VISI.NEWS | MAGELANG – Kebuntuan panjang akhirnya pecah dalam waktu singkat—dan mematikan. PERSIB U20 menunjukkan wajah berbeda saat menaklukkan PSIM Yogyakarta dengan skor telak 3-0 pada lanjutan Grup B Elite Pro Academy Super League 2025/26 di Stadion Gemilang, Magelang, Sabtu, 11 April 2026.
Tiga gol itu datang bukan dalam tempo panjang, melainkan hanya dalam rentang tujuh menit di babak kedua—sebuah ledakan yang mengubah jalannya pertandingan secara drastis.
Sebelumnya, laga berjalan ketat. Kedua tim saling menahan, membangun serangan dengan hati-hati tanpa mampu menciptakan peluang bersih. PERSIB U20 sempat mendominasi penguasaan bola, namun rapatnya lini belakang PSIM membuat upaya demi upaya selalu kandas di sepertiga akhir lapangan.
Kebuntuan itu baru terpecahkan pada menit ke-61. Azka Fawwaz As Sayyid mencatatkan namanya di papan skor setelah memanfaatkan celah di lini pertahanan lawan. Gol itu bukan sekadar pembuka, melainkan pemicu runtuhnya organisasi permainan PSIM.
Empat menit berselang, tekanan PERSIB kembali berbuah hasil. Kali ini, bola justru masuk ke gawang PSIM akibat gol bunuh diri Rizky Al Rasyid Maulana pada menit ke-65. Situasi semakin tak terkendali bagi tim asal Yogyakarta itu.
Puncaknya terjadi pada menit ke-68. Deva Agung Budiyana memastikan kemenangan lewat gol ketiga yang sekaligus menutup pertandingan. Dalam waktu singkat, PERSIB U20 mengubah laga yang semula alot menjadi kemenangan meyakinkan.
Pelatih PERSIB U20, Sabrun Hanapi, menyebut kemenangan ini sebagai hasil dari konsistensi permainan timnya. Ia menilai para pemain mampu menjaga ritme dan disiplin hingga akhirnya menemukan celah.
“Pertandingan yang sulit, tapi bisa kita pecahkan berkat kerja sama dan konsistensi,” ujarnya usai laga.
Di balik kemenangan itu, ada satu nama yang mendapat sorotan khusus: Nazriel Alfaro Syahdan. Gelandang muda tersebut dinilai menjadi kunci keseimbangan permainan tim, terutama dalam membangun serangan dari lini tengah.
Kontribusinya terlihat jelas dalam proses gol pertama. Umpan dan visi bermainnya membuka ruang bagi Azka untuk mencetak gol pemecah kebuntuan. “Kontribusi Nazriel luar biasa. Ini yang kami harapkan bisa menular ke pemain lain,” kata Sabrun.
Tambahan tiga poin membawa PERSIB U20 ke posisi keempat klasemen sementara dengan 43 poin. Namun jarak dengan pemuncak klasemen, Borneo FC, masih cukup lebar—terpaut 13 poin dengan lima laga tersisa.
Secara matematis, peluang masih terbuka. Namun realitas di lapangan menunjukkan jalan yang tidak mudah. PERSIB harus menjaga konsistensi, sembari berharap tim-tim di atas terpeleset.
Kemenangan atas PSIM setidaknya memberi pesan: PERSIB U20 belum selesai. Dalam kompetisi yang panjang, momentum seperti ini bisa menjadi titik balik—atau sekadar jeda sebelum ujian berikutnya.
@uli