Search
Close this search box.

Tak Memaafkan Bukan Kafir—Ini Penjelasan Tegas Ulama

Ilustrasi. /visi.news/ist

Bagikan :

VISI.NEWS | BANDUNG – Memaafkan sering dipahami sebagai tolok ukur kesalehan seseorang. Dalam banyak ceramah dan narasi keagamaan, sikap pemaaf ditempatkan pada posisi yang sangat tinggi, seolah menjadi penentu kualitas iman. Namun, para ulama menegaskan bahwa persoalan ini harus dipahami secara proporsional: tidak memaafkan bukan berarti seseorang kafir atau keluar dari Islam.

Dalam ajaran Islam, memaafkan memang memiliki kedudukan yang mulia. Al-Qur’an secara eksplisit mendorong umatnya untuk menempuh jalan damai dan memberi maaf. Salah satu ayat yang kerap dijadikan rujukan adalah firman Allah:

**فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ**

Artinya: *“Barangsiapa yang memaafkan dan mendamaikan maka pahalanya dari Allah SWT.”* (QS. Asy-Syura: 40).

Ayat ini menunjukkan bahwa memaafkan bukan sekadar sikap sosial, melainkan ibadah dengan ganjaran langsung dari Allah. Pahala tersebut bahkan disebut secara khusus, menandakan betapa tinggi nilai perbuatan ini di sisi-Nya.

Selain Al-Qur’an, Rasulullah ﷺ juga menegaskan keutamaan memaafkan dalam hadisnya:

**وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا**

Artinya: *“Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba yang pemaaf kecuali kemuliaan.”* (HR. Muslim).

Hadis ini menepis anggapan bahwa memaafkan adalah tanda kelemahan. Justru sebaliknya, sikap pemaaf menjadi sumber kemuliaan, baik di hadapan manusia maupun di sisi Allah.

Meski demikian, penting untuk membedakan antara anjuran (mandub) dan kewajiban (wajib). Ulama besar seperti Wahbah Zuhaili menjelaskan bahwa memaafkan termasuk amalan yang sangat dianjurkan, tetapi bukan kewajiban mutlak. Dalam tafsirnya, ia menulis:

**العفو عن المسيء مندوب إليه ومرغّب فيه، لأن العفو من صفة الله تعالى، مع القدرة على الانتقام**

Artinya: *“Memaafkan orang yang berbuat salah adalah hal yang dianjurkan (mandub) dan sangat dianjurkan, karena memaafkan adalah sifat Allah Ta’ala, padahal Dia mampu untuk membalas.”*

Baca Juga :  Jadwal Sholat Kabupaten Bandung 18 April 2026: Waktu Lengkap & Tips Ibadah

Penjelasan ini menegaskan bahwa memaafkan adalah cerminan sifat Allah, yaitu Al-‘Afuww (Maha Pemaaf). Namun, karena statusnya anjuran, meninggalkannya tidak otomatis menjadikan seseorang berdosa besar, apalagi kafir.

Lebih jauh, dalam menafsirkan QS. Ali ‘Imran ayat 134, Wahbah Zuhaili menjelaskan tingkat spiritual orang yang mampu memaafkan:

**وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ أَيِ الَّذِينَ يَتَسَامَحُونَ وَيَعْفُونَ عَمَّنْ أَسَاءَ إِلَيْهِمْ مَعَ الْقُدْرَةِ عَلَى رَدِّ الِاعْتِدَاءِ…**

Artinya: *“Dan orang-orang yang memaafkan kesalahan orang lain, yaitu mereka yang bersikap lapang dan memberi maaf kepada orang yang berbuat buruk kepada mereka, padahal mereka mampu membalas. Itulah derajat pengendalian diri yang menunjukkan keluasan akal, kejernihan pikiran, kekuatan kehendak, dan keteguhan kepribadian.”*

Dari sini terlihat bahwa memaafkan adalah level tertinggi dalam pengendalian diri. Bahkan lebih tinggi daripada sekadar menahan amarah, karena memaafkan berarti menghapus dendam, bukan hanya menahannya.

Lantas, bagaimana dengan orang yang belum mampu memaafkan? Apakah ia berdosa besar atau bahkan kafir? Para ulama menegaskan bahwa tidak melakukan amalan yang dianjurkan tidak otomatis mengeluarkan seseorang dari Islam. Kekafiran memiliki kriteria yang jauh lebih serius dan spesifik.

Dalam kitab klasik, Sullamut Taufiq, dijelaskan bahwa kemurtadan terjadi melalui tiga jalur utama: keyakinan, perbuatan, dan ucapan. Di antaranya adalah:

* Keraguan terhadap Allah, Rasul, atau ajaran pokok Islam
* Mengingkari Al-Qur’an atau kerasulan Nabi
* Menghalalkan yang jelas haram atau sebaliknya
* Menyembah selain Allah
* Menghina Allah atau Rasul-Nya

Tidak memaafkan tidak termasuk dalam kategori tersebut. Artinya, seseorang yang belum mampu memaafkan tetap berada dalam koridor keimanan, selama tidak melakukan hal-hal yang membatalkan akidah.

Kesimpulannya, memaafkan adalah jalan menuju kemuliaan, bukan alat untuk menghakimi iman orang lain. Seseorang yang belum bisa memaafkan mungkin kehilangan keutamaan pahala, tetapi tidak kehilangan status keislamannya.

Baca Juga :  PERSIB U20 Menggila! PSIM Dibungkam Tiga Gol dalam 7 Menit

Meski demikian, Islam tetap mendorong umatnya untuk terus melatih diri menjadi pribadi yang pemaaf. Sebab, di balik sikap itu terdapat ketenangan jiwa, kedewasaan emosi, dan derajat tinggi di sisi Allah. Memaafkan bukan tanda kalah—melainkan bukti kekuatan batin yang sesungguhnya.

Pada akhirnya, setiap manusia memiliki batas. Namun, usaha untuk memaafkan adalah bagian dari perjalanan spiritual yang akan mengantarkan pada kedamaian dan kemuliaan. Wallahu a’lam.

@uli

Baca Berita Menarik Lainnya :