VISI.NEWS – Sejumlah warga bersama aparat Desa Majasetra dan Satuan Tugas Citarum Harum Sektor 4/Majalaya bersinergi dalam pelaksanaan bimbingan teknis di lokasi Demplot (tempat pengembangan budi daya perikanan, peternakan, dan pertanian) Kodam III/Siliwangi inkubasi peternakan dan perikanan berbasis organik di Posko Subdesa Majasetra, Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Sabtu (4/7).
Sejumlah babinsa di lingkungan Koramil Majalaya dan Solokanjeruk juga turut hadir dalam sosialisasi inovasi Bios 44 agen hayati. Bios 44 merupakan cairan berisi mikro organisme yang dapat digunakan untuk meningkatkan ketahanan pangan pada sektor pertanian, perikanan, dan peternakan.
Pada saat itu, sejumlah warga melihat langsung proses pembuatan cairan Bios 44 dengan menggunakan bibit Bios 44 yang dicampur dengan air, gula pasir, dan ragi. Cairan tersebut bisa digunakan untuk pembuatan pakan ternak dan ikan melalui proses permentasi.
Kebetulan di lokasi demplot tersebut sudah dilaksanakan budi daya ternak itik atau bebek, dan budi daya ikan lele. Kemudian untuk pakan ternak dan ikan lele itu memanfaatkan maggot dari hasil budi daya warga setempat. Dengan adanya demplot tersebut, warga juga turut teredukasi mengenai proses pemanfaatan Bios 44 hingga budi daya peternakan dan perikanan.
Satgas Citarum Harum juga turut menyosialisasikan manfaat Bios 44 kepada warga untuk budi daya berbagai jenis sayuran, mulai sayur kangkung, bawang daun, hingga sayuran lainnya.
Satgas Citarum Harum Sektor 4/Majalaya Subpos Desa Majasetra, Sertu Ajat R mengatakan, tugas TNI itu selain menjaga keutuhan NKRI, juga turut membantu dan bersinergi dengan masyarakat. Di antaranya membantu masyarakat dalam ketahanan pangan.
“Kehadiran TNI dalam program Citarum Harum ini, juga turut membantu tugas pemerintah daerah. Bahkan saat ini kami bersinergi dengan kepala desa dan masyarakat dalam mengembangkan budi daya peternakan, perikanan, dan budi daya maggot,” kata Sertu Ajat.
Ia pun mengajak masyarakat untuk bersama-sama memanfaatkan potensi wilayah dalam pengembangan budi daya perikanan, peternakan, pertanian, dan budi daya maggot.
“Budi daya maggot itu dapat mengurangi sampah organik yang dihasilkan rumah tangga. Kami juga turut mengimbau warga tak buang sampah ke sungai, apalagi sampah plastik,” tuturnya.
Ia pun bisa melihat langsung kondisi aliran Sungai Citarum di Sektor 4/Majalaya bisa diminimalisasi dari pencemaran lingkungan. Sebelumnya, Sungai Citarum dijuluki sungai terkotor di dunia.
“Kami berharap masyarakat dan pemuda saling bahu menjaga lingkungan. Kita mengajak masyarakat untuk pilah pilih olah sampah. Jangan buang sampah plastik ke sungai. Sampah plastik bisa terurai puluhan hingga ratusan tahun,” kata Sertu Ajat.
Lebih lanjut Sertu Ajat mengungkapkan, masyarakat bisa melihat langsung demplot tanaman sayuran berupa kangkung dan bawang daun di pinggir bantaran Sungai Citarum. Untuk memanfaatkan lahan kosong di bantaran sungai itu bisa melalui gotong royong dalam upaya mengurangi biaya.
“Hal itu bagian dari upaya menghijaukan bantaran Sungai Citarum. Mari cintai Citarum, apalagi saat ini Sungai Citarum sudah dinormalisasi sehingga dapat mengurangi banjir,” ucapnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk belajar membuat pakan ternak dengan menggunakan cairan Bios 44.
Sementara itu, Kepala Desa Majasetra H. Dadang Darajat mengharapkan masyarakat untuk memanfaatkan potensi yang sudah ada.
“Budi daya peternakan, perikanan, dan maggot ini merupakan bagian dari inovasi jajaran TNI dari Satgas Citarum Harum dalam membantu ekonomi masyarakat,” katanya.
Dadang pun berharap dengan adanya sarana demplot tersebut sebagai sarana edukasi kepada masyarakat.
“Perlu ada edukasi dalam bidang peternakan dan perikanan,” katanya. @bud