Search
Close this search box.

Peringatan Bahaya Megathrust, BRIN Sebut Potensi Gempa dan Tsunami Besar Mengancam Selatan Jawa

Ilustrasi retakan./visi.news/pixabay.

Bagikan :

VISI.NEWS | JAKARTA – Indonesia kembali diingatkan akan ancaman nyata dari gempa megathrust, dengan beberapa zona rawan diantaranya Selat Sunda, pantai selatan Jawa, hingga Mentawai-Siberut. Peneliti dari Pusat Riset Kebencanaan Geologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Nuraini Rahma Hanifa, mengungkapkan melalui penelitian paleotsunami bahwa gempa megathrust di selatan Jawa memiliki periode ulang sekitar 400-600 tahun, dengan kejadian terakhir diperkirakan terjadi pada tahun 1699. Menurutnya, energi yang tersimpan saat ini telah mencapai titik kritis dan bisa menyebabkan bencana besar.

“Bencana seperti tsunami Aceh mengajarkan kita bahwa kesiapsiagaan dan mitigasi bencana adalah kunci untuk menyelamatkan nyawa,” ujar Rahma dalam keterangannya pada Sabtu (4/1/2025).

Ia menambahkan bahwa gempa megathrust yang terjadi di wilayah selatan Jawa berpotensi memicu tsunami besar dengan skala serupa yang menghantam Aceh, sehingga perlu perhatian serius dari pemerintah dan masyarakat untuk melakukan mitigasi risiko bencana.

Berdasarkan hasil penelitian BRIN, segmen megathrust di selatan Jawa, termasuk Selat Sunda, menyimpan energi tektonik yang sangat besar. Gempa yang dapat terjadi diperkirakan berkekuatan magnitudo 8,7 hingga 9,1, yang akan memicu guncangan besar dan tsunami. Dalam simulasi yang dilakukan bersama tim peneliti lainnya, tsunami yang tercipta dapat mencapai ketinggian gelombang 20 meter di pesisir selatan Jawa, 3-15 meter di Selat Sunda, dan 1,8 meter di pesisir utara Jakarta.

“Potensi megathrust ini dapat memicu goncangan gempa yang besar dan tsunami, yang menjalar melalui Selat Sunda hingga ke Jakarta dengan waktu tiba sekitar 2,5 jam,” tuturnya.

Rahma menambahkan bahwa energi yang terperangkap di zona subduksi selatan Jawa terus bertambah. Jika dilepaskan, goncangan besar ini akan memicu tsunami yang berdampak luas tidak hanya di selatan Jawa, tetapi juga di pesisir wilayah lainnya. Fenomena serupa pernah terjadi pada tsunami Pangandaran 2006 yang disebabkan oleh marine landslide di dekat Nusa Kambangan.

Baca Juga :  Jadwal SIM Keliling Kota Cimahi Hari Ini, Senin 27 April 2026

“Energi yang terkunci di zona subduksi selatan Jawa terus bertambah seiring waktu. Jika dilepaskan sekaligus, goncangan akan memicu tsunami tinggi yang bisa berdampak luas, tidak hanya di selatan Jawa tetapi juga di wilayah pesisir lainnya,” tambahnya.

Untuk itu, BRIN mengingatkan pentingnya mitigasi bencana melalui pendekatan struktural dan non-struktural. Pendekatan struktural mencakup pembangunan tanggul penahan tsunami, pemecah ombak, dan penataan ruang di kawasan pesisir dengan memperhatikan jarak aman 250 meter dari bibir pantai.

“Pembangunan hutan pesisir atau vegetasi alami seperti pandan laut dan mangrove juga menjadi solusi berbasis ekosistem untuk meredam energi gelombang tsunami,” ucap Rahma.

Sementara itu, pendekatan non-struktural melibatkan edukasi mitigasi bencana untuk masyarakat, pelatihan simulasi evakuasi, serta penyediaan jalur dan lokasi evakuasi yang memadai.

“Kita harus memastikan bahwa masyarakat memiliki pemahaman tentang potensi bahaya tsunami, sistem peringatan dini yang efektif, serta kemampuan merespons dengan cepat,” sebutnya.

Di daerah perkotaan seperti Jakarta, upaya mitigasi gempa juga mencakup retrofitting atau penguatan struktur bangunan, terutama di kawasan padat penduduk, untuk mengurangi potensi kerusakan besar akibat guncangan kuat.

Selain itu, kawasan industri seperti Cilegon, yang memiliki banyak pabrik besar, juga harus mengantisipasi potensi kebakaran akibat kebocoran bahan bakar atau bahan kimia jika gempa terjadi. Standar keamanan yang ketat perlu diterapkan untuk mengurangi risiko secondary hazards seperti ini. @ffr

Baca Berita Menarik Lainnya :