Sekilas Jejak Nabi Ibrahim dan Ismail (1): Awal Mula Ibadah Haji dan Kurban

Ilustrasi Kakbah dan umat Islam tengah beribadah di sekelilingnya./net.
Jangan Lupa Bagikan

VISI.NEWS – Putra Nabi Ibrahim a.s., Ismail, diangkat menjadi seorang nabi dan rasul ke-8 oleh Allah SWT. Kisah Nabi Ismail a.s. merupakan asal mula dari ibadah haji dan kurban.

Ismail adalah anak Ibrahim dengan istrinya Siti Hajar. Saat Ismail lahir, atas perintah Allah, Ibrahim membawa anaknya bersama Siti Hajar keluar dari Palestina.

Mereka melewati padang pasir nan gersang menuju lembah berbukit yang dikenal sebagai Lembah Bakkah. Lembah itu kini merupakan kota suci, Mekkah.

Di lembah itu, Ibrahim membuat tempat berteduh dengan makanan dan minuman seadanya. Ibrahim lalu kembali ke Palestina sambil terus berdoa untuk keselamatan Siti Hajar dan Ismail.

Setelah berhari-hari di padang pasir, Siti Hajar kehabisan makanan dan minuman untuknya serta Ismail. Ismail kecil menangis kehausan ingin menyusu.

Siti Hajar lalu berlari ke sana ke mari mencari air untuk putranya. Dia berlari di antara dua bukit, Shafa dan Marwah. Kisah ini menjadi asal mula rukun ibadah haji yang dikenal dengan sa’i atau berlari-lari kecil sebanyak tujuh kali antara bukit Shafa dan Marwah.

Saat Siti Hajar kelelahan, dia mendengar suara yang memanggilnya untuk membawa Ismail ke tempat tersebut. Setibanya di tempat itu, Siti Hajar meletakkan Ismail yang kemudian menghentakkan kakinya. Dari hentakan kaki itu, muncul air jernih yang kini dikenal sebagai sumur Zamzam.

Siti Hajar meminumkan air itu kepada Ismail. Sumber air itu membuat Suku Jumhur berbondong-bondong mendatangi lokasi tersebut. Dalam beberapa tahun, Lembah Bakkah berkembang menjadi tempat yang ramai penduduk.

Ismail dibesarkan oleh ibunya Siti hajar di Mekkah. Nabi Ibrahim yang tinggal di Palestina rutin berkunjung ke Mekkah. Hingga Ismail menginjak usia remaja, Nabi Ibrahim menyampaikan bahwa ia mengalami mimpi buruk.

Nabi Ibrahim mengatakan bahwa Allah memerintahkannya untuk menyembelih Ismail. Ibrahim lalu meminta pendapat Ismail.

“Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” kata Ibrahim. Lantas, dengan gagah berani, Ismail meminta Ayahnya untuk melakukan perintah Allah itu.

“Hai bapakku, kerjakan lah apa yang diperintahkan kepadamu; insyaallah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar,” kata Ismail. Percakapan ini terdapat dalam Alquran surat As-Saffat ayat 102.

Dengan penuh ketaatan, Ibrahim melaksanakan perintah Allah. Ismail meminta ayahnya untuk mengikatnya dengan tali dan menajamkan pisau agar tidak meronta dan kesakitan saat disembelih. Ismail juga meminta agar pakaiannya diberikan kepada Siti Hajar sebagai kenang-kenangan.

Sebelum penyembelihan, Ismail dan Ibrahim berpelukan penuh haru.

Ibrahim pun memulai proses penyembelihan dengan menyebut nama Allah. Namun, pisau tajam yang digunakannya ternyata tak bisa menyembelih Ismail.

Ismail pun meminta ayahnya untuk menyembelihnya tanpa melihat wajahnya. Namun, tetap saja pisau Ibrahim tak bisa menyembelih sang anak.

Saat itu, Allah berfirman bahwa perintahnya merupakan ujian keimanan untuk Ibrahim dan Ismail. Allah lalu mengirimkan seekor kambing untuk disembelih, pengganti Nabi Ismail.

“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar,” bunyi terjemahan surat Ash-Shaffat ayat 107.

Peristiwa penyembelihan ini merupakan asal mula ibadah kurban yang disunahkan atau sangat dianjurkan bagi orang yang mampu di Hari Raya Iduladha.

Saat Ismail beranjak dewasa, ia bersama ayahnya kembali mendapat perintah dari Allah untuk membangun Ka’bah di dekat sumur Zamzam. Ismail dan Ibrahim membangun Ka’bah dengan penuh doa.

Allah lalu mengajarkan Nabi Ibrahim dan Ismail beribadah di Baitullah, yang kemudian menjadi asal mula ibadah haji yang terus dijalankan dari umat Nabi Ibrahim hingga Nabi Muhammad saw.

Keteladanan berbakti kepada orang tua menjadi hikmah penting yang dapat dipelajari dari kisah Nabi Ismail AS. “Nabi Ismail adalah anak yang sangat berbakti pada orang tuanya. Jika ingin mencari figur keteladanan, lihatlah Nabi Ismail,” kata pengasuh Taman Belajar Al-Afifiyah KH Wahyul Afif Al-Ghafiqi, beberapa waktu lalu.

Wahyul menyebut, Nabi Ismail tidak menghakimi atau mempertanyakan perintah Allah yang diberikan kepada orang tuanya. Ismail meyakini bahwa perintah Allah adalah baik untuknya.

Ismail selalu berbaik sangka kepada Allah. Dia percaya bahwa Allah tidak menghendaki keburukan untuk hamba-Nya.

Atas kisah Nabi Ismail dan ketaatannya ini lah, perlu diketahui bahwa ketaatan pada Allah SWT akan dibalas dengan hal yang baik.

“Ketaatannya dibalas oleh Allah dengan diselamatkan, tidak jadi dikurbankan,” ucap Wahyul. (bersambung)/@fen/cnn indonesia

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Kasus Penghinaan Guru Resmi Dilaporkan ke Polisi, Segi Berharap Semua Bijak

Rab Jul 29 , 2020
Jangan Lupa BagikanVISI.NEWS – Ketua Serikat Guru Indonesia (Segi) Kabupaten Garut, Jawa Barat, Apar Rustam, dalam menyikapi kasus penghinaan terhadap profesi guru melalui jejaring media sosial, diperlukan kebijakan semua pihak. “Ujaran kebencian yang telah dilontarkan oleh oknum masyarakat melalui unggahannya di akun Facebook memang telah melukai hati semua guru, bukan […]