VISI.NEWS | JAKARTA – Pelemahan nilai tukar rupiah ke level Rp17.320 per dolar AS pada awal pekan menimbulkan tekanan baru bagi perekonomian domestik. Posisi ini tidak hanya mencerminkan tren depresiasi yang berlanjut, tetapi juga menjadi sinyal meningkatnya risiko terhadap stabilitas harga dan daya beli masyarakat.
Data menunjukkan rupiah dibuka melemah 0,09 persen, melanjutkan pelemahan sebelumnya yang ditutup di Rp17.305 per dolar AS. Level ini menjadi titik terlemah sepanjang sejarah, menandakan tekanan yang belum mereda di pasar keuangan.
Dari sisi ekonomi, pelemahan rupiah berpotensi mendorong kenaikan inflasi, terutama melalui jalur impor. Kepala Ekonom Bank Maybank Indonesia, Juniman, menyebut bahwa tekanan ini diperkuat oleh kenaikan harga sejumlah komoditas pangan serta bahan bakar.
“Pelemahan rupiah turut mendorong kenaikan inflasi impor. Sementara itu, seiring penurunan harga emas dunia, harga emas dan perhiasan mengalami penurunan pada bulan Maret,” tutur Juniman dalam keterangannya dikutip, Senin (4/5/2026).
Kenaikan harga komoditas seperti beras, gula, minyak goreng, daging, hingga cabai merah menjadi faktor tambahan yang memperbesar tekanan inflasi. Di saat yang sama, kenaikan harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax Turbo, Pertamina Dex, dan Dexlite turut memperkuat dampak tersebut terhadap biaya hidup.
Pelaku pasar kini menaruh perhatian pada rilis inflasi Indeks Harga Konsumen April 2026 yang diperkirakan mencapai 0,43 persen secara bulanan dan 2,72 persen secara tahunan. Data ini dinilai krusial karena akan memengaruhi arah kebijakan Bank Indonesia, khususnya dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi.
Dari sisi eksternal, penguatan indeks dolar AS yang mencapai level 98,194 turut menambah tekanan terhadap rupiah. Selain itu, perkembangan geopolitik di Timur Tengah juga menjadi faktor yang meningkatkan ketidakpastian global. Pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait upaya pembebasan kapal di Selat Hormuz menambah perhatian pasar terhadap risiko gangguan pasokan energi.
Kondisi ini berpotensi memengaruhi harga minyak dunia, yang pada akhirnya dapat memperburuk tekanan inflasi di dalam negeri. Dengan kombinasi faktor domestik dan global, pelemahan rupiah saat ini menjadi tantangan serius bagi perekonomian nasional.
Secara keseluruhan, situasi ini menuntut respons kebijakan yang tepat untuk menjaga stabilitas ekonomi, sekaligus melindungi daya beli masyarakat dari tekanan harga yang terus meningkat. @desi