
VISI.NEWS|BANDUNG – Pascagempa, 10.000 orang di posko-posko membutuhkan air bersih, sedangkan pipa PDAM kota pecah dan komunikasi lumpuh. Begitulah kondisi kegawatdaruratan yang digambarkan pada skenario simulasi Pendidikan dan Pelatihan Dasar (diklatsar) Water and Sanitation Emergency Response Team (WatSan ERT) Batch 2 di Pusdikav Padalarang.
Pada Rabu, 8 Oktober 2025 pukul 02.00 WIB, peserta sudah dibangunkan karena mereka harus memenuhi kebutuhan air di posko-posko yang tersebar di beberapa titik. Tim dibagi menjadi 3 regu dan dibekali dengan peralatan komunikasi untuk melakukan assessment. Tim mengumpulkan dan mengolah data serta informasi sumber air, titik pengungsian, rute distribusi dan hal lainnya yang akan digunakan untuk membuat rencana produksi dan distribusi air. Beberapa titik seperti alun-alun kota Cimahi, Stadiun Sangkuriang, Lapangan Tembak Gunung Bohong telah diakses dan dipetakan oleh tim untuk selanjutnya diolah menjadi rencana operasi.
Setelah selesai melakukan pemetaan, peserta mendapatkan istirahat. Menjelang sore, unit Water Treatment Plant (WTP) milik kantor SAR Kota Bandung (BASARNAS) yang telah hadir di lokasi camp digunakan untuk materi pengenalan unit WTP. Pada sesi tersebut juga dilatihkan teknik pengepakan dengan menggunakan palet dan penggunaan hydraulic crane lift yang tersedia di truk tronton WTP BASARNAS.
Pelatihan dilanjutkan pada sesi latihan malam dengan melakukan produksi air dan mobilisasi peralatan dan pasukan dengan skenario distribusi air kepada para penerima manfaat. Semua rangkaian kegiatan ini dipandu menggunakan sistem komunikasi radio VHF dan instruksi dari Posko Aju Pusat Pengendali Operasi (PUSDALOPS) BPBD Provinsi Jawa Barat.
Sesi simulasi dan pergerakan lapangan itu cukup menguras energi pikiran dan fisik peserta serta para tenaga pendukung latihan. Pada Kamis pagi, 9 Oktober 2025, komando latihan menerima keluhan mengenai kondisi kesehatan dari salah seorang peserta.
Hari Kamis (09/10/2025), peserta diklatsar WatSan gelombang Ke-2 masih melaksanakan rangkaian kegiatan dalam skenario respon bencana gempa. Tim akan mensimulasikan produksi dan pelayanan air di salah satu rumah sakit. Tim kesehatan segera melakukan evakuasi peserta tersebut ke RS Cahya Kawaluyaan yang hanya berjarak ±1 kilometer dari lokasi latihan dan memang sudah dikondisikan sebagai rumah sakit rujukan. Koordinasi dengan dokter pendamping dari Wanadri juga dilakukan untuk memantau perkembangan pasien. Setelah dilakukan penanganan, peserta tersebut sudah diperbolehkan kembali ke kamp latihan.
Sementara itu, di kamp latihan, berlangsung sesi Fokus Group Discussionn (FGD) yang membahas proses assessment. Para peserta saling mengevaluasi dan belajar dari pengalaman peserta lainnya. Di tempat berbeda, tim lain melakukan operasi perbaikan truk WTP Puskim yang mengalami kendala dan terpaksa ditinggalkan di medan operasi.
Setelah makan siang, kegiatan selanjutnya adalah production camp. Tim dihadapkan pada misi untuk melakukan pelayanan air yang diskenariokan adalah di RS Dustira Cimahi. Peserta menggunakan alat WTP milik Basarnas berkapasitas produksi 3.000 liter per jam air siap minum, yang langsung dimasukkan pada truk tangki milik BPBD Provinsi Jawa Barat.
Setelah melakukan produksi, sore hari tim bersiap untuk melakukan simulasi distribusi dan penyerahan kepada penerima manfaat. Malam harinya, kegiatan sekaligus dipandu dengan materi cara menggunakan dan mensinergikan platform produksi yang berbeda-beda tetapi untuk satu tujuan. @TKS