SKETSA | WAG

Silahkan bagikan
  • Pengantar Redaksi
  • Pembaca yang budiman, mulai akhir Pebruari 2022 ini, VISI.NEWS akan menurunkan tulisan-tulisan orisinal dari Syakieb Sungkar. Penulis adalah seorang pengamat seni, dan pernah menjadi executive di beberapa perusahaan telekomunikasi. Ia pernah kuliah di FMIPA – Universitas Indonesia (1981), lulus dari Elektro Telekomunikasi – Institut Teknologi Bandung (1986), Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara (2020). Dan pernah membuat buku “Melacak Lukisan Palsu” (2018) dan “Seni Sebagai Pembebasan” (2022). Pernah berpameran tunggal lukisan di galeri Titik Dua, Ubud (2021), berpameran bersama di galeri Salihara bersama Goenawan Mohamad (2020). Saat ini ia menjadi Editor in Chief di Jurnal Filsafat Dekonstruksi (jurnaldekonstruksi.id).

Oleh Syakieb Sungkar

DI BULAN September 2010, pada sebuah launching produk handphone Ericsson – yang saya menjadi pembicaranya, saya meramalkan bahwa Blackberry sebentar lagi akan mati. Dasarnya adalah saat itu baru muncul WhatsApp (WA) yang gratis. Sementara untuk melakukan percakapan melalui Blackberry, seorang pengguna harus membayar iuran tiap bulan minimal Rp 75.000,- Sebenarnya ucapan saya itu lebih merupakan kekesalan ketimbang ramalan ala Nostradamus. Kekesalan saya pada Blackberry (BB) karena pembagian keuntungan yang tidak seimbang. BB meminta ke Operator Telko US$ 7,- per bulan di mana saat itu 1 $ = Rp 10.000,- artinya kami harus setor uang Rp 70.000,- setiap bulan untuk setiap pelanggan. Dengan tarif Rp 75.000,- operator cuma mendapat Rp 5.000,- per bulan dari pelanggan dan sisanya uang tersebut dikirim ke Canada tempat asal Blackberry.

Padahal waktu pertama kali BB datang ke Indonesia, tahun 2006, saya yang ngurusin pemasaran dan penjualannya. Dalam waktu 3 tahun BB demikian berkembang, pelanggannya di Indonesia menembus 15 juta. Belum lagi handsetnya dijual mahal, mencapai Rp 2,5 juta,- itu namanya pengerukan devisa negara berkembang yang dibawa lari ke negara maju. Omongan saya yang blak-blakan menyerang BB itu kemudian menjadi headline di dunia Telko selama seminggu. Dalam siaran persnya, BB mengancam saya perihal perjanjian kerahasiaan tentang menyebut-nyebut soal uang US$ 7,- itu. Saya sendiri kalem saja, walau selama seminggu itu Twitter saya habis dibuli para pemasar korporat dari operator seluler lain, kompetitor. Katanya saya sudah gila, mosok BB bisa musnah, Presiden Amerika saja pake BB. Tetapi kemudian nubuat saya itu betul, tahun 2012 BB sudah sulit dipasarkan, orang berpindah ke WA yang gratis. Di Canada, pada tahun itu terkenal dengan istilah ‘Gunung Blackberry’, yaitu tumpukan handset dari seluruh dunia yang dikembalikan karena tidak laku sehingga ‘sampahnya’ membentuk gunung.

Baca Juga :  Mulai Hari Ini Jam Kerja PNS Dibagi dalam 2 Sif

WA terlihat modern dan fiturnya melampaui BB, bisa melakukan segala macam operasi dan yang paling hebat itu menciptakan percakapan dalam grup atau WhatsApp Group (WAG) yang BB tidak punya. WAG itu yang membuat pergeseran kategori services, dari semula WA dipakai untuk alat percakapan, berubah menjadi media sosial, bersanding dengan Facebook dan Instagram. Karena melalui WAG kita bisa mengkluster orang lain yang sedang melakukan hal/pekerjaan yang sama atau hobi yang sama atau ideologi yang sama. Ideologi itu yang berat. WAG menjadi tempat penyaluran dan penyebaran hasrat mempengaruhi dan menguasai orang lain agar seiring sejalan dan sependirian. Dengan itu WAG dijadikan alat kampanye dan gerakan politik. WAG kemudian bisa menyingkirkan orang yang tidak sepaham, yang tidak setuju dengan ‘group think’ akan terpental. Fitur-fitur WA itu juga yang kemudian melampaui domain handset/handphone/BB bergeser menjadi paradigma Smartphone, telpon pintar.

Masalahnya, Smartphone itu kalau kebanyakan grup WA kerjanya bisa lemot. Di zaman sekarang begitu banyak grup WA diciptakan untuk tujuan-tujuan tertentu, temporary atau seumur hidup. Kalau WAG yang menyangkut teman-teman alumni SMA, mahasiswa, atau keluarga, itu nampaknya akan seumur hidup. Ada sebuah sekolah yang kami bersama-sama masuk, sekelas ada 42 mahasiswa. Setahun kemudian, 21% anggotanya pindah ke sekolah lain, termasuk saya. Dan setelah 40 tahun kami merunut kembali seluruh anggotanya, ada 10% yang sudah meninggal dunia. Jadi, cuma 69% yang survive, lulus dari sekolah itu. Mereka kini sudah tua, botak atau ubanan. Yang perempuan, 40 tahun lalu cantik dan sexy – sekarang sebagian besar gembrot, berjilbab dan berkacamata tebal. Sudah pasti sekolah itu bermutu jelek, karena tidak sanggup membuat mahasiswanya terus ganteng, tegap, langsing, cantik dan sexy. Beruntung saya buru-buru keluar dari sekolah itu. Itu semua dapat terangkum dalam WAG, menjadi cerita sarapan pagi.

Baca Juga :  Kedatangan Wagub dan Tim Gugus Tugas Jabar Ditolak Pesantren di Kabupaten Tasikmalaya

Banyak WAG yang isinya politik, ada yang temanya mendukung si J atau anti J. Kalau punya kedua WAG pasti akan pusing kepala, mana yang harus diikuti. Mendingan WAG model begitu didelete saja. Daripada bikin Smartphone lelet karena begitu banyak meme, foto, video, link yang disampaikan dan ujungnya membebani kerja hp. Di tempat saya, ada WAG yang isinya seni. Itu terpecah-pecah lagi – ada yang khusus anak muda: sukanya new media, ada orang tua: sukanya painting, ada juga WAG isinya dagang artwork. Dengan begitu banyak urusan, sebaiknya pilih salah satu grup saja yang betul-betul penting.

Adalagi WAG yang membernya anak kuliahan S3, yang membuat WAG untuk penyelesaian tugas-tugas tertentu saja. Setelah tugas selesai, WAG lupa dibubarkan. Begitu juga WAG yang dibikin untuk persiapan piknik. Pikniknya sudah selesai 2 tahun lalu tapi anggotanya tidak mau dibubarkan dengan alasan masih kangen dan mau tukeran foto-foto. Kalau begitu caranya, agar tidak pusing, bagaimana kalau kita punya Smartphone khusus yang isinya WAG saja? Daripada kita jadi buang waktu ngurusin percakapan yang ga jelas. Betul ga sih?

Belum lagi WAG banyak juga yang kampungan, ada yang soal iri hati bisa masuk dalam percakapan. Padahal, iri hati terkadang disebut juga dengki, adalah suatu emosi yang timbul ketika seseorang yang tidak memiliki suatu keunggulan—baik prestasi, kekuasaan, atau lainnya—menginginkan yang tidak dimilikinya itu, atau mengharapkan orang lain yang memilikinya agar kehilangannya. Iri hati adalah salah satu penyebab utama ketidakbahagiaan. Orang yang iri hati tidak hanya menyebabkan ketidakbahagiaan bagi dirinya sendiri, orang tersebut bahkan mengharapkan kemalangan orang lain. Seperti dalam Sinetron. Sementara WAG itu tempat kita mencari kebahagiaan. Berlebihan ya?

Baca Juga :  Hisense Dukung Wanita untuk Menjawab Berbagai Tantangan

Di awal tahun 2022 ini, tiba-tiba saya membaca sebuah berita lucu di Kompas. Katanya Blackberry —secara perusahaan — sudah membubarkan diri dan meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Kemane aje luh Blackberry? Kita dari tadi sudah ngomongin soal WAG nih.***

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Kominfo Dorong Tata Kelola Arus Data Lintas Negara yang Lebih Inklusif melalui DEWG G20

Sab Feb 26 , 2022
Silahkan bagikanVISI.NEWS | JAKARTA – Kementerian Komunikasi dan Informatika akan mengusung isu prioritas Cross Border Data Flow and Data Free Flow with Trust atau Arus Data Lintas Negara dan Arus Bebas Data secara Terpercaya dalam Digital Economy Working Group (DEWG) pada Presidensi G20 Indonesia. Sekretaris Jenderal Kementerian Kominfo, Mira Tayyiba, […]