Search
Close this search box.

Menelusuri Jembatan Cirahong (3/Habis): Tempat Favorit Membuang Mayat Pria Bertato “Dikarungan”

Jembatan Cirahong yang zaman petrus awal tahun 80-an menjadi tempat Favorit membuang mayat pria bertato "dikarungan"./visi.news/budi s ombik

Bagikan :

Catatan Budi S. Ombik

VISI.NEWS – Semua pejabat dalam proyek megabesar pembuatan jembatan Cirahong dikumpulkan. Dengan maksud untuk memasang perangkap agar sepasang mempelai pengantin baru itu masuk dalam umpannya.

Rencana jahat, picik dan gila pun akhirnya disepakati, yaitu mengajak pengantin baru tersebut untuk mengunjungi sang penguasa. Dengan embel-embel akan diberi sebuah kado istimewa sebagai hadiah pesta perkawinannya.

Mulailah perangkap umpan tersebut dipasang. Tidak sulit rupanya, sang pengantin baru tersebut akhirnya menyetujui ajakan tersebut.

Sang pengantin tidak menaruh curiga dari rencana jahat yang akan mencelakakan keduanya. Bulan purnama bertabur bintang di gelapnya malam, menjadi saksi kebiadaban penguasa megaproyek Jembatan Cirahong.

Dalam keadaan tidak sadar kedua mempelai yang baru melangsungkan ijab kobul pernikahannya itu dipasung hidup-hidup dalam coran beton yang berbeda.

Tiang beton tersebut merupakan penyangga jembatan yang menancap di antara bibir dan aliran Sungai Citanduy.

Kisah misteri tersebut hingga kini masih melekat dan menjadi buah bibir masyarakat yang mempercayainya. Bahkan kemudian menjadi tempat eksekusi kematian. Cerita horor yang dikait-kaitkan dengan kematian dan arwah gentayangan, kadung jadi “ikon” jembatan yang satu ini.

Saat zamannya petrus (penembakan misterius) awal-awal 80-an, Jembatan Cirahong disebut sebut sebagai tempat favorit pembuangan mayat preman yang jadi korban petrus.

Musim petrus bergelimpangan mayat di Jembatan Cirahong. Tak sedikit warga kerap menemukan jasad manusia bertato dalam karung.

Bahkan dari sejumlah temuan mayat tersebut, kebanyakan berjenis kelamin laki laki. Ceritera demi ceritera terus berkembang hingga berujung kisah horor.

Tidak sampai di disitu, Jembatan Cirahong di vonis sebagai kawasan untuk mengakhiri hidup seseorang yang dirundung kehidupan kelabu.

Adalah benar, sejumlah peristiwa bunuh diri di sini, bukan lagi “beja” dari mulut ke mulut. Sudah beberapa orang bahkan tidak bisa di hitung, kerap terjadi orang bunuh diri.

Baca Juga :  "Jangan Anggap Lemah", Farhan Gebrak Peran Perempuan

Entah itu karena faktor ekonomi, pergolakan rumah tangga, hingga kisah cinta. Alhasil Jembatan Cirahong adalah pilihan untuk mengakhiri hidup bagi sebagian orang.

Cerita lainnya konon warga sekitar sering mendengar suara orang tanpa sosok.
Ada yang “kawenehan” memanggil-manggil, menjerit histeris, meminta tolong, hingga suara rintihan seorang wanita seperti memelas.

Sesekali terdengar pula bunyi tetabuhan musik seperti orang tengah hajatan saat malam atau dini hari. Bahkan konon siang hari tepat pukul 12.00 WIB.

Belum lagi peritiwa kecelakaan yang mengakibatkan korban berujung pada kematian. Ragam peristiwa, kecelakaan lalu lintas yang tak masuk akal menjadi bumbu dalam ceritera horor tersebut.

Sang pengemudi saat melintas di sekitar jembatan, tiba-tiba melihat sesosok tubuh berjalan dan menghalangi ruas jalan.

Sang pengemudi tersebut pun tak sadarkan diri, ketika dirinya sudah berada di tengah masyarakat yang mengerubuti dan mengobati dirinya. Itu adalah nasib yang baik ketimbang korban sudah pulang nama ke rumah.

Lebih menegangkan lagi, kawasan Cirahong yang tanpa lampu mercury merupakan tempat subur bagi oknum masyarakat melakukan tindakan kejahatan.

Kurangnya lampu penerang jalan menuju kawasan Jembatan Cirahong menjadi dan mengundang tindak kejahatan.

Para pengendara, khususnya sepeda motor dihinggapi rasa kekhawatiran saat melintas kawasan tersebut menjelang pagi dini hari.
Suasana sepi nan gelap serta rimbunnya ragam jenis pohon, menjadikannya seram.

Itulah kisah Jembatan Cirahong yang hingga kini masih melekat. Meski sekarang sudah alam modernisasi, ceritera itu tidak bisa lepas begitu saja.

Bagi pengendara yang menggunakan kendaraan roda empat, ceritra itu bukan hanya dongeng. Mereka tidak bisa menyaksikannya kembali.

Pasalnya kendaraan roda empat kini dilarang melintas ke Jembatan Cirahong. Selain usia jembatan tersebut di atas 100 tahun. Juga akan mengefektifkan perawatan.

Baca Juga :  Kebakaran Hanguskan Bangunan Posyandu Sekaligus PAUD di Cibadak Sukabumi

Lepas dari semua hal, warg di sekitar jembatan mulai merasakan dampak dari pelarangan kendaraan roda empat untuk melintas.

Barang dagangan yang dijajakan di jongko ataupun yang ditawarkan ke para pengemudi, hilang. Bahkan sebagian di antaranya harus menutup kegiatan itu semua.

Hal serupa pun dirasakan oleh pengatur lalu lintas pintu gerbang jembatan. Meski tidak ada tarif khusus yang dibebankan atau seikhlasnya, pendapatan turun drastis.

Di antara mereka terpaksa ada yang hengkang dari tugasnya itu. Suasana yang biasa terlihat antrean mobil, kini “kosong molongpong.” Hanya yang terlihat sepeda motor, itu pun jumlahnya bisa dihitung. **

Baca Berita Menarik Lainnya :