasi dan memverifikasi kepemilikan aset digital, sebuah fitur yang sebelumnya sulit dicapai. Hal ini berarti bahwa di masa depan, segala jenis aset digital, mulai dari desain produk hingga hak cipta musik, dapat
di-tokenisasi dan diperdagangkan dengan aman.
Kedua, meski ada penurunan, sejumlah platform NFT masih mencatatkan transaksi yang cukup signifikan. Ini menunjukkan bahwa ada permintaan yang tetap untuk NFT, meski mungkin sudah
berbeda dari puncaknya.
Beberapa platform atau proyek NFT tetap populer dan
menguntungkan. Misalnya, OpenSea, pasar NFT terbesar, mencatatkan volume perdagangan lebih dari US$ 10 miliar pada bulan Maret 2023. Demikian pula, beberapa game berbasis NFT seperti Axie Infinity atau CryptoKitties masih memiliki basis pengguna dan pendapatan yang besar.
Untuk mengangkat NFT kembali berjaya, mungkin ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh para kreator, kolektor, dan investor NFT. Untuk kreator harus bisa menciptakan NFT yang lebih
berkualitas, unik, dan bermakna. Serta, meningkatkan regulasi dan kebijakan yang mendukung
perkembangan NFT tanpa menghambat kreativitas dan inovasi.
“Salah satu pembeda NFT adalah bahwa mereka dapat merepresentasikan aset digital yang memiliki nilai seni, budaya, atau sejarah yang tinggi. Oleh karena itu, para pencipta NFT harus berusaha untuk membuat karya-karya yang menunjukkan kreativitas, orisinalitas, dan keahlian
mereka. Selain itu, mereka juga harus memberikan cerita atau konteks di balik karya-karya
mereka, sehingga para kolektor atau investor dapat merasakan koneksi atau emosi terhadap
NFT tersebut,” jelas Yudho.
Selain itu yang paling penting adalah mengedukasi dan menginspirasi masyarakat luas tentang NFT. NFT masih merupakan konsep yang baru dan asing bagi banyak orang, terutama mereka yang tidak terbiasa dengan teknologi blockchain atau kripto.
“Oleh karena itu, para pelaku pasar NFT harus berusaha untuk menyebarkan kesadaran dan pengetahuan tentang NFT kepada masyarakat luas. Terutama mengenai apa itu NFT, bagaimana cara kerjanya, apa manfaatnya, dan apa risikonya,” pungkas Yudho.
2. Penurunan Harga Bitcoin: Pertanda ‘Uptober’ yang Terancam?
Dalam beberapa hari terakhir di awal Oktober 2023, Bitcoin (BTC) mengalami gejolak harga
yang signifikan. Setelah mencatatkan lonjakan sebesar 6% pada tanggal 1 hingga 2 Oktober, aset kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar ini tiba-tiba tergelincir sebanyak 5%, yang dipicu oleh berbagai faktor.
Penurunan ini sedikit menimbulkan kekhawatiran akan pertanda momen “Uptober” yang mungkin belum terjadi dalam waktu dekat?
Trader Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menjelaskan saat ini hanya ada sedikit katalis yang dapat menggerakan Bitcoin lebih tinggi. Penurunan dapat disimpulkan adanya lonjakan imbal hasil obligasi (treasury yields) AS yang membuat dolar naik, sehingga mengurangi permintaan akan investasi berisiko. Selain itu, kekhawatiran terkait dengan peluncuran ETF Ethereum Futures yang kurang memuaskan dari sisi volume perdagangan transaksi.
Kinerja yang kurang impresif dari ETF Ether ini mungkin telah memadamkan harapan terkait aliran masuk dana ke ETF Bitcoin spot di masa depan. Selain itu, masih ada ketidakpastian yang menggantung seputar waktu dan peluang persetujuan dari SEC untuk produk-produk
tersebut.
“Di samping itu, kepercayaan investor pada Bitcoin telah terguncang oleh peristiwa di dunia keuangan konvensional, terutama berkaitan dengan kebijakan The Fed Amerika Serikat. Data terbaru tentang pasar tenaga kerja AS yang dirilis pada 3 Oktober menunjukkan peningkatan
yang signifikan dalam jumlah lowongan pekerjaan, yang pada gilirannya meningkatkan
ekspektasi terkait kemungkinan tindakan kontraktif dari The Fed,” kata Fyqieh.
Ketua The Fed, Jerome Powell, sebelumnya telah meramalkan kemungkinan respons kebijakan moneter jika situasi pasar tenaga kerja tidak membaik. Akibatnya, para pelaku pasar sekarang
memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 30% pada pertemuan bulan November, yang merupakan lonjakan dari angka 16% hanya satu minggu sebelumnya, menurut data dari CME FedWatch Tool.
Meski melemah, tapi Bitcoin sudah mulai bergerak menuju bulan perdagangan baru setelah mengalahkan sejarah pada bulan lalu, mengungguli S&P 500 dan Dow Jones Industrial.Average yang naik pada bulan September pertama dalam tujuh tahun.
Sejarah menunjukkan bahwa kinerja yang lebih baik dapat berlanjut pada bulan Oktober.
“Diharapkan kuartal terakhir tahun 2023 bisa menjadi momen baru bagi Bitcoin, karena beberapa kali terakhir BTC naik pada bulan September (pada tahun 2015 dan 2016).
Oktober—atau sebutan ‘Uptober’—telah meningkatkan reputasinya sebagai bulan favorit Bitcoin dengan BTC naik ke level tertinggi. Tapi, jangan terlalu bersemangat sampai Bitcoin menembus kisaran US$ 28.000 hingga US$ 30.000 untuk capai bull run baru,” ucap Fyqieh.
Secara kolektif, pasar kripto menunjukkan kasus bullish kecil, namun untuk memicu kenaikan yang signifikan butuh sentimen pendorong yang kuat. Pada akhirnya, prediksi harga Bitcoin dalam jangka panjang tampaknya sedikit bullish dengan tujuan segera melampaui US$ 30.000
atau sekitar Rp 467 juta.
@uli