Search
Close this search box.

Rencana Hunian Sementara UEA di Gaza Selatan Picu Perdebatan Politik dan Kemanusiaan

Bangunan-bangunan tergeletak hancur di tengah puing-puing di Rafah, Jalur Gaza bagian selatan, pada 8 Desember 2025./source: Reuters.

Bagikan :

VISI.NEWS | BANDUNG — Uni Emirat Arab (UEA) disebut tengah menyiapkan rencana pembangunan kompleks hunian sementara bagi ribuan warga Palestina yang mengungsi di wilayah selatan Gaza yang kini berada di bawah kendali militer Israel. Informasi tersebut terungkap melalui peta perencanaan yang dilihat Reuters serta keterangan sejumlah diplomat yang mengetahui inisiatif tersebut.

Lokasi yang direncanakan berada di sekitar Rafah, kota di dekat perbatasan Mesir yang sebelumnya dihuni ratusan ribu warga, namun kini sebagian besar hancur akibat konflik berkepanjangan. Kawasan itu termasuk dalam zona yang dikuasai militer Israel, dekat garis demarkasi yang disepakati dalam gencatan senjata pada Oktober lalu.

Seorang pejabat UEA tidak secara langsung membenarkan proyek tersebut, namun menegaskan komitmen negaranya dalam bantuan kemanusiaan.

“UEA tetap berkomitmen untuk meningkatkan upaya kemanusiaannya guna mendukung warga Palestina di Gaza,” ujarnya.

Rencana tersebut disebut dibahas dalam kerangka inisiatif perdamaian yang didorong Amerika Serikat, termasuk misi multinasional yang berbasis di Israel selatan. Sejumlah diplomat menyebut pejabat Emirat telah memaparkan detail proyek hunian sementara itu dalam forum internasional yang melibatkan Washington.

Seorang pejabat Amerika Serikat mengatakan proyek UEA dikoordinasikan dengan pemerintahnya.

“Kami terus terkesan dengan upaya UEA dalam menghadirkan kehidupan yang lebih baik bagi warga Gaza,” katanya.

Namun, inisiatif tersebut memunculkan pertanyaan besar terkait kelayakan politik dan sosialnya. Mayoritas warga Palestina saat ini tinggal di wilayah Gaza yang tidak berada di bawah kendali Israel, sehingga ada keraguan apakah mereka bersedia pindah ke zona yang dijaga militer Israel.

Sejumlah diplomat juga menilai langkah ini berpotensi memperdalam pemisahan wilayah Gaza secara de facto. Mereka mempertanyakan apakah proyek tersebut akan benar-benar bersifat sementara atau justru menciptakan pemukiman jangka panjang yang sensitif secara politik.

Baca Juga :  Humaira, Muscab PKB Jadi Momentum Perkuat dan Solidaritas Kemenangan 2029

Pakar Timur Tengah dari lembaga kajian keamanan The Soufan Center, Kenneth Katzman, menilai pendekatan pembangunan hunian di wilayah kendali Israel memiliki dimensi strategis.

“Hanya beberapa proyek perumahan tidak akan mengalahkan Hamas. Anda perlu melakukan banyak hal untuk memberi dampak,” ujarnya.

Menurut para diplomat, wilayah yang disiapkan UEA adalah area kosong yang sebelumnya tidak memiliki permukiman. Hal ini berbeda dari usulan Amerika Serikat sebelumnya yang juga mempertimbangkan pembangunan komunitas baru di zona serupa.

Saat ini, militer Israel menguasai lebih dari separuh wilayah Gaza, termasuk bagian paling selatan yang mencakup Rafah. Sementara itu, sebagian besar dari sekitar dua juta warga Palestina tinggal di wilayah lain dalam kondisi kamp darurat yang padat dan minim fasilitas.

Sejumlah pekerja kemanusiaan menilai bantuan dan tempat tinggal seharusnya diprioritaskan di lokasi yang memiliki konsentrasi pengungsi terbesar. Diperkirakan hanya sekitar 20.000 warga Palestina yang saat ini berada di wilayah Gaza yang dikuasai Israel.

Di tengah kebutuhan mendesak akan perlindungan dan hunian, rencana pembangunan kompleks oleh UEA ini berdiri di persimpangan antara kepentingan kemanusiaan dan dinamika politik yang sangat sensitif. @kanaya

Baca Berita Menarik Lainnya :