VISI.NEWS | BANDUNG – Umat Islam dianjurkan menjalankan puasa Tasua dan Asyura pada 9 dan 10 Muharam 1447 H. Puasa sunah ini bukan hanya ibadah rutin, tetapi juga sarat dengan makna sejarah dalam perjalanan Islam.
Dikutip dari laman Muhammadiyah, sebelum puasa Ramadan diwajibkan, Rasulullah SAW bersama kaum Quraisy sudah berpuasa pada hari Asyura. Tradisi tersebut diyakini sebagai warisan ajaran Nabi Ibrahim AS yang bertahan di Makkah sejak zaman jahiliyah.
Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Aisyah RA menyebut bahwa Rasulullah memerintahkan umat Islam untuk berpuasa Asyura sebelum turunnya kewajiban puasa Ramadan.
Ketika Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi juga berpuasa Asyura untuk mengenang diselamatkannya Nabi Musa AS dari Fir’aun. Rasulullah pun bersabda, “Kami lebih berhak atas Musa daripada mereka,” dan mendorong umat Islam melaksanakan puasa tersebut.
Untuk membedakan puasa Asyura dari tradisi agama lain, Rasulullah menambahkan puasa pada tanggal 9 Muharam yang disebut puasa Tasua.
Hadis riwayat Muslim menyebutkan, Rasulullah berniat berpuasa tanggal 9 dan 10 Muharam, meskipun beliau wafat sebelum sempat melaksanakannya.
Puasa Tasua dilaksanakan pada 9 Muharam dengan niat:
Nawaitu shauma hadzal yaumi ‘an ada’i sunnatit Tasu’a lillahi ta’ala
“Aku berniat puasa sunah Tasu’a pada hari ini karena Allah SWT.”
Sedangkan puasa Asyura jatuh pada 10 Muharam dengan niat:
Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i sunnati ‘Asyura lillahi ta’ala
“Aku berniat puasa sunah Asyura karena Allah SWT.”
Keutamaan puasa Asyura sangat besar. Rasulullah SAW bersabda,
“Aku berharap dengan [puasa ini] Allah menghapus dosa-dosa tahun sebelumnya.” (HR Muslim)
Sementara puasa Tasua, meski tak disebut menghapus dosa, memiliki nilai penting sebagai pembeda dari tradisi keagamaan lain dan menyempurnakan amalan sunah sesuai anjuran Rasulullah. @ffr