VISI.NEWS | KOTA BANDUNG – Pemerintah Kota Bandung melalui Dinas Cipta Karya, Bina Konstruksi, dan Tata Ruang Kota Bandung mengembangkan sistem Bandung Smart Map (BSM) Pro berbasis data geospasial untuk mendukung perencanaan tata ruang yang lebih terintegrasi dan akurat.
Pengembangan BSM Pro ditujukan untuk menyediakan akses informasi terkait zonasi wilayah, potensi lahan, serta referensi perencanaan pembangunan. Sistem ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, pelaku usaha, hingga investor dalam menentukan lokasi kegiatan secara tepat.
Kepala Bidang Tata Ruang Dinas Cipta Karya, Bina Konstruksi, dan Tata Ruang Kota Bandung, Deni Pathudin, menyampaikan bahwa BSM Pro merupakan pengembangan dari sistem sebelumnya yang telah digunakan sejak 2017.
“BSM Pro dirancang untuk mempermudah akses informasi spasial, mulai dari zonasi wilayah hingga potensi lahan,” ujar Deni Pathudin dalam keterangannya dikutip, Sabtu (18/4/2026).
Ia menjelaskan bahwa sistem tersebut terus mengalami pengembangan, dimulai dari BSM, kemudian BSM Plus, hingga menjadi platform yang lebih komprehensif dan terintegrasi dalam mendukung kebutuhan data tata ruang kota.
Selain sebagai sumber informasi, BSM Pro juga dimanfaatkan untuk membantu masyarakat memahami zonasi wilayah, termasuk zonasi pendidikan, serta menjadi acuan dalam perencanaan pembangunan dan investasi.
Namun demikian, pembaruan data dalam sistem tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan. Perubahan kondisi fisik kota yang berlangsung cepat, seperti pembangunan gedung baru dan perubahan fungsi bangunan, menjadi salah satu kendala utama dalam menjaga akurasi data.
“Perubahan di lapangan seringkali lebih cepat dibandingkan proses validasi data, sehingga pembaruan data harus dilakukan secara berkelanjutan,” ujar Deni Pathudin.
Selain itu, integrasi data antarinstansi juga masih menghadapi hambatan, terutama terkait perbedaan format data serta koordinasi antar lembaga yang berdampak pada proses penyatuan sistem informasi spasial.
Tantangan lainnya mencakup keterbatasan literasi digital aparatur di tingkat kewilayahan, yang memerlukan peningkatan kapasitas dalam pengelolaan data geospasial.
Untuk mengatasi berbagai kendala tersebut, Dinas Cipta Karya, Bina Konstruksi, dan Tata Ruang Kota Bandung melakukan sosialisasi serta roadshow ke perangkat daerah dan wilayah guna memperkuat pemahaman serta integrasi data.
Pemerintah Kota Bandung menargetkan terwujudnya kebijakan satu peta kota yang menyatukan seluruh data spasial sebagai dasar pengambilan keputusan pembangunan berbasis data.
Dalam proses pengembangannya, BSM Pro juga melibatkan kalangan akademisi, termasuk Institut Teknologi Bandung, serta partisipasi masyarakat dalam memperbarui informasi kondisi lapangan.
Melalui sistem ini, Pemerintah Kota Bandung berharap dapat meningkatkan transparansi tata ruang, mendorong partisipasi publik, serta mendukung pembangunan kota yang berkelanjutan berbasis data. @desi