VISI.NEWS | JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali melemah dan menembus level psikologis baru di atas Rp 17.600 per dollar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (15/5/2026) pagi.
Berdasarkan pantauan di platform Google Finance pada pukul 09.03 WIB, kurs 1 dollar AS tercatat setara Rp 17.603,20. Data tersebut merujuk pada pergerakan Morningstar yang ditampilkan di Google Finance.
Di platform Bloomberg, rupiah juga terpantau masih berada dalam tren pelemahan terhadap dollar AS. Sebelumnya, rupiah ditutup di level Rp 17.529 per dollar AS pada perdagangan terakhir.
Pada awal perdagangan hari ini, rupiah bergerak di kisaran Rp 17.540 hingga Rp 17.550 per dollar AS sebelum akhirnya menembus level di atas Rp 17.600.
Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah penguatan dollar AS secara global, kenaikan harga minyak dunia, serta meningkatnya sentimen risk off di pasar keuangan akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.
Sebelumnya, Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, memperkirakan pergerakan rupiah pada kuartal II 2026 berada di rentang Rp 17.200 hingga Rp 17.600 per dollar AS. Ia menilai harga minyak dunia yang tinggi serta belum pulihnya arus modal asing menjadi faktor utama pelemahan rupiah.
“Jika Brent bertahan di atas 110 dollar AS per barrel dan arus modal asing belum pulih, rupiah bisa menguji Rp 17.800,” ujar Josua Pardede dalam keterangannya dikutip, Jumat (15/5/2026).
Senada, Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebut kenaikan harga minyak mentah dunia dan sentimen pasar global masih menjadi tekanan bagi mata uang regional, termasuk rupiah.
“Rupiah dan mata uang regional terpantau melemah cukup besar terhadap dollar AS oleh harga minyak mentah dunia yang kembali naik,” kata Lukman Leong dalam keterangannya dikutip, Jumat (15/5/2026).
Sementara itu, Reuters melaporkan rupiah sempat menyentuh rekor terlemah baru di level Rp 17.535 per dollar AS akibat lonjakan harga minyak serta kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal Indonesia. @desi