VISI.NEWS | BANDUNG – PWNU Jawa Barat bersama PCNU se-Jawa Barat menyampaikan pernyataan sikap resmi terkait dinamika yang berkembang di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Sikap tersebut ditegaskan sebagai bentuk tanggung jawab organisasi untuk menjaga keutuhan, marwah, dan persatuan jam’iyyah Nahdlatul Ulama.
Dalam pernyataan yang dibacakan Ketua PWNU Jabar K.H. Juhadi Muhammad, PWNU dan PCNU Jabar menegaskan kembali jati diri NU sebagai jam’iyyah yang lahir dari rahim pondok pesantren. “NU sejak awal berdiri berakar kuat pada tradisi pesantren, sehingga setiap dinamika organisasi wajib mendengar dan menghormati nasihat para muassis NU serta kiai sepuh,” demikian bunyi pernyataan sikap tersebut.
PWNU dan PCNU se-Jawa Barat juga menekankan bahwa peran ulama sepuh merupakan fondasi moral organisasi. “Kearifan para kiai sepuh adalah penuntun utama agar NU tetap berada di jalur khidmah dan perjuangan yang benar,” tegas PWNU dan PCNU Jabar dalam pernyataan tertulisnya.
Terkait dinamika yang terjadi, PWNU dan PCNU Jabar secara tegas menyerukan islah atau rekonsiliasi. “Kami menyerukan islah demi persatuan, ukhuwah an-nahdliyah, dan menjaga marwah Nahdlatul Ulama,” demikian pernyataan tersebut, seraya mengingatkan agar perbedaan pandangan tidak berkembang menjadi konflik berkepanjangan.
PWNU dan PCNU se-Jawa Barat juga menegaskan sikap untuk tidak menyeret struktur wilayah maupun cabang ke dalam konflik internal PBNU. “PWNU dan PCNU se-Jawa Barat tidak akan dilibatkan dan tidak melibatkan diri dalam konflik internal PBNU,” tegas mereka.
Dalam pernyataan sikap itu, PWNU dan PCNU Jabar menegaskan legitimasi kepemimpinan PBNU hasil Muktamar. “Kami menegaskan bahwa KH. Miftachul Akhyar sebagai Rais ‘Aam PBNU dan KH. Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum PBNU adalah mandataris sah Muktamar NU,” bunyi pernyataan tersebut.
Penegasan ini disebut sebagai bentuk ketaatan terhadap konstitusi organisasi. “Segala persoalan jam’iyyah harus diselesaikan dengan mekanisme yang konstitusional dan bermartabat,” lanjut pernyataan itu.
PWNU dan PCNU se-Jawa Barat juga mendorong Muktamar NU sebagai jalan terbaik untuk mengakhiri polemik. “Muktamar NU adalah solusi terbaik, konstitusional, dan bermartabat untuk menjaga soliditas jam’iyyah,” tegas PWNU dan PCNU Jabar, seraya menekankan bahwa forum tersebut dipimpin oleh mandataris muktamar.
Pernyataan sikap yang ditetapkan di Bandung pada 20 Desember 2025 itu ditutup dengan doa dan harapan. “Pernyataan ini kami sampaikan demi keutuhan NU sebagai jam’iyyah pembawa rahmatan lil ‘ālamīn,” tutup PWNU dan PCNU se-Jawa Barat dalam pernyataan resminya.
@uli