Oleh Didi Subandi
SECANGKIR kopi baru saja mendarat di meja. Hitam. Diam. Uapnya meliuk pelan ke udara, seperti sebuah doa yang ragu-ragu, atau mungkin sisa amarah yang perlahan mendingin.
Saya menyesapnya sedikit: pahit, pekat, dan jujur. Tak ada gula yang menyamarkan rasa. Di dasar cangkir itu, nanti, akan tertinggal ampas—sesuatu yang keruh, mengendap, dan tak mungkin lagi larut kembali menjadi air bening. Barangkali nasib manusia memang seperti kopi ini; kita menikmatinya teguk demi teguk, hingga tiba-tiba kita tersedak oleh ampas yang kita buat sendiri.
Di antara jeda satu tegukan dengan tegukan lain itulah, ingatan saya terseret pada peristiwa di sebuah swalayan yang dingin. Di sana, sejarah seseorang tidak runtuh oleh ledakan meriam, melainkan oleh secuil ludah.
Sore itu, Desember 2025, langit Makassar mungkin sedang abu-abu. Amal Said berdiri di antrean.
Tubuhnya dibalut pakaian yang menyiratkan kelas sosial tertentu: seorang priyayi baru, dosen, pengajar ribuan kepala. Tiga puluh tiga tahun ia menyusun bata demi bata reputasi, membangun menara gading intelektualitas di Universitas Islam Makassar. Waktu yang begitu panjang untuk membangun nama, namun ternyata terlalu ringkih untuk menahan beban satu detik emosi.
Di hadapannya berdiri Ningsih, gadis 21 tahun, seorang buruh kasir. Kakinya mungkin bengkak setelah berjam-jam berdiri, tangannya bergerak mekanis memindai kode batang demi upah yang tak seberapa. Dalam teater kehidupan ini, Ningsih adalah simbol rakyat semesta yang bekerja dalam diam, sementara Amal adalah simbol otoritas yang merasa dunia harus minggir saat ia melangkah.
Maka ketika Amal melihat celah kosong dan bergerak ke sana, ia merasa itu hak alaminya. Bukan menyerobot, dalihnya, hanya efisiensi. Namun Ningsih menegur. Suaranya lembut, “Maaf Pak, mohon antre…”
Suara itu, bagi telinga yang terbiasa mendengar persetujuan mahasiswa, terdengar seperti pemberontakan. Di sinilah letak keretakan itu. Tubuh kadang menyimpan memori purba yang lebih cepat bereaksi daripada nalar.
Konsep Siri’ harga diri yang sakral itu mengalami distorsi hebat. Di kepala Amal, kehormatan bukan lagi tentang menjaga perilaku mulia, melainkan arogansi maskulin yang terluka karena dikoreksi oleh seorang perempuan muda, seorang bawahan.
Darah naik ke kepala.
Nalar padam. Setan meniupkan bara ke dalam dada. Dalam satu detik yang ganjil, mulut yang selama 33 tahun mendaraskan ilmu, mulut yang mungkin sering melafalkan asma Tuhan, berubah fungsi menjadi moncong senjata.
Cuih.
Cairan hina itu melesat, menabrak etika, mendarat di teritori wajah dan jilbab Ningsih. Gadis itu terpaku, merasa kerdil, sementara Amal pulang membawa kemenangan semu yang segera berubah menjadi hantu.
Berhentilah sejenak. Letakkan cangkir kopi itu. Mari kita buka kitab suci dan merenung. Peristiwa ini memantulkan bayangan kisah purba dalam Surah ‘Abasa. Di sana, Langit menegur manusia paling mulia, Rasulullah SAW, hanya karena beliau bermuka masam dan berpaling dari Abdullah bin Ummi Maktum, seorang buta yang datang bertanya.
”‘Abasa wa tawalla…” (Dia bermuka masam dan berpaling).
Jika Nabi yang maksum saja ditegur keras karena gestur wajah yang tak enak dilihat saat menghadapi “orang kecil”, lantas di mana posisi Amal Said yang merendahkan manusia lain dengan ludah? Tafsir Jalalain mengingatkan kita bahwa kemuliaan di sisi Allah bukan diukur dari jabatan akademik, melainkan dari tazakka (kesucian hati). Ludah itu adalah antitesis dari kesucian. Ia adalah manifestasi Kibr (kesombongan) penyakit tua Iblis yang merasa api lebih mulia daripada tanah.
Kini, nasi telah menjadi bubur, dan bubur itu telah basi. CCTV menjadi mata Tuhan di dunia digital. Video menyebar, palu godam institusi jatuh: Amal Said dipecat. Tiga dekade pengabdian hangus. Benarlah sabda Nabi: “Janganlah kamu marah, maka bagimu surga.” Amarah adalah bara api, dan Amal gagal memadamkannya. Ia kini duduk termangu, menangis di hadapan kamera, kehilangan jabatan, dan yang paling menyakitkan: kehilangan dirinya sendiri.
Kisah ini adalah komedi gelap tentang manusia modern. Kita sibuk mengejar gelar, menumpuk hormat, dan memoles citra saleh, namun lupa merawat rem di dalam dada. Kita menuntut orang lain menghormati Siri’ kita, sambil di saat yang sama kita injak martabat orang lain. Sungguh sebuah ironi yang sempurna: seorang pengajar etika jatuh justru karena ia lupa menjadi murid yang baik bagi nuraninya sendiri.
Kopi di cangkir saya kini benar-benar dingin, meninggalkan ampas hitam di dasarnya.
Satu detik kemarahan itu telah berlalu, namun pertanyaannya menetap di udara: Jika besok pagi, saat kita lelah dan merasa berkuasa, lalu ada seseorang yang “lebih rendah” berani menegur kesalahan kita, apakah kita yakin ludah kita akan tetap tertahan di kerongkongan?
Cimenyan 020126