Tips Salat Khusyuk ala Syekh As Syadzili

Editor :
ilustrasi./euronews

Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Seseorang perlu membersihkan tautan-tautan pikiran sebelum salat. Dengan membersihkan tautan di luar salat tersebut, pikiran seseorang dapat lebih terkonsentrasi pada ibadah salat dan apa yang dibaca dalam salatnya. Setiap orang memiliki cara berbeda untuk mengatasi tautan pikiran di luar salat tersebut. Ada yang membaca Surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas sebelum salat. Ada juga orang yang berdiri tenang sebelum takbiratul ihram.

Ada juga yang mencukupkan diri dengan ta’awudz. Ada juga yang membaca ta’awudz, “Allāhumma innī a‘ūdzu bika min syaythānil waswasati Khanzabin” (3 kali) atau “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari setan yang ditugaskan meniupkan was-was di batin manusia, Khanzab” sebagaimana tersebut dalam Hasyiyatul Bujairimi alal Khatib.

فمن كثرت وسوسته في الصلاة فليستعذ بالله من الشيطان، ويقول اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِك مِنْ شَيْطَانِ الْوَسْوَسَةِ خَنْزَبٍ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فَإِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ

Artinya, “Siapa saja yang banyak was-was dalam salat, hendaknya ia berlindung kepada Allah dari gangguan bisikan setan dan berdoa, ‘Allāhumma innī a‘ūdzu bika min syaythānil waswasati Khanzabin’ (3 kali). Insya Allah, bisikan was-was tersebut dilenyapkan oleh Allah,” (Hasyiyatul Bujairimi alal Khatib).

Ada juga yang mengandalkan talafuzh atau pelafalan niat salat. Ada juga yang memilih penekanan lafal takbir pada takbiraul ihram. Walhasil, semua cara tersebut dilakukan untuk mengosongkan sementara batin dari tautan-tautan pikiran di luar salat.

Adapun berikut ini merupakan cara yang dianjurkan oleh Syekh Abul Hasan As Syadzili kepada para muridnya untuk mengusir was-was menjelang salat. Semua ini dapat diamalkan sebelum melakukan takbiratul ihram:

1. Meletakkan tangan kanan di dada.

2. Membaca:

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ الْخَلَّاقِ الْفَعَّالِ سَبْعَ مَرَّاتٍ

Baca Juga :  Ketua DPD Partai Golkar Sumedang Serahkan Bantuan bagi Korban Bancana Longsor Cimanggung

Subhānal malikil quddūsil khallaqil fa‘‘āl. (7 kali). Artinya, “Maha suci Penguasa, Zat yang suci, Sang Pencipta, Yang banyak berbuat.”

3. Lalu membaca: إنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيدٍ وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ بِعَزِيزٍ In yasya’ yudzhibkum wa ya’ti bi khalqin jadīd. Wa mā dzālika ‘alallāhi bi ‘azīz. Artinya, “Jika Dia menghendaki, Dia akan melenyapkan kamu dan menggantinya dengan makhluk yang baru. Yang demikian itu tidak berat bagi Allah,” (Surat Fathir ayat 16-17).

Keterangan ini dapat ditemukan pada Kitab Al-Fatawil Fiqhiyyatil Kubra, Kitab Hasyiyatul Bujairimi Alal Khatib, Kitab I‘anatut Thalibin, dan Kitab Nihayatuz Zain.

وكان الأستاذ أبو الحسن الشاذلي يعلم أصحابه لدفع الوسواس والخواطر الرديئة ويقول لهم من أحس بذلك فليضع يده اليمنى على صدره وليقل سبحان الملك القدوس الخلاق الفعال سبع مرات ثم يقل إن يشأ يذهبكم ويأت بخلق جديد وما ذلك على الله بعزيز يقول ذلك المصلي قبل الإحرام

Artinya, “Syekh Abul Hasan As Syadzili mengajarkan para muridnya untuk mengusir was-was dan pikiran-pikiran buruk. Ia mengatakan kepada mereka, ‘Siapa saja yang merasakan demikian, hendaknya ia meletakkan tangan kanan pada dadanya dan berdoa, ‘Subhānal malikil quddūsil khallaqil fa‘‘āl’ (7 kali), lalu meneruskan bacaannya ‘In yasya’ yudzhibkum wa ya’ti bi khlaqin jadīd. Wa mā dzālika ‘alallāhi bi ‘azīz.’’

Doa ini dibaca oleh orang yang salat sebelum takbiratul ihram,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Nihayatuz Zain, [Bandung, Al-Maarif: tanpa tahun], halaman 57).

Pada Kitab Al-Fatawil Fiqhiyyatil Kubra, Ibnu Hajar Al-Haitami mengutip redaksi berbeda dari Syekh As-Syadzili yang mengatakan, “Siapa saja yang dihinggapi banyak was-was, hendaknya membaca, ‘Subhānal malikil quddūsil khallaqil fa‘‘āl’, In yasya’ yudzhibkum ay a’ti bi khlaqin jadīd. Wa mā dzālika ‘alallāhi bi ‘azīz. Adzhaballāhu ‘annā sā’iral madhārri wal makhāwifi wal fitani, wa anālanā kulla khuluqin hasanin, wa ja‘alanā min ahli wilāyati ahlin ni‘ami wal minani. Innahū ‘alā mā yasyā’u qadīrun. Wa bil ijābati jadīrun.’

Baca Juga :  Pesantren Jadi Kluster Covid-19 Bukan Aib, Tak Boleh Menyerah!

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ الْخَلَّاقِ الْفَعَّالِ إنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيدٍ وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ بِعَزِيزٍ أَذْهَبَ اللهُ عَنَّا سَائِرَ المَضَارِّ وَالمَخَاوِفِ وَالفِتَنِ وَأَنَالَنَا كُلَّ خُلُقٍ حَسَنٍ وَجَعَلَنَا مِنْ أَهْلِ وِلَايَةِ أَهْلِ النِّعَمِ وَالمِنَنِ إِنَّهُ عَلَى مَا يَشَاءُ قَدِيْرٌ وَبِالإِجَابَةِ جَدِيْرٌ

Demikian cara yang dianjurkan oleh Syekh As-Syadzili kepada para muridnya. Wallahu a’lam.@mpa/nu.or.id

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Kisah Khalifah Umar bin Khattab Menolak Gratifikasi

Sab Feb 6 , 2021
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Selain dikenal keberanian dan ketegasannya dalam memimpin, Sayyidina Umar bin Khattab juga pemimpin ramah dan jujur. Sehingga ia tegas menolak terhadap praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme bahkan gratifikasi. Suatu malam utusan dari Azerbaijan datang ke kota Madinah untuk menjumpai Amirul Mukminin Umar bin Khattab. Namun, karena hari […]