Oleh Syakieb Sungkar
PROBLEM dari jurnalistik zaman sekarang adalah semua orang dapat menjadi wartawan sekaligus broadcaster. Terjadi pergeseran dari berita yang secara berkala disebarkan oleh media massa menjadi penyebaran oleh siapapun dengan waktu kapan saja. Hal itu dapat dimungkinkan dengan majunya teknologi aplikasi yang berbasis internet. Akibatnya update informasi terjadi detik demi detik tanpa melalui proses penyaringan oleh instansi yang berwenang. Dengan tidak adanya penyaringan maka di dalam informasi tersebut akan terdapat berbagai rupa hoax, spekulasi dan analisa, tanpa diketahui siapa dan dari mana sumbernya. Lagi pula konsep “instansi yang berwenang” dalam mengatur informasi sebenarnya sudah tidak laku lagi di zaman kontemporer ini. Dan di masa kini tidak ada lagi instansi yang dapat mengelola informasi karena badan-badan seperti itu sudah terbukti korup dan misleading. Bukannya mencerahkan masyarakat justru yang terjadi adalah melakukan penyensoran dan disinformasi. Hal itu terjadi juga di Amerika, misalnya ketika Departemen Pertahanan melakukan pembohongan terhadap apa yang terjadi di Guantanamo. Dan praktik-praktik penyebaran informasi palsu terjadi pada hampir seluruh negara di dunia.
Kasus disinformasi terjadi kembali pada awal peristiwa pembunuhan Brigadir Yosua. Pada mulanya kita mendengar bagaimana penuturan Kapolres Jakarta Selatan – yang kemudian diganti – menjelaskan duduk perkara peristiwa Duren Tiga. Namun masyarakat tidak percaya terhadap penjelasan itu. Kemudian informasi berubah lagi, kali ini yang menjelaskannya orang berbeda. Tetapi kembali masyarakat tidak percaya. Belum lagi kekisruhan ini dikipas dengan penampilan pengacara keluarga Yosua yang memberikan hipotesis versinya sendiri. Misalnya begini, Kamaruddin Simanjuntak mengatakan adanya penyiksaan sebelum Yosua ditembak. Untuk itu perlu dilakukan otopsi ulang. Menurut saya hasil otopsi pertama sudah valid dan itu sudah dapat dijadikan bukti untuk mengajukan perkara ke pengadilan. Otopsi kedua justru lebih sulit analisanya karena mayat sudah diacak-acak dokter forensik sebelumnya dan melewati proses formalin serta pembusukan. Sampai sekarang hasil otopsi kedua belum terbit karena perlu analisis lebih mendalam dan proses yang advance. Lagi pula dari pemeriksaan saksi-saksi dan tersangka selama ini terlihat belum ada bukti yang menguatkan bahwa telah terjadi penyiksaan sebelum penembakan.
Namun permintaan otopsi kedua ini sangat berguna untuk menambah tekanan publik terhadap percepatan dan pengungkapan kasus dengan gamblang dan sejelas-jelasnya. Itulah arti strategis otopsi kedua. Dalam perkiraan saya, hasil otopsi pertama dan kedua tidak akan berbeda jauh dalam menyimpulkan penyebab kematian Brigadir Yosua. Tekanan publik terjadi melalui penayangan gambar dan video disertai teks komentar di Twitter, Facebook, Instagram, Tiktok, dan YouTube. Pemenang sementara aplikasi yang menjadi media pemberitaan favorit dari netizen adalah Tiktok. Format Tiktok yang berupa video dengan durasi lebih singkat dari YouTube disertai kemampuan menambah teks, background musik dan voice over telah menjadi andalan para broadcaster amatir dalam pemberitaan kasus ini. Sementara media besar dan resmi terlihat terlambat dalam pemberitaan karena sifat kehati-hatian serta dibutuhkan konfirmasi sebelum berita ditayangkan. Karenanya, netizen tidak dapat disalahkan apabila membuat skenario sendiri ketika motif sebenarnya mengapa pembunuhan terjadi masih dirahasiakan polisi.
Dalam pengamatan saya, ada beberapa versi motif yang telah beredar di masyarakat melalui media sosial. Motif-motif tersebut diciptakan dengan tujuan lucu-lucuan, ada yang menggelikan, dan ada juga yang bertujuan mencelakakan, namun ada juga yang serius. Motif yang paling populer adalah cekcok keluarga karena adanya perselingkuhan Ferdy Sambo dengan Polisi cantik, cerdas dan muda usia, di mana foto-foto aktivitas wanita itu kemudian beredar luas. Perselingkuhan itu kemudian dilaporkan Yosua ke Putri Candrawathi, istri Ferdy Sambo. Pembunuhan terjadi karena Ferdy naik pitam dengan pengaduan Yosua. Sebenarnya motif ini masih kurang kuat dalam logika saya, karena perselingkuhan itu sebenarnya masalah yang umum terjadi di sebagian kecil rumah tangga. Kenapa ‘urusan sepele’ seperti itu bisa sampai membunuh orang?
Motif kedua yang beredar adalah urusan LGBT. Katanya Ferdy Sambo itu seorang LGBT dan Yosua merupakan ‘pacar’ dari Sambo. Itulah sebabnya mengapa Ferdy begitu sayang dengan Yosua sehingga ia menjadi ajudan andalan. Terbongkarnya Ferdy berpacaran dengan Yosua menyebabkan ia harus menunjukkan ke istrinya bahwa hal itu tidak benar sehingga ia menembak Yosua dengan seketika. Motif ini mirip dengan cerita telenovela dan termasuk dalam kategori menggelikan. Walau, seandainya itu benar, memang ada kecocokan dengan pernyataan Mahfud MD bahwa motifnya mengandung materi konten dewasa.
Motif ketiga adalah mengenai informasi yang diketahui Yosua adalah rahasia yang serius dan berat sehingga ia harus dilenyapkan segera. Motif itu menyangkut sepak terjang Sambo selama ini yang katanya punya penghasilan tambahan sebagai bandar judi online. Motif seperti ini akan kompleks jika ingin dibongkar dan apabila terbukti benar akan membuka kasus yang maha besar dan mencoreng Polisi. Tetapi jika sekedar melemparkan isu ini tanpa bukti akan menjadi fitnah. Isu ini juga dibumbui dengan konten medsos lain yang menyatakan bahwa operasi yang dilakukan Ferdy Sambo selama ini membutuhkan biaya besar dan kekurangan dananya harus ditutupi dengan pendapatan lain yang tidak legal. Belum lagi ada bumbu-bumbu tambahan yang masih berhubungan tetapi mengandung unsur dan background SARA di dalamnya. Walau terlihat fitnah, tetapi motif ini mendukung alasan mengapa Presiden Jokowi sampai memanggil Kapolri dan Panglima TNI sekalian ketika meminta kasus ini segera dituntaskan. Karena Jokowi telah melihat ada isu strategis yang harus segera diantisipasi jangan sampai merembet ke mana-mana.

Tetapi ada motif ke empat yang dulu sudah dibuang karena tidak logis. Motif ini saya dapatkan ketika membaca majalah Tempo edisi terbaru pada halaman 115. Di katakan oleh majalah itu bahwa asisten rumah tangga Kuwat Maruf bersitegang dengan Yosua karena memergokinya berduaan dengan Putri. Berduaan semacam apa yang kemudian menyebabkan Kuwat menjadi marah dan Bripka Ricky Rizal menyita senjata laras panjang dan pistol HS-9 milik Yosua? Kemungkinan besar bukan berduaan biasa, tetapi jenis berduaan yang mengandung materi dewasa seperti yang pernah disampaikan Mahfud MD. Kasus berduaan itu yang menyebabkan Yosua kemudian dipisahkan oleh Kuwat dan Ricky, tidak boleh semobil lagi, dalam perjalanan dari Magelang ke Jakarta. Formasi perjalanan pulang kali ini, Yosua yang biasanya menyetir mobil Putri, sekarang digantikan oleh Kuwat, sementara Yosua pindah ke mobil lain bersama Ricky. Di perjalanan, Yosua mengirimkan pesan kepada Putri agar memerintahkan Ricky mengembalikan senjatanya. Lah Yosua kok berani merintah-merintah Putri? Hal ini mengindikasikan ada relasi tertentu yang sudah terjalin selama ini yang lebih dari sekedar relasi atasan – ajudan. Walau kemudian Putri menolak permintaan ini tetapi tidak menafikan indikasi adanya level relasi yang sudah lebih intens ketimbang relasi biasa.
Komnas HAM menyatakan bahwa sebelum penembakan terjadi ada percakapan antara Putri dengan Ferdy selama satu jam yang terekam video. Percakapan inilah yang menjadi kunci pemicu penembakan tehadap Yosua. Pertanyaannya adalah apa yang dipercakapkan antar keduanya? Apakah mereka berdua yang sesungguhnya merencanakan pembunuhan. Lebih jauh lagi ada satu pertanyaan menjurus yang berupa hipotesis, apakah Putri mengorbankan Yosua dengan berpura-pura ia dilecehkan demi menyelamatkan aib yang telah dilakukannya? Karena peristiwa ini berhubungan dengan upaya Putri membujuk Eliezer dengan uang Rp 1 Milyar, Kuwat dan Ricky dengan uang masing-masing Rp 500 juta,- agar tutup mulut. Sebagaimana drama telenovela pada umumnya, tokoh kunci biasanya muncul belakangan. Mari kita tunggu peran Putri yang sesungguhnya dalam kisah pembunuhan ini.***