VISI.NEWS | BANDUNG – Para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kota Bandung dan Cimahi mengalami kesulitan saat memasuki tahun politik 2024. Mereka menghadapi penurunan signifikan dalam jumlah pesanan dan pembeli dibandingkan sebelum periode ini.
Salah satu contohnya adalah Robi, 35 tahun, yang menjalankan usaha pengrajin sepatu di Cibaduyut, Bandung. Sejak awal tahun 2024, bertepatan dengan musim Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Legislatif (Pileg), pesanan Robi mengalami penurunan drastis. Biasanya, ia menerima hingga ratusan pasang sepatu dalam seminggu, tetapi sekarang jumlahnya jauh berkurang.
“Bisa nyampe ratusan kalau pas tahun-tahun kemarin mah, tapi tahun ini mah menurun. Tahun poliik juga kan sekarang, mungkin faktornya itu, enggak tahu (pembeli) pada kemana,” kata Robi saat ditemui rumah produksi sepatu kawasan Cibaduyut, Kota Bandung, Sabtu (2/11/2024).
Ia menyatakan bahwa jumlah pekerja di tempatnya telah berkurang, dari lebih dari sepuluh orang kini hanya tinggal dua. Penurunan ini terjadi akibat berkurangnya pesanan sepatu, sehingga ia terpaksa mengurangi jumlah karyawan yang merupakan penduduk setempat.
“Ya itu mah resiko, yang ikut kerja disini juga sudah pada paham. Tapi kalai pesanan rame lagi, kita panggil lagi mereka. Karena rata-rata yang bantuin ikut kerja disini, orang-orang sini,” ungkapnya.
Hal serupa juga disampaikan oleh Yayat Hidayat, 73 tahun, seorang pelaku UMKM keripik pedas di Pojok, Kota Cimahi. Dia mengungkapkan bahwa ia dan beberapa pegawainya yang biasanya sibuk di pagi hari kini terlihat tidak memiliki banyak pekerjaan.
Yayat mengungkapkan bahwa penurunan jumlah pembeli dan pesanan telah terjadi sejak awal tahun. Ia juga berusaha berkomunikasi dengan pelaku UMKM lain yang mengalami situasi serupa dalam usaha mereka.
“Jadi bukan hanya disini saja, beberapa tempat juga saya sempat ngobrol, sama emang lagi turun tahun ini teh,” ujar Yayat.
Yayat menceritakan bahwa sebelumnya usahanya dapat beroperasi penuh setiap minggu karena tingginya permintaan dan jumlah pembeli untuk keripik pedas yang ia produksi. Namun, kini ia hanya dapat memproduksi keripik selama tiga hingga empat hari dalam seminggu akibat berkurangnya pembeli dan pesanan.
“Dulu mah mau libur sehari aja susah, karena tiap hari produksi banyak yang pesan. Sekarang mah paling produksi empat hari, sisanya libur,” ucap Yayat.
Yayat mengakui bahwa kondisi tersebut berdampak signifikan terhadap pendapatannya. Jumlah pekerja yang awalnya lebih dari 100 orang kini hanya tersisa puluhan, akibat berkurangnya aktivitas usaha.
“Dulu mah rata-rata semua warga disini ikut kerja, bungkusin keripik pada dibawa ke rumah, yang masak juga banyak. Kalau total dulu lebih dari 100 orang ikut kerja dan rata-rata warga disini semua,” ungkapnya.
Selain itu, Yayat juga harus mencari solusi akibat kenaikan harga bahan baku, seperti singkong dan minyak goreng. Ia berharap situasi ini segera membaik, yang ia anggap sebagai dampak dari tahun politik yang sedang berlangsung.
“Iya kayanya sekarang kan tahun politik, karena kerasa pisan dari awal tahun sepi yang beli sama yang pesen. Mudah-mudahan beres tahun politik kembali normal,” tandasnya. @ffr