VISI.NEWS — Pengamat Politik dari Parpol Demokrat Kab. Bandung, H. Yuyun Saepudin, mengatakan, jangan sampai masyarakat merasa dipaksa atau terpaksa saat memilih. Meskipun pada kenyataannya politik itu bersifat dinamis yang bisa merubah pilihan masyarakat, terkecuali pemilih militan atau Parpol militan.
Dikemukakan Yuyun, saat transisi ekonomi dan sosial di masa Pandemi Covid-19, ada kecenderungan pemanfaatan situasi serta kondisi untuk memperoleh raihan suara terbanyak. Biasanya itu terjadi karena adanya rasa hutang budi yang membebani masyarakat. Sehingga ingin membalas budi.
“Disinilah dinamisasi politik akan terlihat, bahwa pilihan masyarakat tidak lagi murni tapi lebih pada berdasarkan hutang budi,” katanya via seluler, Senin (12/10/2020).
Kecuali bagi masyarakat militan atau Parpol militan, lanjutnya, pilihannya tidak akan berubah begitu juga dengan sikap pendukungannya terhadap Paslon tersebut.
Salah satu cara, ditambahkannya, dengan memanfaatkan situasi dan kondisi masyarakat saat ini, sengaja memberi bantuan dengan penekanan psikologis agar mau mengikuti arahannya untuk memilih Paslon tertentu.
Menyikapi hal demikian, ditegaskan Yuyun, kembali kepada masyarakatnya sendiri. Tentang siapa yang pantas dan layak menjadi pemimpin di Kabupaten Bandung. Serta sesuai dengan kriteria dan harapan masyarakat selama ini.
“Pemimpin itu harus amanah, adil, bijaksana, mengerti apa yang dikehendaki masyarakat dan lebih memprioritaskan kebutuhan masyarakatnya,” ujarnya.
Jadi pada hakekatnya, ditegaskannya, biarkan masyarakat memilih atas dasar hati sanubarinya. Memilih atas pilihannya, karena masyarakat sudah tahu siapa sebenarnya yang pantas serta layak dipilih untuk menjadi pemimpin. @qia.