VISI.NEWS | PANGKEP – Tragedi keracunan minuman oplosan yang melibatkan belasan pelajar mengguncang Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Sebanyak 13 remaja dilaporkan mengalami keracunan setelah mengonsumsi campuran minuman berenergi dan cairan spiritus. Dua di antaranya, masing-masing berinisial WA (16) dan SA (17), meninggal dunia setelah sempat menjalani perawatan medis.
Peristiwa ini terungkap setelah pihak kepolisian menerima laporan kondisi para pelajar yang memburuk secara bertahap. Kasi Humas Polres Pangkep, AKP Imran, membenarkan kejadian tersebut.
“Iya benar, ada 13 remaja diduga telah meminum cairan spiritus bersama temannya. Korban semuanya pelajar,” kata Imran saat dikonfirmasi, Jumat (6/2).
Dari hasil penelusuran, peristiwa bermula pada Selasa (3/2) sekitar pukul 12.00 WITA. Sejumlah pelajar membeli satu botol spiritus, air mineral, minuman berenergi, serta susu kental manis. Bahan-bahan tersebut kemudian dibawa ke belakang sekolah dan dicampur sebelum diminum bersama.
“Mulanya salah satu korban membeli 1 botol spiritus, air mineral dan minuman berenergi serta kental manis. Kemudian dibawa ke belakang sekolah, lalu dioplos dan diminum para korban,” ungkap Imran.
Tidak berhenti di situ, para pelajar kembali membeli spiritus dan meracik minuman serupa pada malam harinya di Dermaga Batu Pulau Sapuka sekitar pukul 20.00 WITA.
“Minuman tersebut kemudian diracik kembali di dermaga batu Pulau Sapuka dan diminum bersama oleh sekitar sembilan orang hingga pukul 22.30 WITA,” lanjutnya.
Beberapa hari setelah mengonsumsi oplosan tersebut, kondisi para pelajar mulai memburuk. Pada Kamis (5/2), salah satu korban dilarikan ke puskesmas dalam kondisi kritis. Korban lain kemudian menunjukkan gejala serupa hingga akhirnya dua pelajar dinyatakan meninggal dunia pada hari yang sama, masing-masing pukul 13.00 WITA dan 20.00 WITA.
“Tak lama kemudian, korban lain menunjukkan gejala serupa hingga akhirnya dua pelajar dinyatakan meninggal dunia, masing-masing pada pukul 13.00 WITA dan 20.00 WITA di hari yang sama,” jelas Imran.
Sebelas pelajar lainnya sempat mendapat perawatan medis. Hingga kini, empat di antaranya masih menjalani perawatan intensif, yakni IK (16), IN (16), AM (17), dan AB (16). Seluruh korban diketahui berusia antara 15 hingga 17 tahun.
“Seluruh korban merupakan pelajar berusia 15 hingga 17 tahun,” tutupnya.
Pihak kepolisian masih mendalami peredaran dan penggunaan spiritus oleh para remaja tersebut, sembari mengimbau orang tua dan sekolah agar meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas anak-anak di luar jam belajar. @kanaya