Peringati Hari Bumi, ISBI Bandung Kick Off Program Kampus Hijau di Bandung dan Bandung Barat

Editor Rektor Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) Bandung Dr. Retno Dwimarwati, S.Sn., M.Hum bersama jajaran tim TAP melakukan serial kegiatan penanaman dan program kampus hijau. /visi.news/bambang melga suprayogi
Silahkan bagikan

VISI.NEWS | BANDUNG – Memperingati hari bumi yang jatuh pada tanggal 22 April lalu, Rektor Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) Bandung Dr. Retno Dwimarwati, S.Sn., M.Hum bersama jajaran tim TAP melakukan serial kegiatan penanaman dan program kampus hijau secara marathon di dua tempat yang berbeda pada satu hari yang sama. Kegiatan tersebut secara maraton dilaksanakan di dua tempat berbeda, yakni; Kawasan Cikamuning kabupaten Bandung Barat, serta Kampus ISBI Bandung yang terletak di Buahbatu nomor 212 Kota Bandung.

Proyeksi Kampus II ISBI Bandung di Cikamuning

Kegiatan pertama dilakukan Rabu (24/4) pagi hari pada pukul 09.00 s.d 11.00 di kawasan Cikamuning Kabupaten Bandung Barat, tepatnya di wilayah Warungawi desa Bojongkoneng, kecamatan Ngamprah, kabupaten Bandung Barat. Pada rangkaian kegiatan pertama, selain didampingin jajaran TAP, rektor ISBI Bandung juga secara kolaboratif menjalankan kegiatan bersama Masyarakat di Cikamuning, dari unsur pemerintahan RT/RW, BPD, hingga perangkat desa Bojongkoneng.

Kawasan Cikamuning merupakan lahan yang diproyeksikan menjadi Kampus II ISBI Bandung. Momen hari bumi oleh Rektor ISBI Bandung dijadikan sebagai tonggak menuju kampus II ISBI Bandung yang mengarusutamakan filosofi Masyarakat sunda yang lekat dengan alam dan lingkungan hidup. Karena itu, sejak awal inisiasi pengembangan kampus, kegiatan utama yang dilakukan adalah penataan kawasan berbasis Patanjala yang menjadi pengetahuan Masyarakat Sunda dalam mengelola ruang. Setelah ditetapkan kawasan berbasis tata wilayah (ruang), wayah (waktu), dan lampah (perilaku), ISBI Bandung mendorong inisiasi lokasi reforestasi di sekitar kawasan Cikamuning yang pada saat ini relatif masih gersang.

Pada kegiatan pertama, beberapa jenis pohon yang ditanam secara simbolik diwakili oleh beberapa jenis tumbuhan, diantaranya; Hanjuang, Samolo, Kamuning, dan beberapa pohon endemik sebagai bagian dari konservasi jenis pepohonan asli Jawa Barat.

Baca Juga :  Terjadi 6 Kasus Menonjol Selama 2020 di Wilayah Hukum Polresta Tasikmalaya

Penanaman Hanjuang, Samolo, dan Kamuning, menurut rektor ISBI Bandung memiliki filosofi tersendiri. Hanjuang sebagai filosofi tetengger atau penanda, batas sebuah kawasan awal yang hendak ngababakan, dibuka, mendapat keberkahan. Sementara itu pohon Samolo lekat dengan nilai-nilai silih wawangi, serta pohon Kamuning yang secara etimologi memiliki kelekatan dengan kawasan Cikamuning menjadi komitmen semangat ISBI Bandung yang menghormati kearipan lokal yang berlaku di kawasan tersebut.

Kick Off Kampus Hijau di Kampus I Kota Bandung

Tak lama setelah selesai rangkaian penanaman di Cikamuning kabupaten Bandung Barat, rektor ISBI Bandung secara serial meresmikan program Kampus Hijau yang diinisiasi Mapala Arga Wilis bersama Organisasi Mahasiswa (Ormawa) di Kampus I yang terletak di jalan Buahbatu no.212 Bandung.

Program Kampus Hijau yang diinisiasi secara organik oleh mahasiswa ini, mengambil tajuk; “Kenali, Lindungi”.
Program Kampus Hijau di kampus I ISBI Bandung ini terdiri dari kegiatan pendataan pohon kampus, konservasi ruang terbuka hijau kampus I ISBI Bandung sebagai paru-paru wilayah Buahbatu dan kota Bandung, serta corridor forest yang menjadi Inisiasi integrasi RTH (ruang terbuka hijau) di kawasan kampus dan wilayah lain di sekitar Buahbatu.

Dalam sambutan peresmiannya, rektor ISBI Bandung selain mendukung penuh inisiasi mahasiswa tersebut, juga menggarisbawahi fungsi ekologi kampus I ISBI Bandung sebagai ruang terbuka hijau yang menjadi paru-paru wilayah Buahbatu. Harapannya, dalam jangka panjang, program integrasi RTW di wilayah buahbatu selain dapat memperluas ruang hijau, juga dapat memperluas habitat hidup satwa yang hidup di sekitar kawasan Kampus.

Selain itu, Rektor ISBI Bandung juga menjelaskan bahwa hubungan nilai-nilai kasundaan dengan pohon-pohon yang ada di ISBI Bandung memiliki makna yang penting untuk dijaga dan dilestarikan, dan keberadaan hubungan tersebut erat kaitannya dengan eksistensi ISBI Bandung sebagai kampus seni yang berbasis kebudayaan.

Baca Juga :  Mobil Dirampas DC, Polisi Tolak Laporan Masyarakat

Secara terpisah, Fajar (20), inisiator sekaligus Ketua/Pucuk Mapala Arga Wilis, menjelaskan bahwa program yang menjadi program bersama mahasiswa ini diselenggarakan untuk menumbuhkan kecintaan Masyarakat ISBI Bandung terhadap lingkungan sekitar, khususnya terhadap pohon-pohon dan tumbuhan yang memiliki nilai-nilai ekologi dan budaya.

Karena itu, masih menurut Fajar, pendataan nama-nama pohon kampus di lingkungan ISBI Bandung tidak hanya mengedepankan dimensi ekologi dengan menjelaskan nama latin, tetapi juga menampilkan nama lokal (Sunda) beserta cerita, dan catatan unik secara kultural di setiap pohon-pohon yang ada di lingkungan ISBI Bandung; dari motologi, hingga larangan atau pamali-pamali yang meletkat pada pohon-pohon yang ada.

Menutup sambutannya, Rektor ISBI Bandung menekankan Kampus ISBI Bandung sebagai kampus seni yang lekat dengan nilai-nilai kebudayaan (Sunda) tidak bisa dipisahkan dengan filosofi hidup yang selaras dengan lingkungan, serta nilai-nilai penghormatan terhadap alam, karena itu kick off kampus hijau ISBI Bandung bukan hanya semata program seremonial peringatan hari bumi semata, tetapi menjadi momentum membangun kesadaran pertama menjaga kelestarian lingkungan.

@bambang melga suprayogi

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Rasulullah Tak Pernah Kencing Sambil Berdiri, Ini Dalilnya

Sab Apr 27 , 2024
Silahkan bagikanVISI.NEWS | BANDUNG – Dalam ajaran Islam sendiri, Rasulullah mengajarkan umatnya untuk tidak kencing sambil berdiri, karena supaya percikan air seni tak terkena pakaian atau badan, sebab dengan kencing sambil berdiri percikan air seni akan lebih jauh, bahkan memerciki badan dan dapat terkena pakaian atau celana tanpa kita ketahui. […]