Search
Close this search box.

Program MBG di Sukabumi Jangkau 923 Ribu Penerima Manfaat, dari Balita hingga Santri

Ilustrasi Penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG)./visi.new/bgn.go.id.

Bagikan :

VISI.NEWS | SUKABUMI – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sukabumi telah menjangkau sekitar 923 ribu penerima manfaat, meliputi kelompok B3 yang terdiri dari balita, ibu hamil, dan ibu menyusui, kemudian anak sekolah, santri, hingga anak usia sekolah yang tidak bersekolah.

Koordinator Wilayah (Korwil) BGN Kabupaten Sukabumi, Sandi Ibnu Aziz mengatakan, ratusan ribu penerima manfaat tersebut dilayani melalui 356 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang aktif beroperasi di wilayah Kabupaten Sukabumi.

“Adapun untuk jumlah penerima manfaat yang tercover di Kabupaten Sukabumi, saya cek di sistem sekitar 923 ribu mulai tingkat B3, anak sekolah, santri, hingga anak usia sekolah yang tidak bersekolah itu kami cover juga,” ujarnya.

Di tengah ratusan dapur yang telah beroperasi, Sandi menyatakan terdapat 13 dapur SPPG yang belum beroperasi.

Kondisi tersebut disebabkan belum tersedianya kepala dapur dan tenaga ahli gizi sebagai syarat utama operasional.

“Untuk 13 SPG yang belum beroperasi, salah satu alasan utamanya memang karena belum ada ahli gizi dan kepala dapurnya. Tanpa ahli gizi, SPG tidak boleh beroperasi,” katanya.

Sandi menambahkan, saat ini terdapat kebijakan baru terkait kualifikasi tenaga ahli gizi di dapur SPPG. Posisi ahli gizi tidak lagi hanya dapat diisi oleh lulusan sarjana gizi, tetapi juga tenaga dengan latar belakang Teknologi Pangan maupun Kesehatan Masyarakat diperbolehkan bertugas sebagai ahli gizi di SPPG.

“Ada kebijakan baru tidak hanya bergelar S.Gz, tapi untuk gelar lain seperti Teknologi Pangan atau Kesehatan Masyarakat dan yang punya sertifikat khusus selain gizi,” imbuhnya.

Ia menyebut, kebutuhan tenaga ahli gizi di Kabupaten Sukabumi sejauh ini masih tergolong aman. Bahkan, sejumlah tenaga ahli gizi yang bertugas di beberapa SPPG berasal dari luar daerah, seperti Ambon dan Bengkulu.

Baca Juga :  Humaira Anggota DPRD Jabar Apresiasi Insentif Guru Ngaji dan Marbot di Kabupaten Bandung

Meski demikian, Sandi mengakui terdapat beberapa SPPG yang sempat dihentikan sementara operasionalnya akibat tidak memiliki tenaga ahli gizi. Salah satunya berada di Kecamatan Curugkembar.

“Contoh waktu itu ada dari Kecamatan Curugkembar. Kita suspend, kita berhentikan dulu karena tidak ada ahli gizinya. Setelah ada ahli gizi, baru bisa operasional kembali,” pungkasnya. @andri

Baca Berita Menarik Lainnya :