Tempat Persemayaman Jenazah Mangkunegoro IX Lengang Karena Ada Larangan Takziah

Editor Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming, bersama para pejabat Forkopimda, ketika takziah ke istana Pura Mangkunegaran dan /visi.news/tok suwarto
Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Ruang persemayaman jenazah almarhum Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Mangkunagoro IX di Dalem Ageng yang merupakan ruang utama Istana Pura Mangkunegaran, pada Sabtu (14/8/2021) tampak lengang. Kursi-kursi tamu takziah yang ditata rapi dengan jarak renggang untuk protokol kesehatan, di Pringgitan depan Dalem Ageng juga kosong tidak ada abdi dalem yang beraktivitas.

Senyapnya suasana persemayaman jenazah pemegang tahta Kadipaten Pura Mangkunegaran yang mangkat di Jakarta, pada Jumat (13/8/2021) pukul 02.50 dinihari pada usia 70 tahun, disebabkan aparat keamanan dan Satgas Covid – 19 melarang masyarakat termasuk abdi dalem takziah ke Istana Mangkunegaran. Pihak Polresta Surakarta, Satgas Covid – 19 Kota Solo dan kerabat Mangkunegaran, minta masyarakat yang ingin memberikan penghormatan terakhir kepada almarhum KGPAA Mangkunegoro IX cukup memanjatkan doa dari rumah.

Karangan bunga ucapan ikut berdukacita yang memenuhi kawasan istana Mangkunegaran/visi.news/tok suwarto

Sementara itu, pada Sabtu pagi seusai upacara peringatan Hari Pramuka di halaman depan Balai Kota Solo, Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming, bersama sejumlah pejabat Forkopimda melakukan takziah. Kehadiran para petinggi Kota Solo di rumah duka Istana Mangkunegaran, diterima permaisuri Gusti Kanjeng Putri Mangkunagoro IX, bersama puteranya GPH Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo.

Jenazah almarhum KGPAA Mangkunegoro IX akan disemayamkan di Istana Mangkunegaran dua malam dan pada Minggu (15/8/2021) akan dimakamkan di pemakaman keluarga istana Pura Mangkunegaran, Astana Girilayu, Matesih, Kabupaten Karanganyar, sekira 25 kilometer arah timur Kota Solo.

Semula, rencananya jenazah penguasa Istana Pura Mangkunegaran tersebut hanya akan disemayamkan semalam dan akan dimakamkan pada Sabtu (14/8/2021). Namun, menurut pelaksana tugas (Plt) Pengageng Mondropuro Pura Mangkunegaran, Supriyanto Waluyo, dalam tradisi Jawa di lingkungan istana hari Sabtu tidak boleh untuk upacara pemakaman sehingga pelaksanaan pemakaman diundur pada Minggu (15/8/2021).

Baca Juga :  H. Kusnadi, "Jika Kaderisasi Partai Gagal, Politik itu Hanya akan Berkonotasi Uang"

“Dalam tradisi Jawa, hari Sabtu tidak boleh ada pemakaman. Itu sebabnya,
pemakaman akan dilaksanakan hari Minggu Pon, berangkat dari Pura Mangkunegaran pukul 10.00 WIB,” katanya kepada wartawan.

Selama masa perkabungan di Pura Mangkunegaran dan selama persemayaman jenazah, seluruh aktivitas di kawasan istana di jantung Kota Solo itu dihentikan. Bahkan, kata Supriyanto Waluyo, pekerjaan proyek revitalisasi istana Pura Mangkunegaran dari Kementerian PUPR juga dihentikan.

“Saya minta pekerjaan proyek berhenti dulu. Semua galian saluran di lingkungan istana supaya ditutup agar tidak mengganggu para tamu takziah,” jelas Supriyanto.

Akibat masyarakat dilarang takziah dan memberikan penghormatan terakhir ke istana, berbagai penjuru kawasan istana Pura Mangkunegaran sampai lapangan Pamedan penuh dengan karangan bunga ucapan ikut berdukacita.
Karangan bunga tidak hanya dari para pejabat tinggi negara, seperti Presiden Jokowi, Ketua DPR Puan Maharani dan para pimpinan DPR, pimpinan MPR, para menteri dan sebagainya. Namun banyak karangan bunga dari masyarakat biasa maupun komunitas dan organisasi, tetapi ada juga karangan bunga dari luar negeri, seperti dari seorang profesor Universitas Kyokushinkan Tokyo.

Simpati dari berbagai penjuru atas wafatnya pemegang tahta Kadipaten Pura Mangkunegaran yang semasa mudanya bernama Gusti Pangeran Haryo Sudjiwo Kusumo, menunjukkan almarhum KGPAA Mangkunegoro IX merupakan seorang raja yang dikenal luas.@tok

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

DUNIA ISLAM: Perempuan Afghanistan Khawatir Taliban Kembali Berkuasa

Ming Agu 15 , 2021
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Saat itu sore hari, Zahra, ibu, dan tiga saudara perempuannya sedang dalam perjalanan untuk makan malam di rumah saudara perempuan lainnya ketika melihat orang-orang berlarian dan mendengar suara tembakan di jalan. “Taliban ada di sini!” ujar orang-orang berteriak. Hanya dalam beberapa menit, segalanya berubah bagi penduduk Herat. […]