VISI.NEWS – Mengenal lebih dekat dengan sosok Koordinator Tenaga Kesejahteraan Sosial (KTKS) Kabupaten Tasikmalaya, ada hal yang menarik dan bisa ditiru, bahkan ada sisi yang mengharukan sehingga layak ditulis.
Sosok Dwi Juli Kusmorop yang ditunjuk sebagai Koordinator KTKS oleh Pemkab sejak 2012 lalu, membuatnya harus berjibaku dengan kegiatan sosial.
Betapa tidak.
Dwi, panggilan akrab Dwi Juli Kusmorop yang berdomisili di Kampung Bojongbenteng, Desa Tanjungkerta, Kecamatan Pagerageung, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, harus mengedepankan kepentingan umum daripada kepentingan pribadinya. Ia rela mengorbankan keluarga demi menjungjung tinggi kepentingan sosial.
Pengorbanan pemuda kelahiran tahun 1983 itu sudah teruji dan terbukti dengan harus “kehilangan” istri tercinta dari lingkungan keluarganya.
Saat itu, cerita Dwi, dia tengah disibukkan oleh kegiatan sosial hingga harus meninggalkan sang istri dan seorang anaknya di rumah.
Tugas yang membuatnya sibuk itulah, membuat Dwi harus rela sang istri digoda lelaki lain dan akhirnya dengan berat hati harus bercerai. Namun beruntung, dalam waktu yang tak begitu lama, ia mendapat pengganti yang lebih baik dan mengerti terhadap tugasnya sebagai pekerja sosial.
Covid-19
Dalam situasi pandemi Covid-19 hingga masa diberlakukannya new normal, Dwi mengisahkan kegiatannya yang penuh trik dan menantang.
Tak jauh beda dengan kegiatan sebelumnya, musim Covid-19 pun sosok pemuda berpostur “jangkung gendut” ini kerap berada di lingkungan yang melibatkan massa.
Kegiatan yang menentang protokol pemerintah yakni social dan physical distancing, menjadikannya sebagai ajang pembelajaran diri dalam segala hal.
Lelaki keturunan Jawa dan Sunda ini pun telah lebih maju dalam memilih, memilah, permasalahan yang dianggapnya mengancam bahtera keluarganya.
“Saya belajar dari pengalaman hidup yang pahit,” ucap pemilik karakter “acuh tapi butuh” di saat obrolannya dengan VISI.NEWS di waktu senggangnya.
Karena keseharian yang selalu berjibaku dengan kegiatan sosial, social dan physical distancing bukanlah penghalang untuk menceburkan diri ke lingkungan yang kerap dikerubuti warga.
Tak jarang dalam menjalankan tugasnya, lelaki yang memiliki banyak koneksi ini kerap melakukan manuver manuver di luar tor, jadwal. Bahkan, saat berkumpul dengan keluarganya pun harus rela menerapkan protokol kesehatan.
“Saya sadar akan ancaman keluarga dari virus pandemi. Tak ada pilihan lain, selain harus mengungsikan istri dan dua anak ke tempat yang lebih aman yaitu rumah sang mertua,” tuturnya.
Tak sia-sia, saat rekan sejawatnya gugur dalam menjalankan tugas pun, Dwi berhasil mengantar rekan yang gugur itu masuk daftar orang yang berjasa di bidang sosial. Hingga laporannya itu dijadikan arsip oleh Kementrian Sosial Republik Indonesia.
Bahkan ketika tercium ada rencana kunjungan Menteri Sosial untuk menyalurkan Bantuan Tunai Sosial (BTS) ke Wilayah Kabupaten Tasikmalaya, bermula ke Singaparna. Dwi mengusulkannya untuk dipusatkan ke wilayah Ciawi. Dan berhasil.
Sebelumnya, lelaki simpel ini telah melaporkan keluarga Uus Usman yang gugur saat bertugas untuk mendapatkan penghargaan dari Kemensos. Dan usulan pemberian penghargaan itu pun harus dibarengkan dengan kegiatan Kemensos menyalurkan BTS. Dan lagi-lagi berhasil.
Perjuangan demi perjuangan yang dibarengi dengan pengorbanan itulah, membuat sosok pria yang mudah bergaul, tapi “pelit senyum” (serius, red.) ini banyak dikenal di lingkungan Muspida Pemkab hingga politikus dan lembaga sosial masyarakat (LSM) sekalipun.
Piawai Bercocok Tanam
Di sela-sela kesibukannya sebagai pengabdi sosial, Dwi yang strata satu di bidang pendidikan dengan gelar S.Pd ini memiliki kepiawaian dalam hal bercocok tanam.
Ragam tanaman bibit unggul terhampar di pekarangan rumahnya. Mulai bibit pohon durian montong, bibit pohon jambu kristal hingga bibit pohon lainnya yang siap tanam.
Saat kolega-koleganya menggelar acara di wilayah Pagerageung, sudah dipastikan mampir ke saungnya yang dipenuhi tanaman bibit berkualitas.
“Jika ada acara di wilayah Pagerageung, saya selalu disibukkan dengan mereka yang sudah pasti usai kegiatan datang ke rumah untuk membawa bibit tanaman,” kelakar pria yang sudah dua kali menikah ini.
Keahlian membudidayakan ragam bibit tanaman didapatnya dari pergaulan. Intensitas interaksi dengan masyarakat berbagai kalangan itulah, membuatnya mengantongi ilmu. Salah satunya tekhnik bercocok tanam.
Sosok Dwi Juli Kosmorop Koordinator KTKS telah memberi inspirasi kepada seluruh pemuda yang memiliki jiwa kesatraia. Bahkan pantang mundur dalam memecahkan beragam permaslahan yang tengah dihadapinya.
“Semboyan hilang satu tumbuh seribu adalah mutlak. Kesulitan apa pun dipastikan ada jalan keluar,” tegas pria yang memiliki nama lengkap Yudi Risma Risnandi, S. Pd. ini. @bik