Oleh Didi Subandi
Lokasi: Cimenyan.
Waktu: 8 Januari 2026. Pagi yang biasa saja.
Suasana: Tidak ada dramatisasi alam. Hanya detak jam dinding yang terdengar seperti langkah kaki mendekat. Tik… tak… tik… tak…
Di depan cangkir ini, aku menatap pantulan wajahku sendiri di permukaan kopi yang hitam. Wajah itu tampak lelah, tapi matanya masih memancarkan kesombongan yang aneh.
”Halo, Penunggu Mati,” sapaku pada bayangan itu.
Ya, itulah nama asliku. Nama aslimu juga. Nama kita semua.
Kita sering lupa bahwa status kependudukan kita di bumi ini hanyalah “Turis Visa Pendek”.
Tapi lihatlah kelakuan kita. Kita bertingkah seolah-olah kita adalah pemilik gedung ini.
1. Dekorasi di Ruang Tunggu
Hidup ini sebenarnya cuma Ruang Tunggu. Sebuah terminal transit sebelum pesawat jemputan bernama “Maut” mendarat.
Tapi, alangkah lucunya aku.
Di ruang tunggu yang sementara ini, aku sibuk sekali. Aku sibuk merenovasi kursi tunggu. Aku sibuk menumpuk koper harta yang jelas-jelas bakal kena over-baggage dan dilarang masuk ke pesawat nanti.
Aku bertengkar berebut colokan listrik. Aku sikut-sikutan berebut tempat duduk di dekat jendela.
Padahal, sebentar lagi pengeras suara akan berbunyi: “Panggilan terakhir untuk penumpang atas nama [……….]”
Dan saat itu terjadi, semua kursi, semua koper, semua colokan yang kurebutkan mati-matian, akan kutinggalkan begitu saja.
Betapa konyolnya. Aku menghabiskan energi untuk menghias terminal, tapi lupa mengecek apakah aku sudah pegang Tiket Boarding atau belum.
2. Surga di Bibir, Dunia di Hati
Lalu, mari bicara soal tujuan penerbangan: Surga.
Kata itu begitu murah di mulutku.
“Ah, yang penting masuk surga.”
“Semoga husnul khotimah.”
Aku mengucapkannya seringan memesan kopi saset. Tanpa beban. Seolah-olah Surga adalah hak asasi nenek moyangku.
Padahal, Surga adalah destinasi elit.
Logika sederhananya: Mana ada fasilitas First Class yang diberikan kepada penumpang yang tiketnya tidak jelas, kelakuannya norak, dan sering melanggar aturan maskapai?
Aku ingin Surga, tapi mentalitasku mentalitas Gratisan.
Aku ingin fasilitas abadi, tapi nafasku pendek sekali untuk bersabar.
Disuruh menahan maksiat sebentar saja cuma sampai mati aku mengeluh. “Berat banget sih aturannya.” “Lama banget sih matinya.”
Aku seperti anak kecil yang merengek minta permen, tapi tidak mau gosok gigi.
3. Sabar yang Setipis Tisu
Sebenarnya tugas di ruang tunggu ini sederhana: Duduk diam, patuhi aturan, tunggu panggilan.
Itu saja.
Jangan bikin keributan (maksiat). Jangan merusak fasilitas (dzalim). Jangan menyakiti penumpang lain (ghibah/fitnah).
Tapi, durasi yang “sebentar” ini terasa menyiksa bagi egoku.
Aku tidak tahan durasi. Aku ingin semuanya instan.
Aku menukar keabadian dengan kenikmatan receh berdurasi lima menit.
Aku menukar “Istana Langit” dengan “Pujian Tetangga” yang palsu.
Aku adalah pedagang yang paling bodoh dalam sejarah semesta: Menjual berlian untuk membeli kerupuk.
Pertanyaan pada Ampas Kopi…
Saya mengangkat cangkir itu. Isinya habis. Tinggal ampas hitam yang pekat di dasar.
Ampas itu diam. Tenang. Dia sudah selesai menunaikan tugasnya memberi rasa, dan sekarang dia siap dibuang ke tanah, menyatu kembali dengan asal-usulnya.
Tiba-tiba aku iri pada ampas kopi. Dia tahu kapan tugasnya selesai.
Sementara aku? Aku masih merasa tugasku adalah menaklukkan dunia.
Sambil meletakkan cangkir kosong itu, sebuah pertanyaan satir menusuk ulu hati, membuat pagi yang tenang ini mendadak terasa mencekam:
”Hei, Penunggu Mati… Jika jadwal keberangkatanmu dimajukan jadi nanti sore, kira-kira ‘Koper Amal’ mana yang akan kau banggakan di hadapan Petugas Imigrasi Langit? Atau jangan-jangan… isinya cuma baju kotor dan sampah duniawi yang kau pungut sepanjang jalan?”
Renungan (Menertawakan Diri Sendiri) di Meja Cimenyan.