VISI.NEWS|BANDUNG -Atletico Madrid mengirim pesan tegas dalam perburuan trofi Copa del Rey musim 2025/2026. Bermain di hadapan publik sendiri di Stadion Metropolitano, Jumat (13/2/2026) dini hari WIB, tim asuhan Diego Simeone tampil ganas dan melumat Barcelona dengan skor telak 4-0 pada leg pertama semifinal.
Kemenangan ini bukan sekadar hasil besar, tetapi juga menunjukkan perbedaan efektivitas kedua tim. Atletico tampil disiplin, tajam dalam transisi, dan tanpa ampun saat memanfaatkan kesalahan lawan, sementara Barcelona justru terjebak dalam dominasi penguasaan bola yang minim ancaman nyata.
Diego Simeone menegaskan bahwa kunci kemenangan timnya adalah intensitas sejak awal laga.
“Kami bermain dengan intensitas tinggi sejak menit pertama. Tim menunjukkan karakter, disiplin, dan efektivitas yang luar biasa malam ini,” kata Simeone.
Petaka bagi Barcelona datang sangat cepat. Baru enam menit pertandingan berjalan, kesalahan di lini belakang membuat bola berakhir di gawang sendiri setelah situasi yang kemudian dicatat sebagai gol bunuh diri Eric Garcia. Gol pembuka tersebut langsung mengangkat kepercayaan diri tuan rumah.
Delapan menit berselang, Antoine Griezmann menggandakan keunggulan melalui penyelesaian tenang memanfaatkan umpan terobosan Nahuel Molina. Publik Metropolitano semakin bergemuruh ketika Ademola Lookman mencetak gol ketiga pada menit ke-33 lewat sepakan first-time keras hasil assist Julian Alvarez.
Penderitaan Barcelona belum berakhir. Di masa injury time babak pertama, giliran Alvarez mencatatkan namanya di papan skor setelah menerima umpan Lookman. Babak pertama ditutup dengan keunggulan mencolok 4-0 untuk Atletico.
Antoine Griezmann menilai kemenangan besar ini merupakan buah dari kerja kolektif tim.
“Kami tahu Barcelona akan menguasai bola, jadi kami fokus pada organisasi dan serangan balik. Semua pemain menjalankan tugasnya dengan sempurna,” ujar Griezmann.
Memasuki babak kedua, Barcelona mencoba bangkit dengan meningkatkan penguasaan bola hingga lebih dari 65 persen. Mereka sempat mencetak gol melalui Pau Cubarsi pada menit ke-51, namun dianulir setelah VAR mendeteksi posisi offside dalam proses serangan.
Situasi semakin buruk bagi tim tamu ketika Eric Garcia menerima kartu merah pada menit ke-85 setelah pelanggaran keras, membuat Barcelona harus menutup pertandingan dengan 10 pemain.
Pelatih Barcelona, Hansi Flick, mengakui timnya tampil jauh di bawah standar.
“Kami membuat terlalu banyak kesalahan dan dihukum oleh tim yang sangat efektif. Ini hasil yang menyakitkan, tetapi kami harus bereaksi di leg kedua,” kata Flick.
Secara statistik, Barcelona unggul dalam penguasaan bola (66 persen) dan jumlah operan, tetapi Atletico lebih klinis dengan delapan tembakan tepat sasaran dari total 12 percobaan.
Hasil ini menjadi modal besar bagi Atletico untuk menatap leg kedua, sementara Barcelona menghadapi misi berat untuk membalikkan defisit empat gol jika ingin menjaga peluang ke final tetap hidup.@fajar