VISI.NEWS | JAKARTA – Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, meminta pelaku pasar valuta asing segera melepas dollar AS karena pemerintah optimis nilai tukar rupiah akan menguat hingga menyentuh Rp 15.000 pada Juni 2026. Pernyataan ini disampaikan saat Purbaya menghadiri Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center, Kabupaten Bantul, DIY, Jumat (22/5/2026).
“Kalau punya dollar, jual dollar-nya sekarang,” kata Purbaya dikutip dari kanal YouTube LPS.
Menurut Purbaya, penguatan rupiah akan ditopang oleh derasnya pasokan dollar AS dari kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) serta masuknya dana dari penerbitan obligasi global pemerintah.
“Jadi, kita harapkan dampak dari devisa hasil ekspor itu ke devisa negara akan semakin signifikan, yang akan memperkuat nilai tukar juga. Jadi, teman-teman nggak usah takut tuh yang ribut-ribut nilai tukar akan jeblok seperti 1998,” ujar Purbaya dikutip dari TribunJogja, Jumat.
“Nanti Juni akan ada supply dollar yang signifikan ke ekonomi kita. Jadi, rupiah akan menguat. Kalau saya bilang, pemain valas cepat-cepat jual lah. Kita akan dorong rupiah ke arah Rp 15.000,” tambahnya.
Purbaya Duga Ada Lobi ke Istana
Dalam kesempatan itu, Purbaya turut mengungkap alasan keterlambatan penerapan aturan DHE hingga beberapa bulan. Ia menduga adanya lobi dari kalangan pengusaha yang membuat kebijakan sempat molor dari jadwal awal Januari 2026.
“Saya duga banyak pelaku bisnis yang melobi sampai ke istana. Jadi bukan Presiden ya, sekeliling-sekelilingnya ada yang memperlambat,” ungkap Purbaya.
“Seharusnya Januari kan, mundur ke Maret, mundur ke April. Sekarang Juni. Itu keputusan yang berani dan saya pikir amat baik buat kita,” sambungnya.
Purbaya menjelaskan evaluasi internal Kementerian Keuangan menemukan banyak devisa hasil ekspor selama ini tidak menetap di Indonesia. Dana dollar AS yang masuk disebut hanya diparkir sementara sebelum kembali dikirim ke luar negeri.
“Banyak uang itu masuk ke sini, ditukar ke rupiah, disalurkan ke bank kecil dengan cepat. Segera setelah itu bank-bank itu mengirim ke luar negeri, ke Singapura. Sehingga dollar kita di sini habis. Jadi, walaupun ekspor kita selalu surplus, dollar-nya lebih banyak, tapi nggak ada dampaknya ke cadangan devisa kita,” terang Purbaya.
Karena itu, pemerintah mewajibkan penempatan devisa hasil ekspor di bank-bank Himbara agar aliran dana lebih terkontrol. Purbaya juga memperingatkan direksi bank pelat merah yang terbukti memainkan aturan tersebut akan langsung dicopot dari jabatannya.
Pasokan Valas Diprediksi Banjiri Pasar
Selain itu, Purbaya optimis pasokan valas bakal membanjiri pasar dalam negeri dari penerbitan obligasi global pekan ini senilai 3,4 miliar dollar AS. Surat utang negara tersebut tersedia dalam dua mata uang dengan tenor lima tahun dan 10 tahun, yakni 2 miliar dollar AS dan 1,25 miliar euro.
Purbaya menilai kondisi pasar obligasi Indonesia masih stabil dan tetap diminati investor asing, meski terjadi kenaikan yield obligasi AS yang memicu arus keluar modal dari negara berkembang.
“Kita masuk ke pasar obligasi supaya yield-nya nggak naik terlalu tinggi. Artinya, asing tidak terpaksa harus keluar dari Indonesia karena rugi,” ujar Purbaya.
“Walaupun rupiah melemah, yield obligasi, bunga obligasi cenderung turun dalam satu minggu terakhir. Investor asing sudah masuk ke pasar sekunder kita, sudah masuk juga ke pasar primer. Jadi, mungkin sekarang sudah hampir Rp 2 triliun lebih masuk ke situ,” lanjutnya. @desi