VISI.NEWS – Calon Bupati Bandung nomor urut 2, Hj. Yena Iskandar Masoem, mengaku kurang puas dengan debat yang digelar KPU yang dilaksanakan di Kopo Square Margahayu, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Sabtu (14/11/2020) malam.
Kekurangpuasan tersebut diakui Yena dikarenakan banyak yang tidak bisa pihaknya sampaikan karena banyak pertanyaan yang tidak sesuai dengan yang ada di tema. Ditambah lagi, kata Yena, mengenai sesi tanya jawab, waktu untuk bertanya dibandingkan dengan waktu untuk menjawab tidak berimbang.
“Kami kurang puas untuk bisa memberi pesan kepada masyarakat tentang program kami,” jelas Yena kepada wartawan usai acara debat kedua Pilkada Kabupaten Bandung di lokasi, Sabtu malam.
Menurutnya, guna menyampaikan pesan tersebut kepada masyarakat, selanjutnya pihaknya akan menyampaikan kembali pesan yang sama melalui media sosial miliknya.
“Dengan media sosial yang dimiliki, diharapkan masyarakat dapat menerima pesan kami. Dimana dalam medsos, kami sudah banyak melakukan aksi tentang pengelolaan sampah,” tuturnya.
Kata dia, nantinya juga pihaknya akan membuat medsos khusus untuk berbagi kepada masyarakat mengenai bagaimana mengelola sampah. Oleh karena itu, pihaknya pun meminta kepada media untuk turut serta mengkritisi dan memberikan informasi kepada masyarakat perihal program sampah ini.
“Saya punya program sampah, dimana sampah ini harus bisa diselesaikan di tingkat RW dan Desa. Dengan adanya program ini, artinya agar menghindari sampah ini tidak terjadi penumpukan sampah di TPA,” ucapnya.
Yena menambahkan, program ini adalah mengenai bagaimana mengolah sampah yang tidak mempunyai nilai jual atau nilai ekonomi seperti sampah organik.
Lanjut Yena, nantinya sampah ini akan pihaknya kelola. Dimana sampah ini menghasilkan dua residu yakni residu padat dan cair. “Residu cair itu untuk pupuk dan disinfektan. Sedangkan untuk residu padat, untuk kompos,” jelasnya.
Dalam program pengelolaan sampah ini, pihaknya juga akan memberikan modal kepada Desa sebesar 50 juta rupiah. Kata dia, nantinya untuk membeli sampah-sampah yang mempunyai nilai ekonomis di luar sampah organik yang nantinya disalurkan kepada RW.
“Dengan modal itu, para ibu rumah tangga bisa menjual sampah yang punya nilai ekonomis, salah satu contohnya adalah plastik. Sedangkan untuk sampah organiknya dikelola oleh mesin pengelola sampah,” pungkasnya. @yus