Oleh Drajat
- Guru
- Doktor Ilmu Pendidikan
- Wasekjen Komnasdik
- Hipnoterapis Transformasi Indonesia
- Mindshaper Nusantara
- APKS PGRI Prov. Jabar
BEBERAPA tahun yang lalu, langkah-langkah kecil itu dimulai. Langkah kaki anak-anak. Langkah kaki yang ringan, tetapi penuh makna. Setiap pekan, kami menyusuri pinggiran Sungai Citarum. Tidak kurang dari lima kilometer. Bukan untuk rekreasi, bukan pula sekadar kegiatan seremonial. Kami datang membawa kantong-kantong sampah, sarung tangan seadanya, dan satu tekad sederhana: membersihkan, merawat, dan mencintai alam.
Kegiatan itu kami beri nama: Kelompok Anak Cinta Lingkungan. Nama yang sederhana, tetapi mengandung harapan besar. Apa yang paling membekas dari kegiatan itu? Bukan sekadar sampah yang terangkat. Bukan pula jarak yang ditempuh. Tetapi wajah-wajah bahagia anak-anak.
Mereka tertawa saat menemukan sampah plastik di sela bebatuan. Mereka saling menyemangati. Mereka bahkan dengan polosnya menyapa warga sekitar: “Bu, jangan buang sampah ke sungai ya…” Kalimat sederhana. Namun penuh keberanian dan kejujuran. Di mata mereka, alam bukan objek. Alam adalah sahabat. Sahabat yang harus dijaga. Sahabat yang tidak boleh disakiti.
Semangat itu tidak berhenti di sungai. Kami membawanya ke sekolah. Membersihkan kelas. Membersihkan halaman. Membersihkan saluran air yang sering kali tersumbat hingga menyebabkan lumpur masuk ke ruang belajar saat hujan datang. Dan lagi-lagi, sesuatu yang luar biasa terjadi. Anak-anak tidak mengeluh. Mereka justru menikmati. Mereka merasa memiliki. “Ini sekolah kami.”
Kalimat itu bukan sekadar ucapan. Ia adalah kesadaran. Kesadaran bahwa lingkungan bukan tanggung jawab orang lain. Tetapi tanggung jawab bersama. Namun di luar sana, realitas berbicara dengan nada yang berbeda. Ketika anak-anak belajar mencintai alam, orang dewasa justru sibuk mengatasnamakan pembangunan. Pegunungan diratakan. Hutan ditebang.
Sawah berubah menjadi beton. Semua atas nama: investasi, pendapatan daerah, dan demi kemajuan. Pertanyaannya sederhana: kemajuan untuk siapa?
Pembangunan atau Perusakan?
Tidak ada yang menolak pembangunan. Namun pembangunan yang mengabaikan keseimbangan alam bukanlah kemajuan. Ia adalah perusakan yang dilegalkan. Akibatnya sudah sangat jelas: banjir datang hampir setiap musim hujan, air meluap tanpa kendali, lumpur masuk ke rumah dan sekolah, dan juga masyarakat menjadi korban
Ironisnya, setelah bencana terjadi, para pemimpin muncul di depan. Dengan wajah penuh empati. Dengan pernyataan penuh kepedulian. Padahal… jika ditarik ke belakang, tidak sedikit dari bencana itu adalah buah dari kebijakan mereka sendiri.
Inilah yang perlu kita sebut dengan jujur: arogansi kekuasaan. Keputusan diambil tanpa mendengar alam. Kebijakan dibuat tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang. Yang penting: proyek berjalan, angka meningkat, sertajabatan aman. Bahkan tidak sedikit yang lebih sibuk memikirkan bagaimana tetap berkuasa di periode berikutnya, daripada memperbaiki kerusakan yang sudah terjadi. Dan di titik ini, kita melihat sebuah ironi besar: anak-anak belajar menjaga alam, sementara pemimpin justru merusaknya.
Anak-anak sebagai Cermin
Seharusnya, para pemimpin belajar dari anak-anak. Ya, belajar dari mereka. Dari ketulusan mereka saat memungut sampah. Dari kebahagiaan mereka saat melihat lingkungan bersih. Dari kesadaran mereka bahwa alam bukan untuk dieksploitasi, tetapi untuk dijaga. Anak-anak tidak bicara tentang kebijakan besar. Mereka tidak bicara tentang anggaran. Namun tindakan kecil mereka justru memiliki makna besar. Karena mereka melakukan sesuatu yang sering hilang dari dunia orang dewasa: kejujuran dan ketulusan.
Pengalaman ini juga mengajarkan bahwa pendidikan lingkungan tidak cukup diajarkan di buku. Ia harus: dirasakan, dilakukan, dan dihidupkan. Ketika anak-anak terlibat langsung, mereka tidak hanya memahami konsep. Mereka merasakan hubungan dengan alam. Dan dari situlah lahir karakter.
Sudah saatnya kita bertanya kembali: Apakah pembangunan yang kita lakukan hari ini masih memiliki nurani? Ataukah ia hanya menjadi alat untuk mengejar kepentingan sesaat? Pembangunan yang baik adalah pembangunan yang: menjaga keseimbangan, melindungi lingkungan, serta memperhatikan generasi mendatang Bukan pembangunan yang meninggalkan bencana.
Tulisan ini adalah pengingat. Bahwa di tengah kompleksitas kebijakan dan kepentingan, kita masih memiliki guru terbaik: anak-anak kita sendiri. Mereka mengajarkan: bagaimana mencintai tanpa pamrih, menjaga tanpa diperintah, dan bertanggung jawab tanpa menunggu
Jika para pemimpin mau belajar dari mereka, mungkin arah pembangunan akan berubah. Lebih manusiawi. Lebih bijak. Lebih berkelanjutan. Dan pada akhirnya, ketika suatu hari nanti generasi itu tumbuh dewasa, kita berharap mereka tidak mewarisi kerusakan. Tetapi mewarisi kesadaran. Bahwa menjadi manusia bukan hanya tentang membangun. Tetapi juga tentang menjaga kehidupan.**